PULAU TERLUAR

Saat Pulau-Pulau Batu Merindukan Bank

0
141
Hardin Maduwu memperagakan cara penggunaan mesin EDC di rumahnya. —Foto: Kabarnias.com/Ketjel Zagötö

Wilayah pulau-pulau terluar di Indonesia menyimpan berjuta potensi tersembunyi. Tantangan berat harus dihadapi dunia perbankan untukmenjangkau wilayah pulau terluar tersebut. Sebutlah misalnya kepulauan Batu, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara.

Sejak Indonesia merdeka 71 tahun yang lalu, belum ada satu pun bank yang berani membuka cabang di Pulau Tello. Pertanyaannya, mengapa? Padahal, dengan kemajuan teknologi sekarang ini, lembaga perbankan seyogianya bisa melayani masyarakat yang ingin bertransaksi, seperti menabung dan pembayaran gaji/honorarium para pegawai, termasuk juga para pengurus desa yang kesulitan dalam mencairkan uang dana desa.

Selama ini, penduduk yang berdomisili di sejumlah pulau di kepulauan Batu harus menyisihkan waktu beberapa hari untuk datang ke Telukdalam dengan naik kapal. Selain ongkos transportasi, mereka juga harus merogoh kantong untuk biaya penginapan dan makanan.

Pulau Tello terletak di wilayah pulau terluar bagian barat Sumatera Utara, yaitu Pulau-Pulau Batu. Penduduk yang mendiami semua pulau itu total 21.419 jiwa, tersebar di 7 kecamatan di 101 pulau. Pulau Tello menjadi ’ibu kota’ di wilayah itu.  Total pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Nias Selatan tahun 2016:  Rp 14.110.806.476,60 tentu tidak sedikit berasal dari 7 kecamatan di wilayah Pulau-Pulau Batu tersebut (Sumber: BAPPEDA Kabupaten Nias Selatan).

Dari 18 potensi wisata alam di Kabupaten Nias Selatan, 6 daerah wisata yang akan dikembangkan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Nias berada di wilayah Pulau-Pulau Batu, yaitu  Pulau Sibaranu, Pulau Pini, Pulau Sigata, Pulau Tanah Masa, Pulau Tanah Bala dan daerah konservasi laut Pulau-Pulau Batu (Sumber: RIPPARDA Nias Selatan).

Letak geografis yang berupa kepulauan inilah salah satu penyebab mengapa perbankan masih berpikir ulang untuk membuka cabang di Kepulauan Batu.

Ketiadaan pelayanan bank di Kepulauan Batu dirasakan seorang warga, yang ditemui di Pulau Tello, Rabu (18/1/2017), Sukadamai Duha (30). Saat ditemui Kabar Nias dipenginapannya, Sukadamai tertunduk lesu. Sudah dua hari dia tertahan di Pulau Tello. Kapal yang seharusnya membawanya pulang ke Pulau Hibala tempatnya mengabdi sebagai guru honorer, tak kunjung berlayar. Penyebabnya klasik, cuaca yang buruk.

Sebagai guru honorer SMAN 1 Hibala, kali ini dia merasa apes. Rapelan gaji guru honorer selama tiga bulan yang baru diterimanya dari Dinas Pendidikan, Kabupaten Nias Selatan, sudah berkurang setengahnya. Padahal, Sukadamai berencana akan membayar utang yang menumpuk. Dia sebelumnya pergi ke Telukdalam untuk mencairkan honornya.

“Bayangkan saja, gaji saya sebulan sejuta. Yang saya terima tiga bulan jadi tiga juta. Hanya karena cuaca buruk ini hampir setengah gaji yang saya terima sudah habis untuk biaya pergi-pulang, makan, dan penginapan Hibala-Tello-Teluk Dalam.Padahal, sampai rumah pun belum,”ujarnya kepada Kabar Nias.

Setiap tiga atau empat bulan sekali Sukadamai harus meninggalkan Pulau Hibala dengan menggunaan kapal kecil dengan sewa Rp 50.000 selama 6 jam menuju Pulau Tello. Biasanya menginap semalam kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan KMP Simelue atau kapal kayu selama 6 jam menuju Telukdalam, ibu kota Kabupaten Nias Selatan. Menurut Sukadamai, urusan di Telukdalam pun tidak bisa langsung selesai dalam sehari. Kadang harus menunggu dulu 2-4 hari. Itu berarti harus menginap dan dan keluar biaya lagi.

Sukadamai dan warga kepulauan lainnya seyogianya tidak harus mengeluarkan biaya besar jika saja ada bank di Pulau Tello. Bukankah uang yang terpaksa mereka keluarkan itu bisa mereka sisihkan untuk tabungan sehingga kesejahteraan keluarga mereka meningkat?

Tidak itu saja, selain membuat kesejahteraan masyarakat tak kunjung meningkat, ketidakhadiran bank di Pulau Tello juga memunculkan persoalan lain. Jika terdesak kebutuhan ekonomi dan tak memiliki uang,penduduk setempat terpaksa harus meminjam uang kepada rentenir dengan bunga yang tinggi, antara 10-20 persen.

Informasi dari Sukadamai, tidak sedikit masyarakat yang terjerat utang yang mencekik, meski hanya meminjam uang seperlunya saja. Bahkan, ada yang sampai disita kebunnya oleh rentenir karena tidak mampu mengembalikan pinjaman yang diambilnya.

Credit Union dan Laku Pandai

Selain dikenal sebagai daerah wisata, wilayah Pulau-pulau Batu ini juga dikenal kaya akan hasil laut dan komoditas hasil bumi. Nelayan dan petani kopra mengalami kesulitan mengelola keuangan rumah tangganya karena tidak memiliki tabungan. Jika laut mengalami badai, otomatis nelayan tidak bisa melaut. Begitu pun saat harga kopra jatuh, petani tidak bisa berbuat apa-apa. Jalan keluarnya, mereka meminjam uang kepada rentenir.

Seorang nasabah sedang menyetor simpanan ke Credit Union. —Foto: Kabarnias.com/Ketjel Zagötö.

Kenyataan itu membuat Gereja Katolik Pulau Tello, Santo Fidelis pada 15 Juli 2006, mendirikan Credit Union (CU) Kasih Setia sebagai wadah masyarakat wilayah Pulau-pulau Batu melakukan transaksi perbankan. Sejak dibuka, lembaga yang prinsip kerjanya mirip koperasi simpan pinjam ini memiliki anggota sebanyak 65 orang.Pada 2016 jumlahnya anggota meningkat menjadi 2.528 orang aktif. Mereka tersebar di pulau-pulau sekitar Pulau Tello.

Ketua CU Kasih Setia Amril Daya kepada Kabar Nias mengatakan, “Lahirnya CU ini bertujuan menyejahterakan anggotanya agar lepas dari kemiskinan. Kami mengadakan berbagai pelatihan untuk memotivasi anggota untuk mendapat penghasilan sampingan dan tidak menggantungkan hidup hanya dari laut dan kopra saja,“ ujarnya.

Biar bagaimanapun, tambahnya. Sudah saatnya pulau Tello memiliki bank. Karena tidak semua orang bisa menjadi anggota CU Kasih Setia. Kami hanya melayani anggota dengan penghasilan menengah kebawah. Lagipula kami tetap membutuhkan bank untuk bermitra dengan mereka.

Selain CU Kasih Setia, selama hampir dua tahun terakhir ada juga produk perbankan yang masuk ke Pulu Tello. Masyarakat sudah bisa menggunakan mesin Electric Data Capture (EDC) atau lebih sering disebut Laku Pandai. Masyarakat Pulau Tello menyebutnya ATM Mini. Menurut data dari Bank Indonesia, nilai transaksi mesin EDC di Pulau Tello mencapai transaksi tertinggi se-Sumatera Utara.

Salah seorang pengusaha sekaligus mantan anggota DPRD Kabupaten Nias Selatan asal Pulau Tello, Hardin Maduwu (46), yang ditemui Kabar Nias mengatakan, “Dampak yang dihadapi karena tidak ada bank di wilayah ini adalah masyarakat terkendala untuk memperluas usahanya. Kalau ada bank kan tanah-tanah di sini akan ada nilainya. Bisa diagunkan untuk mendapatkan kredit usaha.” Hardin kini juga menjadi salah satu agen Laku Pandai BRILink.

Papan merek ATM Mini BRILink di rumah Hardin. —Foto: Kabarnias.com/Ketjel Zagötö

Keberadaan ATM Mini sangat membantu masyarakat dalam melakukan transaksi perbankan. Masyarakat dapat menyetor, menarik tunai, dan transfer untuk kebutuhan penting. Untuk setiap transaksi dibawah 2juta, biayanya Rp 20.000. Sementara untuk transaksi di atas Rp 5 juta, rata-rata biayanya Rp 50.000 untuk sekali transaksi.

Salah seorang pengusaha warung makan, Ina Kori (39), kepada Kabar Nias mengatakan, “ ATM Mini sangat membantu kelancaran usaha saya. Anak saya juga ada yang kuliah di seberang setiap bulan saya bisa kirim uang tepat waktu“.

Kalau di Tello ini ada bank, tambahnya. Saya mau ambil kredit untuk tambah-tambah usaha warung makan.

Menurut Hardin, keberadaan ATM Mini di Pulau Tello belum menjawab kebutuhan masyarakat. Satu kendala yang dihadapinya sebagai agen laku pandaiadalah kecukupan saldo yang dimilikinya pada mesin EDC itu.

“Kalau tidak ada saldo di rekening saya, mesin itu tidak bisa digunakan. Padahal, untuk mengisi saldo saya harus titip uang kepada orang lain, agar dimasukkannya ke rekening saya di seberang,” katanya.

Harapan Selalu Ada

Salah satu usaha pengumpul hasil bumi di Pulau Tello secara turun-temurun, Suganto bersaudara, yang diwakili oleh salah satu adiknya, Faktor An(47), menceritakan bagaimana tantangan pengusaha di Pulau Tello.

“Zaman dulu tahun 80-90-an belum ada handphone. Jadi untuk mengetahui harga komoditas dari Medan, kami memakai telegram koramil,“ujarnya.

Setiap bulan keluarga ini mengirim 40 ton kopra dari Pulau Tello lewat laut menuju Sibolga kemudian ke Medan. Transaksi perbankan yang harus dilakukan tentu tidak sedikit jumlahnya.

“Membawa uang kontan itu risikonya besar. Sehingga bisanya kami kasih giro kepada pedagang untuk ditukarkan di bank di Telukdalam. Yang jadi masalah adalah kadang pembukuan usaha jadi tidak rapi. Sehingga laporan pajak pun jadi tidak akurat. Lebih mudah jika di Pulau Tello ini ada bank,” kata Faktor kepada Kabar Nias.

“Kami sangat mengharapkan kehadiran bank di pulau ini. Sebagai pelaku usaha tentu besar harapan usaha akan jauh lebih berkembang dan kepercayaan dengan relasi jadi tetap terjaga,“tambahnya.

Meski harapan masih sebatas impian, masyarakat Pulau-Pulau Batu tidak menyerah oleh keadaan. Perlu keseriusan yang ekstra bagi dunia perbankan untuk serius menggarap wilayah pulau-pulau terluar Indonesia. Masih panjang perjalanan Nawacita pemerintahan Jokowi untuk fokus menyejahterakan masyarakat di wilayah pulau-pulau terluar. [Ketjel Zagötö]

*Tulisan ini hasil kerja sama Kabar Nias dengan AJI Indonesia dan Permata Bank. Penulis adalah salah seorang pemenang beasiswa Banking Journalist Workshop 2016 yang diadakan di Surabaya, Jawa Timur.