SOSOK INSPIRATIF

Restanti Waruwu, Wakil Asia di Pertemuan Tingkat Dunia

0
2983
Foto: Dokumentasi pribadi

Pada 26 November 2013 lalu, seorang anak Nias dengan lantang berbicara tentang isu ketahanan pangan dan nutrisi di hadapan para pemimpin negara di dunia. Berbekal pengetahuan yang cukup dan bahasa asing seadanya, ia mengungkapkan kepada dunia seperti apa kondisi ketahanan pangan di Indonesia pada umumnya dan Nias khususnya.

Dialah Restanti Waruwu, siswi kelas XII SMK Swasta Kristen BNKP Gunungsitoli. Berada dua hari di Brussel, Belgia, dalam rangka European Development Days (EDD) (26-27 November 2013), ia berbagi pengalaman. Ikut sebagai partisipan dalam pertemuan tingkat dunia tentu merupakan kesempatan langka sebab untuk meraih itu Restanti harus bersaing dengan ratusan anak dari seluruh Indonesia.

Dikutip dari situs Eudevdays.eu, EDD merupakan forum pertemuan tingkat dunia yang membahas tentang hubungan internasional dan pengembangan kerja sama. EDD diselenggarakan setiap tahun dengan topik pembahasan yang berbeda-beda. Untuk tahun 2013 ini, salah satu isu yang diangkat adalah tentang ketahanan pangan dan nutrisi. Dalam pertemuan ini, EDD selalu melibatkan organisasi yang peduli anak seperti Wahana Visi Indonesia (WVI). Melalui organisasi inilah, Restanti terpilih dan diutus untuk mewakili Indonesia sekaligus Asia.

Prosesnya sendiri cukup panjang dan rumit. Anak-anak yang ikut merupakan peserta kongres anak yang diadakan oleh organisasi peduli anak setiap dua tahun sekali. Dari sini mereka harus mengikuti seleksi tingkat kabupaten, kemudian tingkat provinsi hingga tiba di tingkat nasional. Restanti sendiri merupakan anggota organisasi anak satu-satunya yang ada di Nias yakni Forani atau Forum Anak Nias yang difasilitasi oleh WVI.

Area Development Program (ADP) Manager WVI Nias Portunatas B. Tamba mengemukakan kriteria yang harus dimiliki anak untuk mengikuti kegiatan ini adalah berani menyuarakan hak anak, memahami konteks daerah masing-masing, terutama akan kebutuhan anak yang harus diperjuangkan oleh anak, pemerintah dan mitra-mitranya, serta kepribadian anak tersebut. Restanti, menurut dia sudah memenuhi kriteria tersebut sehingga layak untuk diutus ke sana.

Banyak Manfaat

“Keuntungannya dunia mengetahui konteks anak di Nias sekaligus Indonesia dan Asia. Ketika itu disuarakan dan dibawa ke lembaga dunia yang juga akan memperhatikan hal tersebut. Dengan demikian, ini akan memengaruhi dunia internasional dalam membuat kebijakan,” ujar Portunatas Tamba.

Kebijakan internasional, kata Portunatas, tentu akan berpengaruh pada kebijakan pemerintah di setiap negara yang mengacu pada kebijakan dunia. Ini berarti, ketahanan pangan dan nutrisi yang disuarakan Restanti akan membuat dunia berpikir untuk berbuat sesuatu dalam mendukung Indonesia.

Dengan demikian, manfaat keikutsertaan Restanti pada EDD tidak hanya untuk menyuarakan aspirasi anak, tetapi juga diharapkan memengaruhi kebijakan pemerintah lokal dan Indonesia.

Duta Anak

Restanti saat menyampaikan pidatonya di pertemuan European Development Days (EDD) di Belgia | Sumber foto: Dokumentasi pribadi

Untuk menjadi duta anak, Restanti memerlukan persiapan selama tiga bulan untuk dibekali dengan berbagai pengetahuan tentang kondisi ketahanan pangan dan nutrisi di Indonesia dan Nias. Begitu pula dengan komunikasi, Restanti yang mengaku kurang menguasai bahasa Inggris dibekali dengan penguasaan materi bahasa Inggris yang sederhana. Namun, di sana ia ditemani oleh seorang translator.

Dari beberapa isu yang dibahas, Restanti memilih topik ketahanan pangan dan nutrisi. Topik ini ia angkat setelah berdiskusi bersama dengan teman-temannya di Forum Anak Nias (Forani). Forani merupakan satu-satunya organisasi anak di Nias yang bertujun menyosialisasikan hak anak lewat berbagai kegiatan.

Berdasarkan pengalamannya dan teman-temannya, banyak lahan yang dibiarkan kosong dan tidak dimanfaatkan masyarakat untuk ditanami sesuatu yang bermanfaat. Terlebih lagi setelah ia berkunjung ke Dinas Pertanian Kota Gunungsitoli, terungkap bahwa ketersediaan pangan di Pulau Nias masih tergantung dari kiriman luar daerah.

Begitu pula dengan masalah nutrisi. Saat bertandang ke Dinas Kesehatan Kota Gunungsitoli, ia mendapat informasi bahwa pada tahun 2013 terjadi peningkatan kasus gizi buruk anak balita, dari 15 kasus pada tahun 2012 menjadi 28 kasus. Hal ini karena kelaparan akibat ketidaktersediaan bahan pangan.

“Padahal, lahan yang kita miliki cukup luas, tetapi mengapa kita tidak bisa memanfaatkan itu sebaik-baiknya untuk menanam tanaman pangan yang bisa dikonsumsi oleh setiap keluarga,” ujar Restanti.

Meski pemerintah sudah melakukan upaya dalam mengatasi hal itu, tetapi Restanti melihat bahwa program tersebut belum menjangkau semua anak di pelosok Tanah Air. Menyadari hal ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, Restanti bersama Forani mencoba mengelola kebun gizi. Di kebun gizi ini, mereka menanam berbagai tanaman pangan seperti terung, kacang panjang dan cabai. Kebun gizi ini dikelola langsung oleh anak-anak.

Hasilnya sendiri, menurut Restanti, sudah dirasakan oleh masyarakat di sekitar desa tersebut. Melalui kebun gizi ini mereka mulai menyosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya memanfatkan lahan kosong untuk mempertahankan ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nutrisi. Kebun gizi ini termasuk sebagai salah satu solusi yang disuarakan Restanti kepada para pemimpin dunia dalam EDD tersebut.

“Di sana saya mengatakan, jika kami anak-anak saja dapat berbuat sesuatu untuk mendukung ketahanan pangan dan nutrisi di daerah kami, pasti dunia bisa untuk melakukan sesuatu yang lebih dari ini,” kata Restanti dengan penuh keyakinan.

Impian Restanti

Seperti kata pepatah “Kegagalan adalah Kesuksesan yang Tertunda” itulah yang dialami Restanti. Awalnya ia diseleksi untuk menjadi wakil Indonesia ke Afrika. Sayangnya, ia hanya mampu menduduki peringkat kedua.

“Masalahnya, organisasi Forani baru berjalan satu tahun jadi dianggap kurang berpengalaman untuk dikirim ke sana,” tutur Restanti.

Kecewa tentu saja dirasakan Restanti. Akan tetapi, dukungan semangat dari orangtua, teman dan pegawai WVI membuatnya yakin bahwa sesuatu yang lebih dari ini akan ia raih. Betul saja, seminggu kemudian ia dihubungi dan dinyatakan sebagai utusan ke Belgia. Ternyata, untuk EDD 2013, ada dua benua lainnya yang ditetapkan, selain Afrika, yakni Eropa dan Amerika. Sebagai peringkat kedua, Restanti pun diutus ke Benua Eropa, tepatnya di kota Brussel, Belgia.

Bertemu dengan orang dari berbagai negara dan mendapat pengalaman baru membuat gadis yang biasa dipanggil Resta atau Tanti ini memiliki banyak mimpi untuk anak Indonesia, terutama Nias. Salah satunya adalah pengakuan organisasi anak sebagai sebuah organisasi yang sejajar dengan organisasi yang ada di Indonesia.

Menurut dia, meskipun di Indonesia organisasi anak sudah dibentuk, seperti Forani misalnya, tetapi hal ini belum cukup untuk mengakomodasi hak anak. Dengan diakuinya organisasi anak, ini akan berdampak kepada pengakuan terhadap keberadaan anak dan kesempatan untuk ambil bagian dalam penentuan kebijakan pemerintah.

Selain itu, ia juga berharap agar di Indonesia terbentuk organisasi anak secara nasional yang dipimpin oleh presiden anak seperti di salah negara yang ada di Afrika seperti Kongo. Dengan demikian, keseriusan pemerintah untuk mewujudkan hak anak betul-betul terealisasi.

Kebun Gizi

Di sisi lain, terkait dengan ketahanan pangan dan nutrisi, ia berharap agar program kebun gizi ini dapat diteruskan dan ditiru oleh desa-desa lain di kepulauan Nias. Dengan demikian, tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dapat menyuplai kebutuhan dalam daerah. Oleh karena itu, perlu dibangun sebuah tempat penampungan hasil bumi dari masyarakat desa untuk disalurkan ke pasar-pasar atau daerah lain.

“Pernah saya lihat ada masyarakat yang membiarkan pisang miliknya membusuk begitu saja. Coba kalau pisang itu dijual pasti bisa menghasilkan uang,” tuturnya prihatin.

Kembali dari misinya, Restanti sudah memaparkan kegiatan yang ia lakukan kepada anak-anak lainnya di Forani, termasuk pada WVI dan juga guru-guru di sekolah. Rencananya, ia akan menemui Bupati Nias, tetapi masih terhalang dengan kesibukan jadwal Bupati Nias. Anak sulung yang bercita-cita jadi dokter ini juga akan terus fokus pada kegiatan di organisasinya.

Dukungan Orangtua

Hidup jauh dari orangtua sudah dialami Restanti sejak SMP. Kini, ia tinggal bersama paman dan bibinya di Gunungsitoli demi melanjutkan pendidikan. Namun, dukungan kedua orangtua terhadap Restanti sangat besar dalam mendukung setiap kegiatannya. Hal ini pula yang membuatnya tetap semangat dan berusaha membanggakan kedua orangtuanya yang berada di Gidõ.

“Restanti itu anaknya pintar, berani dan mudah beradaptasi dengan anak-anak lain. Itu pula yang menurut saya menjadi faktor mengapa anak-anak di Forani memilih dia sebagai pengurus di organisasi itu,” ujar Portunatas Tamba.

Selain itu, semangatnya yang cukup tinggi dalam melakukan aktivitas di Forani membuat Portunatas salut. Pasalnya, Restanti dapat membagi waktunya dengan baik meski ia harus disibukkan dengan kegiatan sekolah.

“Dengan usia yang masih sangat muda, ia tetap terlihat semangat dalam menjalankan aktifitasnya,” kata dia lagi.

Hal senada juga diungkapkan Wali Kelas Restanti, Agusman Telaumbanua, S.Pd. Menurut Agusman, Restanti selain pintar dan ramah, juga merupakan anak yang berprinsip. Ia melihat, ketika Restanti sudah memutuskan untuk fokus terhadap sesuatu pasti akan dijalankan dengan sungguh-sungguh.

“Ia juga suka sekali berorganisasi. Tapi biar begitu ia tidak lupa belajar. Sejak di kelas X pun sampai sekarang saya melihat prestasinya terus meningkat,” kata Agusman yang sudah menjadi Wali Kelas Restanti sejak kelas 10 tersebut.

Prestasi yang cukup menonjol ini juga menjadi perhatian bagi Kepala Sekolah SMK Swasta Kristen BNKP Gunungsitoli F. Daeli, S.Pd. Menurut F. Daeli, Restanti adalah sosok anak yang patut diteladani tidak hanya dari segi prestasi, juga dari tingkah laku. Ia sendiri mengaku bangga dengan keterwakilan Restanti di pertemuan tingkat dunia bisa menjadi motivasi bagi anak-anak lainnya.

“Dengan demikian, secara langsung dia juga sudah membawa nama baik sekolah,” ujar F. Daeli. Meski demikian, ketika ditanya NBC tentang dukungan yang akan diberikan sekolah atas prestasi Restanti, F. Daeli mengatakan belum ada rencana. F. Daeli mengemukakan, sekolah hanya dapat memberikan dispensasi kepada siswanya bila terlibat dengan kegiatan semacam itu. Ia berharap agar semakin banyak lagi anak Nias yang mendapat kesempatan yang sama seperti Restanti. [ANOVERLIS HULU di www.nias-bangkit.com]

Biodata Singkat

  • Nama lengkap:  Restanti Waruwu
  • Nama panggilan:  Resta atau Tanti
  • Tempat, tanggal Lahir:  Ononamõlõ I Bot (Botomuzõi) Kecamatan Gidõ, 7 Juni 1997
  • Anak dari: Sadieli Waruwu (Ama Resta/PNS) dan Deslina Waruwu (Ina Resta/Ibu Rumah Tangga)
  • Anak ke:  1 dari 5 bersaudara
  • Pendidikan : Siswi Kelas 11 SMK Swasta Kristen BNKP Gunungsitoli Jurusan Akuntansi
  • Hobi:  Travelling, Berolahraga, Menulis
  • Aktivitas lain:
    • Ketua OSIS
    • Wakil Ketua Forum Anak Nias (Forani)
  • E-mail: restan.war@gmail.com

Artikel ini pernah ditayangkan di nias-bangkit.com dan diterbitkan disini hanya semata-mata untuk keperluan dokumentasi.