Pejuang Sejati Itu Selesaikan Perlombaannya…

OBITUARI

0
1972
Foto kenangan Pdt Herman Baeha bersama istri dan salah satu anaknya. —Foto: Dokumentasi Pribadi (via Facebook)

Oleh Apolonius Lase

Di sebuah sore, pada awal Maret 2016, sebuah panggilan masuk di telepon seluler saya. “Pak Lase, apa kabar? Apakah bisa kita ketemu.” Nomor tersebut tidak terdaftar dalam kontak saya. Namun, dari aksen bicaranya saya langsung mengenalinya. Dialah Pdt Herman Baeha, yang lahir 30 September 1957 di Nias yang barusan saja kita dengar telah berpulang ke pangkuan Bapa di surga dalam umur 59 tahun.

Saya mengenal Pak Herman Baeha pertama kali pada tahun 2000 ketika saya bersama teman-teman lainnya menginisiasi pembentukan Nias Community Forum (NCF) yang merupakan perkumpulan intelektual Nias yang tersambung dalam dunia maya ketika itu. Lewat NCF, orang Nias, termasuk Herman Baeha, aktif berdiskusi apa saja, tentu terkait dengan Pulau Nias. Herman sangat aktif memberikan pandangan-pandangannya yang bernas tentang bagaimana melakukan perubahan-perubahan fundamental di negeri ini. Ia banyak menyoroti soal masalah-masalah mental para generasi muda serta solusi yang harus dilakukan.

Setelah NCF tidak lagi aktif pada sekitar tahun 2003, sejak itu juga saya jarang berkomunikasi dengan Pdt Herman. Pasca-komunikasi lewat telepon tersebut, saya tiga kali bertemu dengan beliau. Pertama di Toko Gramedia Palmerah Barat, di Penerbit Buku Kompas di Palmerah Selatan, dan terakhir saat pelantikan para pemimpin daerah asal Nias di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat.

Sejak saya mengenalnya sejak pertama kali hingga pertemuan terakhir, Pdt Herman tak pernah berubah. Dia adalah pendeta yang sederhana (low profile). Dia bukan tipe pendeta yang suka tampil atau minta dihormati. Dia tidak pernah milih-milih teman. Keinginannya untuk menulis buku akhirnya terwujud yang sejak dulu ia sudah cita-citakan.

Pada pertemuan itu di Penerbit Buku Kompas itu, saya dihadiahi ayah dari tiga anak ini sebuah buku karyanya, 5 Cinta 5 Surga—Kisah Kehidupan, yang diterbitkan oleh Penerbit BPK Gunung Mulia. Saat itu, ia ingin berdiskusi kepada pengelola Penerbit Buku Kompas agar naskah bukunya bisa dipertimbangkan diterbitkan. Ketika itu, Manajer PBK meminta Herman untuk menyerahkan file soft-copy dari tulisannya untuk dibaca. Saya tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan pembicaraan Pdt Herman dengan pihak PBK. Informasi terakhir yang saya dengar, seminggu sebelum insiden perahu terbalik ini ia juga telah menyerahkan naskah bukunya tentang politik ke BPK Gunung Mulia.

Setelah jarang tidak berdiskusi dan bertemu, saya tidak terlalu mengikuti sepak terjang Herman Baeha. Saya baru tahu jika ia akhirnya menjadi anggota DPRD Nias Utara dengan posisi penggantian antar-waktu (PAW). Ia menggantikan Marselinus Ingati Nazara dari Partai Golkar, yang mengundurkan diri karena ikut kontestasi pilkada dan terpilih menjadi Bupati Nias Utara.

“Saya sudah emeritus (pensiun) dari tugas-tugas kepelayanan di Gereja Kristen Indonesia (GKI). Kini saya menulis di rumah. Sekali-kali saya juga menghabiskan waktu untuk memancing. Ke depan ini, kesibukan baru saya menjalankan tugas sebagai wakil rakyat di Nias Utara,” ujar alumni S-1 Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta itu.

Pelantikannya menjadi wakil rakyat ini membuktikan bahwa idealismenya dalam berjuang melakukan sesuatu buat tempat lahirnya, Nias Utara, akhirnya terwujud. Sebagai pejuang sejati, Pdt Herman tak pernah berhenti bertindak. Semua itu ia buktikan dengan berbagai terobosan-terobosan yang ia lakukan dengan tulus dengan penuh kerendahan hati.

Literasi Buat Generasi Muda Nias

Suami dari Budiati Marundruri ini, yang mengambil S-2 di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, pada 1996-1998, ini mengaku sangat terbeban untuk memberikan pendidikan literasi kepada generasi muda Nias.

“Saya ingin sekali ada media yang baik, dalam bentuk media cetak, untuk dijadikan sebagai media literasi bagi anak-anak muda Nias sehingga cara berpikir mereka bisa berubah dan wawasan mereka terbuka. Semoga ada waktu bagi kita untuk diskusi lagi soal ini, Pak Lase,” kata Pdt Herman.

Obsesi alumni PGAK Gunungsitoli (1976-1979) itu kini tak kesampaian dan belum bisa diwujudkannya. Kekuatan gelombang laut di perairan Kepulauan Hinako, Sirombu, Nias Barat, Rabu (22/3/2016) sore, telah mengubah segalanya. Pdt Herman Baeha yang biasa dipanggil Ama Ita itu kini menghadap Tuhannya. Saat ia sedang asyik memancing di perairan Pulau Bögi, perahu yang ia tumpangi bersama empat orang lainnya terbalik. Ia berjuang melawan kuatnya ombak dengan jeriken sebagai pelampung. Namun, pada Sabtu (25/6/2016) pukul 14.15, ia ditemukan di perairan Pulau Asu dalam kondisi tidak bernyawa lagi.

Meskipun Pdt Herman sudah tak lagi ada di dunia ini, tetapi ide-idenya yang ditorehkan dalam berbagai artikel dan buku akan tetap lestari dan hidup bagi generasi yang ia rindukan kelak bisa “mendapatkan wawasan luas”. Dalam  5 Cinta 5 Surga—Kisah Kehidupan, Herman berpandangannya bahwa perbedaan agama dan kepercayaan tidak boleh disikapi secara sempit. Bagi dia, perbedaan itu justru bisa menjadi kesempatan untuk mengubah wawasan dan menumbuhkan kreativitas serta sikap manusiawi yang tulus dan mendalam.

Herman diketahui tamat di SD Swasta BNKP Lahewa (1964-1970). Lalu dia melanjut di SMP Negeri VIII Medan pada 1971-1974. Karier sebagai pendeta ia awali di GKI Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 1985-1990. Pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Umum BPMS GKI Jakarta (1991-1996). Selama 14 tahun sejak 1999, dia melayani di GKI Serang, Banten, dan ia putuskan mengakhirinya pada 2013. Ia juga pernah menjadi Ketua Umum PGI Wilayah Banten selama 1991-1994. Pada 1993-1998 ia juga dipercaya menjadi Ketua Umum Badan Pembentukan Kabupaten Nias Utara (BPP Kanira) Jakarta.

Duka mendalam bagi kami sahabat-sahabatmu yang ditinggalkan. Selamat jalan Pak Herman!