Wajah Kelabu “Sila’i” dan “Sibolowua”

IKON PARIWISATA

3
4831
Duta wisata membagikan snack dan minuman peserta pertemuan di Museum Pusaka Nias. —Foto: Happy Suryani Harefa

Oleh Happy Suryani Harefa

Barangkali semua orang pernah menyaksikan seorang duta wisata melakukan kampanye atau promosi wisata di radio, di televisi, di tempat publik atau di sekolah-sekolah. Hal itu tidak mengejutkan karena mereka memang terpilih untuk tugas tersebut, mempromosikan wisata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke suatu daerah atau negara. Atas tugas mulia tersebut, para duta wisata sengaja dipersiapkan oleh departemen/dinas pariwisata dengan menggunakan dana APBN/APBD, mulai dari proses pemilihan duta wisata sampai pada proses peningkatan kapasitas sehingga semakin handal dalam berperan sebagai duta wisata.

Pemandangan yang telihat beberapa waktu yang lalu di sebuah acara yang digelar di Museum Pusaka Nias tampak berbeda dan mengejutkan. Dalam acara tersebut Sila’i dan Sibolowua bersama para pemenang 5 besar duta wisata kota Gunungsitoli 2016 terlihat bekerja membagi-bagi snack kepada para peserta acara. Sesekali mereka terlihat diomeli karena membagikannya pada saat pejabat sedang berpidato juga karena membagikannya dari arah depan aula dimana para tamu kehormatan duduk. Bagi sebagian orang pemandangan ini mungkin biasa saja, tetapi juga menimbulkan pertanyaan bagi sebagian lainnya, tentang apa sesungguhnya peran duta wisata kota Gunungsitoli. Bagaimana mungkin duta wisata dengan selendang dan mahkota kebanggaan di kepalanya diperlakukan seperti ini di depan publik.

Masih jelas dalam ingatan kemeriahan dan kemegahan malam Grand Final pemilihan duta wisata kota Gunungsitoli, sekitar satu bulan yang lalu, tepatnya pada hari Sabtu 21 Mei 2016, di Aula STT Sunderman Gunungsitoli. Acara tersebut terkesan mewah dengan dekorasi panggung yang terlihat elegan, ditambah sentuhan musik dan pencahayaan yang boleh dikatakan berkelas. Kemegahan acara pada malam itu semakin sempurna karena selain dihadiri ramai-ramai oleh masyarakat kota Gunungsitoli, juga dihadiri oleh wali kota dan wakil wali kota bersama tokoh-tokoh penting pemerintahan dan unsur pimpinan daerah lainnya, termasuk beberapa anggota DPRD Kota Gunungsitoli, Dandim, dan Kapolres Nias.

Tidak mengherankan, perhelatan tersebut adalah puncak pemilihan Sila’i dan Sibolowua yang akan menjadi duta wisata kota Gunungsitoli selama satu tahun ke depan. Pada malam tersebut hadir 3 juri yang bekerja keras menentukan pemenang, 2 orang di antaranya terkenal sebagai pelestari budaya Nias yaitu Bapak Agus Hardian Mendrofa dan Bapak Baziduhu Zebua sedangkan juri lainnya adalah Debora Mendröfa, duta wisata Sumatera Utara 2015. Selama proses pemilihan, para juri bergantian memberikan pertanyaan kepada para finalis tentang budaya dan wisata kota Gunungsitoli. Rasanya tidak ada satu pertanyaan yang mengarah pada tata cara menghidangkan snack pada suatu acara.

Terkait dengan peran bagi-bagi snack tersebut di atas, Pinta Hasrat Zendrato, Sibolowua kota Gunungsitoli tahun 2016, mengatakan bahwa pada dasarnya mereka tidak ingin diperlakukan seperti kejadian di museum tersebut. Namun, saat itu mereka belum berani menolak. Pinta mengatakan bahwa sering sekali mereka ditelepon secara mendadak dari dinas untuk menghadiri acara tertentu tanpa kejelasan peran. Umumnya panggilan tugas mendadak seperti itu yang pada akhirnya membuat mereka terpaksa berpakaian seadanya dan kadang berakhir tidak jelas seperti menjadi pelayan kegiatan, menyimpang jauh dari tugas utama mereka untuk promosi wisata.

Dari apa yang disampaikan oleh Sibolowua, tampaknya tidak ada konsep yang jelas dari dinas tentang bagaimana memaksimalkan peran para duta wisata untuk kemajuan sektor pariwisata kota Gunungsitoli. Hal ini dipertegas oleh Sila’i kota Gunungsitoli, Bebalazi Firman Hulu, SH., bahwa mereka memang belum mendapatkan arahan yang jelas dari dinas tentang apa saja yang akan dilakukan satu tahun ke depan.

Hal ini pernah ditanyakan pada malam penobatan sebagai duta wisata namun diminta untuk menunggu. Sayang sekali, menurut Sila’i, hingga penghujung bulan Juni ini kejelasan program mereka belum juga nyata. Dinas masih belum memberikan arahan yang jelas untuk satu tahun yang akan datang, dan juga belum mendampingi mereka dalam merancang program mandiri, sekiranya itu yang diharapkan untuk mereka lakukan.

Baik Sila’i maupun Sibolowua berharap adanya arahan yang lebih jelas dari dinas dalam waktu dekat, tentang program mereka sebagai duta wisata. Mereka juga berharap adanya standar yang jelas untuk tugas-tugas mereka dalam menghadiri sebuah acara, termasuk soal biaya salon, transportasi, sewa baju adat dan lain-lain, dimana selama ini dirasa kurang jelas.

Debora Mendrofa sebagai duta wisata Sumatera Utara 2015 mengatakan sangat tidak setuju dengan pemberian peran yang tidak jelas kepada duta wisata. Debora mengatakan terakhir sekali mendapat perlakuan seperti itu pada kegiatan launching Nias Pulau Impian di Jakarta awal Juni yang lalu. Mereka ditugaskan untuk bagi-bagi tas kepada peserta launching. Para Sila’i dan Sibolowua ditugaskan untuk menghidangkan minuman kepada tamu. Debora yang sebelumnya juga terpilih sebagai Sibolowua kota Gunungsitoli 2015 yang lalu berharap tugas bagi-bagi snack atau mengantar minuman sebaiknya tidak terjadi lagi ke depan.

Untuk tugas menerima tamu, sebaiknya terbatas untuk tamu kehormatan saja, tidak untuk menjadi penerima tamu biasa seperti pada umumnya. Demikian juga untuk membagi-bagikan buku atau souvenir kepada tamu, sebaiknya simbolik saja, jangan diminta untuk menjadi pelayan seluruh tamu. Itu sudah bukan wilayah duta wisata. Debora menambahkan, jika harus bertugas seperti itu, untuk apa duta wisata harus dipilih melalui pemilihan berbiaya besar? Pekerjaan itu bisa dilakukan oleh semua orang tanpa harus melalui proses pemilihan.

Duta wisata adalah ikon atau simbol yang seharusnya dipelihara, ditempatkan di tempat yang layak dan terhormat, terlebih-lebih ketika berada di ruang publik. Mereka adalah para duta yang kita percayakan untuk promosi wisata kepada calon wisatawan. Mereka seharusnya terus dibina untuk bisa berbicara dengan baik, bisa presentasi dengan baik. Mereka dibentuk untuk didengarkan dan dipercaya oleh orang luar. Saatnya memberikan kejelasan tentang peran mereka, sebelum terlalu terlambat. Jika tidak demikian maka program duta wisata yang tadinya diharapkan akan berdampak positif untuk sektor wisata justru akan berdampak sebaliknya.

Jika praktik “peran pelayan” para duta wisata ini tidak dihentikan, orang luar sebagai calon wisatawan bisa memandang sebelah mata wisata kota Gunungsitoli. Bagaimana orang luar akan angkat topi dan percaya kepada para duta wisata jika para duta wisata ini justru diperlakukan bak pelayan di depan publik oleh tuannya sendiri. Kiranya Pemerintah kota Gunungsitoli melalui dinas terkait dapat mengambil tindakan yang tepat atas persoalan ini demi kemajuan pariwisata kota Gunungsitoli. Bravo duta wisata!!