WAWANCARA

Adrianus Aroziduhu Gulö: Saya Awali dan Akhiri dengan Baik

0
1417

Dalam setiap pertandingan, selalu ada yang kalah dan menang. Tak terkecuali dalam ajang rivalitas dalam memenangi Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) 2015 di Nias Barat. Dua pasangan yang maju di Nias Barat, pasangan Faduhusi Daely-Khenoki Waruwu dan pasangan Adrianus Aroziduhu Gulö-Oneyus Halawa, saling bersaing memperebutkan hati masyarakat pada 9 Desember 2015. Setelah pemungutan suara, Komisi Pemilihan Umum Daerah Nias Barat pun menetapkan pasangan Faduhusi-Khenoki menjadi jawara.

Melihat fakta tersebut, pasangan Adrianus-Oneyus pun memilih tidak melakukan gugatan terhadap ketetapan KPU Nias Barat ke Mahkamah Konstitusi. “Masyarakat Nias Barat telah memilih pemimpinnya. Kita harus hormati pilihan tersebut,” ujar Adrianus beberapa waktu setelah penetapan pemenang Pilkada oleh KPU kepada Kabar Nias. Saat itu, Adrianus yang masih menjabat sebagai Bupati Nias Barat menyatakan tidak akan menggugat ke MK. Alasan utamanya, pasangan Adrianus-Oneyus memahami aturan KPU yang mengatur terkait prasyarat gugatan ke KPU, terutama selisih suara yang terpaut lebih dari 2 persen.

Setelah tiba pada masa akhir jabatannya, pada 14 April 2016, Adrianus pun menyerahkan roda pemerintahan Kabupaten Nias Barat kepada Zemi Gulö, Sekretaris Daerah, yang ditunjuk oleh Plt Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi sebagai pelaksana harian Bupati Nias Barat. Secara sederhana, di ruang kerjanya, serah terima jabatan pun dilaksanakan.

Setelah tidak menjabat, Adrianus Aroziduhu Gulö mengaku dirinya sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga, serta bersosialisasi dan kembali ke habitatnya, yakni bersekutu dengan umat yang lain di rumah ibadah. Selain itu, mantan anggota TNI Angkatan Darat ini juga kini sibuk mempersiapkan dua bukunya yang akan segera diterbitkan.

Berikut ini Adrianus yang akrab dikenal dengan panggilan Ama Agnes ini berkenan membeberkan tentang perasaannya serta apa saja aktivitasnya lewat perbincangan dengan Kabar Nias di sebuah hotel di bilangan Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Bagaimana perasaan Bapak setelah menjalankan tugas sebagai kepala daerah di Nias Barat selama lima tahun dan berakhir pada 14 April 2016 yang lalu?

Selama lima tahun menjadi bupati dan bisa menyelesaikan hingga akhir masa jabatan, perasaan saya, saya sangat bersyukur kepada Tuhan. Selama saya bertugas, Dia sudah membibing, menuntun, dan menolong saya sehingga saya mampu melaksanakan tugas berdasarkan ketentuan dan peratuaran yang ada.

Kemudian saya bersyukur, selama lima tahun saya tidak pernah sakit keras. Ya, pernah sakit biasa, sekadar meriang dan demam, itu wajar-wajar saja. Saya juga bersyukur kepada Tuhan, saya dilindungi sehingga saya tidak tersangkut dengan masalah-masalah hukum.

Namun, selama lima tahun kepemimpinan saya bersama Wakil Bupati Hermit Hia pasti ada kekurangan-kekurangan. Pasti ada saja yang kurang puas, kecewa. Apa yang kami buat terserah masyarakat menilainya.

Intinya, kebahagian, kegembiraan, dan kesenangan saya adalah saya memulai bekerja dengan baik selama lima tahun dan saya mengakhiri dengan baik. Itu yang membuat sangat senang.

Hal itu saya rasakan ketika menyampaikan sambutan pada serah terima dengan pelaksana harian Zemi Gulö, saya terharu dan sedikit emosional karena saya begitu bersyukur kepada Tuhan. Sejak itulah saya merasa lega dan plong hingga sekarang.

Dalam kesempatan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat Nias Barat, kepada para tim sukses, dan siapa pun yang selama ini telah membantu. Saya hanya ucapkan terima kasih. Mari kita membangun Nias Barat dengan cara kita masing-masing dengan kapasitas yang kita miliki.

Apa yang Bapak ingin sampaikan kepada pemerintahan baru di Nias Barat?

Tentu saya sebagai pribadi dan keluarga mengucapkan selamat atas pelantikan yang dilakukan beberapa waktu lalu. Kita akan mendukung kepemimpinan yang baru ini. Ketika kami tidak menggugat ke MK, sebenarnya itu sudah jadi bukti bahwa pasangan terpilih ini mendapat dukungan dari kami.

Jika dibandingkan dengan kami awal-awal bertugas dulu, kondisi Nias Barat berada di posisi minus. Itu harus diakui ketika itu. Sejak kami dilantik pada 13 April 2011, benar-benar apa yang kami rasakan bukan hanya dari nol tetapi minus. Semua SKPD harus menyewa rumah penduduk untuk berkantor. Pemerintah yang baru ini mungkin bisa dikatakan barada di tataran nol atau ada di angka 1.

Jadi, kepada Pak Faduhusi Daely dan Khenoki Waruwu, kita doakan agar bisa membangun Nias Barat sesuai dengan visi-misi mereka yang sudah disampaikan saat kampanye, antara lain membuat Nias Barat Berdaya.

***

Saat perbincangan dengan Kabar Nias, Ama Agnes sedikit mencurahkan unek-uneknya ketika dia masih menjabat sebagai Bupati pasca Pilkada 9 Desember 2015. Ia sedikit kecewa dengan cara-cara yang dilakukan oleh tim transisi yang dibentuk oleh pasangan terpilih tanpa sedikit pun berkonsultasi dengan dirinya sebagai petahana saat berkomunikasi dengan para kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD).

“Sebagai manusia, tentu saat itu saya begitu kecewa. Saya hanya mempertanyakan etika pemerintahan di mana. Seharusnya tim transisi itu bisa memanggil SKPD saya dengan terlebih dahulu berkonsultasi dengan saya sebagai bupati. Sekali lagi ini hanya soal etika saja,” kata Adrianus.

Meskipun begitu, Adrianus menganggap itu sudah berlalu dan ia berharap semua itu menjadi pembelajaran ke depan. Pemerintah daerah harus bisa mempertontonkan etika berpolitik yang baik kepada masyarakat.

***

Di Media Sosial, Bapak banyak di-bully. Bagaimana Bapak menanggapi hal itu?

Pertama, saya tidak menggunakan media sosial, seperti Facebook atau Twitter. Saya mengetahui status-status menyerang di Facebook itu dari teman-teman dan anak saya. Namun, saya bilang, hal itu tidak usah direspons. Semakin direspons akan semakin liar.

Kedua, soal fitnah dan serangan-serangan itu, saya sudah terbiasa dan sama sekali saya tidak terpengaruh. Mental saya sudah ditempa sejak kecil hingga saya masuk militer. Jadi, soal serangan-serangan di Facebook itu termasuk hal yang kecil dan biasa saja.

Ketiga, dari informasi yang saya dengar, para “penyerang” di media sosial itu adalah masih seumuran dengan anak-anak saya, atau masih adik-adik saya. Tak ada yang seumuran dan atau lebih tua dari saya. Karena mereka masih adik-adik saya, saya anggap, hal yang wajar mereka mengingatkan abangnya.

Saya tidak ada niat untuk membawa hal ini ke ranah hukum karena tadi itu, mereka adalah anak-anak saya dan adik-adik saya.

Hanya, permintaan saya, mari kita hentikan semua fitnah dan serangan-serangan yang tidak ada untungnya itu. Secara materi dan spritual, fitnah dan serangan-serangan itu tak menguntungkan.

Sekarang apa saja aktivitas Bapak?

Setelah saya tidak menjabat lagi sebagai bupati pada 14 April 2016, kegiatan saya yang pertama adalah ya merapikan rumah yang sudah acak acakan karena selama ini sering ditinggal, membersihkan pekarangan, merapikan rak buku yang sudah berserakan.

Selama ini rumah kami hanya ditinggal anak pertama saya. Jadi, saya ambil waktu untuk bersih-bersih rumah sembari berolahraga. He-he.

Intinya saya tetap beraktivitas untuk hal-hal yang positif. Kini saya juga sedang dalam proses merampungkan dua buku baru saya. Saya ingin pengalaman saya menjadi pemimpin di daerah bisa tercatat sebagai kenang-kenangan dan pembelajaran bagi anak cucu saya serta bagi orang lain yang ingin mengetahuinya.

Dalam buku itu saya akan mencoba mengungkapkan apa pun pengalaman saya, baik gembira dan sedih. Jadi, tunggu saja buku saya ini akan melengkapi dua buku saya sebelumnya.

***

Seperti diketahui, saat masih menjabat sebagai Bupati Nias Barat, Adrianus telah menelurkan dua buku. Satu buku autobiografi yang berjudul AAG Anak Desa Terpencil yang Menjadi Bupati yang ditulis oleh Apolonius Lase (Baca: Sanggar Ondröita Meriahkan Peluncuran Buku Adrianus A Gulö) dan Lima Tahun yang Menantang (Baca: AA Gulö Tulis Buku “Lima Tahun yang Menantang”).

Sejauh ini, dalam sejarah pemerintahan daerah di Pulau Nias, baru Adrianus Aroziduhu Gulö yang telah menuliskan buku untuk menjadi warisan bagi generasi selanjutnya serta menambah khazanah literasi di Pulau Nias.

Adrianus memilih tidak mengungkapkan judul dari buku yang akan segera diterbitkannya. “Mohon doa restu saja. Buku ini juga merupakan ungkapan terima kasih saya kepada para teman-teman yang dulu pernah bekerja sama selama menjabat,” kata Adrianus.

 

BAGIKAN
Berita sebelumyaFaduhusi Daely: Kami Siap Buktikan Janji-janji Kami
Berita berikutnyaIni 12 Program Prioritas Pemerintah Kota Gunungsitoli
Apolonius Lase
Lahir di Desa Hiligara, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli. Saat ini berdomisili di Jakarta. Bekerja di harian Kompas sejak 1996. Menyukai hal-hal tentang bahasa, termasuk bahasa Nias. Sebuah kamus, "Kamus Li Niha (Nias Indonesia)" telah diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2011). Menulis dan menyunting beberapa buku biografi. Menjadi narasumber di beberapa diskusi, lokakarya, dan seminar terkait kebahasaan dan jurnalistik. | Twitter: @apollolase; E-mail: apollolase@gmail.com