PERINGATAN 11 TAHUN GEMPA NIAS

10 Fakta Gempa Nias 2005

0
4132

JW-iconOleh Ordeli Zalukhu, Email: ordelizalukhu@gmail.com
Pekerjaan: Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Universitas Teknologi Yogyakarta


Generasi yang lahir sebelum tahun 2000-an dan saat itu masih tinggal di Pulau Nias pasti pernah merasakan gempa yang sangat besar dengan kekuatan 8,7 skala Richter (menurut catatan seismik) atau 8,2 skala Richter (menurut BMKG di Indonesia).

Tidak diduga gempa tersebut terjadi karena sebelumnya telah terjadi gempa dan tsunami yang memakan korban jiwa lebih banyak di Aceh. Saya masih ingat, banyak orang Nias mendengar peristiwa Aceh merasa sedih dan ketakutan, tetapi tidak sedikit yang menganggap peristiwa itu sebagai lelucon, sehingga kesiapsiagaan terhadap bencana tidak ada di kalangan masyarakat Nias pada saat itu.

Peristiwa yang sudah berlalu 11 tahun tersebut, tepat 28 Maret 2005 pada pukul 23.09, sudah mulai kita lupakan. Kita jarang membahasnya. Padahal, peristiwa ini adalah sejarah yang harus kita ceritakan kepada generasi kita secara berkelanjutan, supaya kelak mereka selalu siap siaga bencana. Nah, untuk mengenangnya kembali, dan tidak mau melupakannya secara terus-menerus pada tulisan kali ini saya ingin membagikan kepada sahabat-sahabat pembaca beberapa fakta tentang gempa Nias pada tahun 2005.

Terbesar Sejak 1843

Menurut berita yang dirilis oleh Detik.com, 29 Maret 2005, menyebutkan bahwa gempa pernah terjadi di kawasan Nias tepatnya di Gunungsitoli Barat pada tahun 1843 yang disertai tsunami. Gempa 1843 tersebut diklaim merupakan gempa pertama yang pernah terjadi di Nias.

Gempa Prince William Sound, Alaska 1964

Gempa Nias dan gempa Alaska memiliki kesamaan tanggal dan bulannya yang terjadi pada 28 Maret 1964 dengan kekuatan 9,2 SR. Pada peristiwa tersebut 15 orang tewas gempa, sedangkan 113 orang tewas akibat tsunami.

Tsunami Kecil

Berbeda dengan peristiwa Aceh, gempa Nias tidak disertai gelombang tsunami. Menurut laporan Geology Service milik Amerika Serikat, gempa tersebut hanya mendekati sesar/patahan naik, tetapi masih belum bersifat sesar/patahan naik. Kemungkinan yang terjadi adalah sesar/patahan geser sehingga tidak menyebabkan perluasan pada bidang volume air. Walaupun demikian, tercatat bahwa ada tsunami kecil setinggi 3-4 meter di Simeulue dan Singkil.

Memutuskan Jaringan Listrik dan Komunikasi 

Gempa besar tersebut terasa di beberapa provinsi di Sumatera, seperti di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, dan Palembang. Bahkan, getaran gempa ini dirasakan oleh negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Sri Lanka, bahkan Thailand yang berjarak sekitar 1.000 km dari pusat gempa.

Data Korban Berbeda-beda

Pada awalnya pemerintah memperkirakan korban mencapai 2.000 orang. Namun, laporan Departemen Kesehatan  menyatakan korban di Nias sebanyak 300 orang dan pengungsi sebanyak 2.000 orang. Sementara data dari Departemen Sosial
yang dirilis per 5 April 2005 pukul 14.00, ada 598 orang meninggal, 49 orang luka berat, 585 orang luka ringan, dan 45.517 orang mengungsi.

Banyak Orang yang Berteriak Meminta Tolong 

Akibat banyak korban yang terjebak di bawah reruntuhan dan gempa susulan terjadi terus-menerus, kehilangan sanak keluarga. Banyak yang menangis, meratap, tersungkur, bahkan mati gaya. Suasana pada malam itu penuh doa, nyanyian, dan berteriak kepada Tuhan-nya.

Diisukan Nias Akan Tenggelam

Isu tenggelamnya Nias berkembang begitu pesat di kalangan masyarakat pada saat itu, Dalam kepanikan tersebut masyakat Nias melakukan eksodus, pergi meninggalkan  Nias menuju Sibolga dan tempat-tempat yang lebih aman di Pulau Sumatera.

Bantuan Terus Mengalir

Seperti yang saya sebutkan di atas peristiwa ini merupakan peristiwa berkat di balik duka. Pasca gempa tersebut bantuan terus mengalir baik dari dalam maupun luar negeri. Seperti pada 29 Maret 2005 Australia menyatakan akan menyumbangkan bantuan sebesar 1 juta dollar Australia dalam bentuk hibah serta mengirimkan peralatan dan anggota medis ke Nias.

Pada 30 Maret 2005, Pemerintah Jepang menyatakan akan memberikan bantuan sebesar 15 juta yen juga mengirimkan tim medisnya ke Nias. Dan masih banyak negara lainnya, seperti Amerika Serikat, Spanyol, Tiongkok.

Sejak tahun 2005 tersebut, Nias mengalami kemajuan yang sangat pesat. Terutama di bidang pendidikan, teknologi, dan infrastruktur. Masuknya sejumlah non-goverment organization (NGO), relawan kemanusiaan, Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Nias-Aceh membuat paradigma masyarakat Nias mulai berubah dalam menerima kemajuan. Anak-anak Nias banyak yang masuk sekolah, masuknya jaringan internet sehingga mempermudah mengirm dan menerima informasi, jalan antarkecamatan terhubung, pembangunan yang lebih modern, hingga mengantarkan terbentuknya beberapa daerah otonom baru di Kepulauan Nias.

Masih Misteri

Jika saudara jalan-jalan di pantai Nias bagian utara, perlu diketahui bahwa air laut di pantai tersebut sudah surut sejauh dua kilometer pasca-gempa 2005. Tidak ada data ilmiah yang menjelaskan peristiwa ini. Namun, seharusnya sesuai dengan peristiwa Aceh apabila air laut surut akibat gempa, itulah yang menyebabkan tsunami dalam beberapa menit setelah gempa. Namun, puji Tuhan 11 tahun telah berlalu air laut tersebut masih surut. Akibat peristiwa tersebut banyak ikan yang mati dan terumbu karang yang rusak.

Daerah Wisata Baru

Berkah gempa, banyak daerah wisata baru dibuka, misalnya Pantai Tureloto, Lahewa, Nias Utara. Sebelum gempa, pantai ini layaknya sebuah pantai yang biasa ditemui, adanya pasir pantai yang melimpah. Akan tetapi, setelah peristiwa gempa pada tahun 2005, menjadikan wajah pantai ini berubah menjadi hamparan batuan karang yang tersebar di area kawasan pantai karena air laut di pantai ini surut. Saat ini kita tidak mengenal yang namanya ombak besar karena beberapa ratus meter dari bibir pantai terdapat gugusan karang seperti benteng pemecah ombak.


Anda ingin menulis Jurnalisme Warga? Klik disini •  Penyangkalan Jurnalisme Warga