DIASPORA NIAS

Cerita Ansih dari Iowa (Bagian 1)

0
898
Ansih bermain di halaman belakang rumah orangtua asuhnya di Iowa, AS. —Foto: Dokumentasi Pribadi

Pengantar Redaksi: Anda tentu masih ingat Erza Lasoturia Anansih Mendröfa. Dia adalah putri Nias kelahiran Cimahi, Jawa Barat, yang terpilih menjadi salah satu siswa peserta pertukaran pelajar ke Negara Bagian Iowa, Amerika Serikat. Saat keberangkatannya ke AS, ia mendapat banyak dukungan dari masyarakat Nias di seluruh Tanah Air. Sejumlah dana dikumpulkan untuk mendukung keberangkatan Ansih. Ansih berkesempatan berbagi cerita kepada kita lewat esai berikut ini dan beberapa tulisan lainnya. Semoga tulisan ini bisa menginpirasi anak-anak Indonesia, terutama anak-anak Nias. Redaksi sengaja tidak mengedit bahasa-bahasa asing agar karakter penulis bisa lebih terlihat.


Sudah hampir lima bulan semenjak saya tiba di Amerika Serikat (It means its already a half of my exchange year before I comeback to Indonesia) Time flies right? Semuanya berlalu begitu cepat. Di sini saya belajar untuk menjadikan setiap hari saya spesial. Karena ini hanya 10 bulan in my life, being an exchange student in another country. Yang dulunya hanya coba-coba (bukan berarti saya main-main dalam seleksi pertukaran pelajaran ini, tapi saya hanya mengandalkan hati kecil saya untuk membuat keputusan tanpa mengetahui ke depannya seperti apa dan tanpa memiliki destination yang jelas. Saya hanya berserah pada-Nya hingga sekarang bisa tiba di negara yang dulunya hanya saya lihat di layar TV dan kata orang negara adikuasa di dunia.

It’s just like a dream. Terharunya, setelah saya ingat-ingat lagi perjuangan dulu, entah kenapa selalu ada jalan terbuka, mulai dari seleksi berkas yang ribet juga test yang bisa dibilang prosesnya setahun, hingga persiapan yang bukan main, banyak orang yang peduli membantu saya.

Okay, now I would like to share my story here. Pernah tidak membayangkan tinggal di lingkungan bersama keluarga yang kita tidak ketahui sama sekali. Ya, itulah yang saya rasakan. Belajar beradaptasi dengan segala yang baru, keluarga (host family), lingkungan tetangga, sekolah, pertemanan, budaya, makanan, cuaca. Everything, like literally EVERYTHING, is DIFFERENT. Dan, kuncinya adalah open minded.

Kalau misalnya kita keras kepala dan menolak hal hal baru, saya tidak jamin bisa bertahan bahkan untuk waktu seminggu sekalipun. Di sini walaupun kita tidak kenal, akan tetap saling sapa “hi” or “good morning” or “how was your day”, nice yah. Beruntungnya saya memang senang dengan hal akrab seperti itu.

Kemudian belajar manage money. Di sini tidak menggunakan seragam, jadi kesekolah menggunakan baju bebas. Sebagai seorang exchange student yang bawa baju terbatas, mengimbangi teman-teman perempuan yang superstylist at school, kita harus pintar-pintar membedakan mana keperluan dan keinginan tentunya.

Kemudian sekarang saya lebih mengenal diri saya dan passion yang saya miliki, terutama melalui kegiatan volunteer yang saya lakukan. Kami wajib mengerjakan kegiatan sukarela, and guess what? I really enjoy it! Di sini banyak sekali orang dan organisasi yang mengerjakan kegiatan rutin untuk sosial tanpa dibayar, alasannya simple, dengan melakukan itu mereka merasa puas. Seperti mengadopsi anak, menyediakan makanan, menyumbangkan baju, kegiatan untuk anak-anak dan lansia adalah yang umum terjadi setiap hari. Saya belajar mengenai rendah hati dan berbagi.

Belajar lebih mandiri lagi, exchange student tidaklah seperti kelihatannya, semuanya menyenangkan dan bahagia seperti liburan. Tentu saja ada saatnya kita down, ketika kita pikir tidak ada yang bisa mengerti kita atau sebaliknya tak ada yang bisa kita mengerti, atau merasa untuk apa saya membuang waktu saya di sini dan mengulang setahun di Indonesia, merindukan kenangan Tanah Air (we trained to be more tough). Trust me! that happen. Bukannya saya sok kuat, saya sudah terbiasa dengan hal jauh dari keluarga atau teman teman sekitar, tapi itu tetap terjadi pada saya.

Ketika kita datang ke sekolah yang bahasanya berbeda dan kita tidak kenal satu pun anak-anaknya, kebetulan saya satu-satunya foreign exchange student di host school saya. Jadi, benar-benar harus mampu sendiri (of course mereka membantu), tetapi semuanya bermula dari diri sendiri, bagaimana kamu berusaha belajar dengan benar di sekolah, berusaha berteman, dan mempresentasikan negara kita. Membuat dunia tahu tentang Indonesia. Faktanya, orang lebih tahu Bali daripada Indonesia di sini, di Iowa. Jadi, segala sikap yang kita tampilkan akan menunjukan Indonesia.

Hal yang paling penting yang saya pelajari di sini adalah bagaimana orang menghargai waktu. Siswa tidak akan boleh keluar kelas walaupun waktunya tinggal satu menit, kelas akan dipotong kalau memang sudah bel. Aku punya delapan kelas berbeda tiap hari (satu kelas hanya 45 menit), tapi kelas pembelajarannya benar-benar efektif (tidak ada istilah ngaret atau toleransi 5 menit).  Orang-orang di sini bergerak sangat cepat. Contoh lainnya adalah ketika host parents saya bilang, “We will go to the store in 7 minutes” dan itu benar benar terhitung 7 menit kemudian berangkat (kalau biasanya, kita di Indonesia, dibulatkan ke 10 menit, benar?)

Jadi itulah pengalaman saya selama lima bulan ini. Masih ada lima bulan ke depan dan saya percaya masih banyak hal baru yang akan saya pelajari dan bagaimana saya menghadapinya.

Semangat, trust yourself, hargai orang orang yang menyayangimu, belajar keluar dari comfort zone, there be a wayout!!!!! [Erza Lasoturia Anansih Mendröfa]