KEHIDUPAN

Motif Siswi Kelas X SMA Negeri 1 Sirombu Bunuh Diri Belum Diketahui

0
33
Tangisan keluarga korban pecah saat melihat tubuh Mercy Four Ekawati Putri Gulö terbujur kaku di Puskesmas Sirombu. —Foto: Aminudin Hia

SIROMBU, KABAR NIAS — Mercy Four Ekawati Putri Gulö (16), siswi kelas X SMA Negeri 1 Sirombu, meninggal karena diduga mengonsumsi obat tablet merek Riboquin, Kamis (20/4/2017), pukul 07.55. Hingga kini, motif bunuh diri ini masih diselidiki pihak kepolisian.

Warga Desa Hilisörömi, Kecamatan Moro’ö, Kabupaten Nias Barat, itu—saat pelajaran mau dimulai—sempat mengatakan bahwa ia ingin mati saja. Namun, pernyataan itu dianggap sebagai gurauan oleh teman-temannya.

Upaya bunuh diri ini baru diketahui oleh teman sekelasnya setelah korban mulai muntah-muntah di ruang kelas. Melihat kejadian tersebut, pihak sekolah membawa korban ke Puskesmas Sirombu untuk mendapatkan pertolongan. Akan tetapi, nyawa korban tidak bisa tertolong lagi. Ia menghembuskan napas terakhirnya.

YH (16), dan SH (16), teman kelas korban, menuturkan saat ditanya oleh anggota Kepolisian Sektor Sirombu, Sophani Daeli, di ruang IGD Rawat Inap Puskesmas Sirombu, setibanya mereka di Sekolah dan bertemu dengan korban, ia mengatakan bahwa ia ingin mati, tetapi mereka tidak menanggapi perkataan itu karena di perkirakan hanya guyonan.

”Saat itu pas bunyi bel masuk untuk memulai kegiatan proses belajar mengajar, kami ketemu dengan korban. Akan tetapi, ungkapannya bahwa ia ingin mati itu kami tidak tanggapi. Kami pikir dia bercanda. Kemudian setelah kami masuk di kelas, kami melihat ia duduk menundukkan kepalanya di atas meja,” ujar kedua saksi ini.

Melihat teman semejanya itu duduk dan menundukkan kepala, YH menanyakan kondisinya. Saat itu korban tidak menjawab. Sesaat kemudian ia langsung muntah. Kondisi Mercy itu langsung disampaikan YH kepada guru. Menurut YH, korban adalah pribadi yang tertutup.

“Dia jarang sekali mau cerita tentang dirinya. Ia tertutup. Setahu kami dia tidak tinggal bersama keluarganya, tetapi ngekos di salah satu rumah dekat sekolah,” ujar YH.

Selama ini, Mercy tinggal indekos di rumah warga Arwadi Gulö, di perumahan Red Cross I Sirombu.

Overdosis

Berdasarkan pemeriksaan tim medis Puskesmas Sirombu, Mercy meninggal akibat overdosis. Dokter Wira Gulö mengatakan, di tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda bekas penganiayaan.

“Dengan melihat gejala penyakit yang diderita Mercy ini kami duga ini bunuh diri dengan mengonsumsi obat yang berlebihan. Dari hasil pemeriksaan kami, Mercy meninggal akibat overdosis. Kami tidak menemukan tanda-tanda adanya penganiayaan atau tindak kekerasan yang mengakibatkan kematian di tubuh korban,” ujarnya.

Akan tetapi, kata dr Wira, pihaknya menemukan tiga papan obat malaria berupa tablet Riboquin dalam tas korban. Motif bunuh diri terus digali Polsek Sirombu dengan mengambil keterangan sejumlah saksi, termasuk keluarga korban.

Pihak keluarga terlihat sangat terpukul atas kejadian ini. Di puskesmas, saat keluarga datang, tangis histeris pecah. Ayah korban, yang belum bisa ditanyai Kabarnias.com, tidak bisa menahan kesedihannya.

Dalam diskusi di media sosial terkait perilaku nekat ini disimpulkan, peran guru di sekolah, terutama guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP), sangat dibutuhkan untuk bisa membangun komunikasi dengan anak didik. Guru BP sebaiknya bisa menjadi tempat yang nyaman bagi setiap siswa untuk bisa mencurahkan isi hati mereka sehingga merasa ada yang mau mendengarkan mereka.

Orangtua juga harus terus membangun hubungan yang baik dengan anak-anak mereka sehingga apa pun yang menjadi masalah yang dialami sang anak bisa diketahui oleh orangtua.

“Seandainya teman-temannya memiliki sensitivitas terhadap informasi, mungkin saja nyawa korban bisa diselematkan. Begitu ada informasi dari korban bahwa ia ingin mati teman-temannya harus segera bertindak dengan langsung mengawasi korban dan diajak bicara. Kepedulian ini harus kita biasakan,” ujar salah satu peserta diskusi di ruang media sosial. [knc07w]