KABAR DARI ROMA

Pengalaman Pertama Merayakan Malam Paskah Bersama Paus Fransiskus

0
33

Perayaan Malam Paskah biasanya diawali dengan liturgi cahaya. Saat perarakan masuk gereja atau basilika tak ada lampu menyala, gereja gelap gulita. Kemudian lilin Paskah dinyalakan oleh pemimpin perayaan dengan berkata: “Semoga Cahaya Kristus yang bangkit mulia menghalau kegelapan hati dan budi kita”.

Pastor Postinus Gulö OSC foto bersama dengan seorang Tentara Pengawal Sri Paus, Guardia Svizzera Pontificia, Sabtu Malam (15/4/2017) sesaat sebelum Perayaan Malam Paskah. Foto: Pastor Andre Pr.

Dari lilin Paskah yang diarak Paus kemudian dinyalakan lilin kecil yang dipegang seluruh umat. Gereja pun menjadi terang-benderang. Kristus yang bangkit disimbolkan dengan cahaya yang menerangi dunia. Yesus mengalami kematian dan kegelapan di dalam makam. Kini, Yesus bangkit, Ia mengalahkan kekuatan dunia. Ia bangkit bukan untuk membalas dendam, tetapi menerangi semua orang, memberi harapan baru!

Konselebrasi bersama Paus

Pada tahun 2017 ini, untuk pertama kalinya saya mendapat kesempatan merayakan misa bersama Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus Vatikan, Sabtu, (15/04/2017 malam). Selain saya ada ratusan imam dari berbagai negara turut berkonselebrasi bersama Paus di altar kepausan. Kami para imam dan uskup (konselebran) serta Paus (selebran) dengan antusias memasuki Basilika Vatikan.

Ribuan umat dan biarawan-biarawati memadati Basilika. Mereka datang dari berbagai negara dari penjuru dunia. Jurnalis berbagai media pun berlomba mengabadikan momen yang hanya terjadi sekali dalam setahun itu.

Tidak hanya pada Malam Paskah saya punya kesempatan berkonselebrasi bersama Paus Fransiskus. Pada Misa Krisma, Kamis (13/4/2017) bersama ratusan pastor, saya juga ikut perayaan Ekaristi di Basilika Santo Petrus Vatikan. Selain memberkati minyak suci yang dipakai untuk pembaptisan, pengurapan orang sakit dan sakramen krisma, Paus juga memimpin pembaharuan janji para imam.

Mengabadikan kesempatan berkonselebrasi di Basilika Santo Petrus pada Misa Krisma, Kamis (13/4/2017). Foto: Pastor Rosaryanto OSC.

Kesempatan berkonselebrasi dengan Paus suatu berkat Paskah untuk saya, mimpi yang telah lama saya rindukan kini menjadi kenyataan. Tidak selalu mudah ikut berkonselebrasi bersama Paus. Kami mesti memesan tiket jauh-jauh hari sebelumnya, minimal satu bulan sebelum perayaan Malam Paskah. Selain itu, kami mesti punya kartu imam yang disebut “celebret”. Panitia perayaan mesti mengetahui jumlah imam konselebran sesuai kapasitas altar kepausan di dalam Basilika Santo Petrus, Vatikan.

Apa buktinya Anda Pengikut Kristus?

“Kristus dibangkitkan dalam diri orang-orang yang kehilangan mimpi dan martabat”. Kalimat itu ditegaskan Paus Fransiskus dalam homilinya. Maria Ibu Yesus dan Maria Magdalena adalah contoh perempuan yang telah kehilangan mimpi dan martabatnya. Mereka lelah dalam kebingunan. Mereka menunggu Yesus di kuburan dengan wajah pucat berlinang air mata.

Pada zaman kita ini pun, kata Paus, kita masih menemukan begitu banyak ibu tua-muda, anak-anak dan orang-orang muda yang menanggung beban dan rasa sakit ketidakadilan yang tidak manusiawi. Penderitaan itu datang dari tindakan egois sesama manusia, dari penghinaan terhadap imigran, anak-anak yatim piatu yang kehilangan hak asuh dan korupsi yang merajalela di berbagai birokrasi. Keegoisan manusia itu telah mengubur harapan banyak orang.

Paus kemudian menegaskan bahwa jika Anda yang hadir dalam perayaan Malam Paskah kali ini melakukan hal yang sama, itu berarti Anda bukan seorang pengikut Kristus karena Anda melakukan hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Paus hendak menyatakan bahwa bukti bahwa kita sebagai pengikut Kristus adalah menentang ketidakadilan dan berjuang menjadi perpanjangan tangan Allah untuk belaskasihan terhadap mereka yang tertindas.

Paus menegaskan bahwa makna Paskah untuk kita adalah berani pergi ke “makam”, ke tempat penuh derita. Kemudian kita mesti keluar dari sana. ‘Makam’ adalah realitas keseharian kita yang penuh derita dan berbagai tantangan lainnya. Berita kebangkitan Yesus memberi harapan baru bagi Maria Ibu Yesus dan Maria Magdalena. Kemudian mereka mewartakannya kepada para murid dengan antusias. Perempuan yang dipandang lemah dan tak punya status sosial justru merekalah yang pertama menerima kabar kebangkitan Yesus.

Paskah kebangkitan Kristus tidak saja memberi harapan, tetapi juga sukacita yang menghilangkan kelelahan dalam keputusasaan. Anda telah merayakan Paskah jika Anda sendiri menjadi cahaya bagi yang lain. Kita telah menerima Paskah Tuhan Yesus jika kita sendiri mau memperbarui diri dalam pertobatan tanpa henti. Jadilah agen perdamaian agar tindakan itu menjadi cahaya yang menaklukkan kegelapan akibat ketidakadilan. Selamat Paskah, Tuhan Yesus memberkati. Alleluya!