Ditunggu Peran Akademisi

0
13

Dalam membangun pariwisata di Kepulauan Nias tidak hanya bisa menunggu pemerintah saja, tetapi peran pemangku kepentingan lainnya sangat dibutuhkan. Salah satunya akademisi.

Dengan kapasitasnya, seorang akademisi bisa melakukan riset atau kajian-kajian akademik terhadap sebuah obyek wisata. Hasil kajian yang dilakukan akan sangat bermanfaat bagi pengembangan obyek wisata tersebut yang akhirnya akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat yang berhubungan dengan obyek wisata. Lagi pula hasil kajian itu akan menjadi bahan penguatan bagi pengelola obyek wisata itu untuk melaksanakan pengembangan.

Kita bersyukur bahwa di Kepulauan Nias ada beberapa perguruan tinggi, di antaranya di Gunungsitoli ada IKIP dan juga STIE Pembda Nias. Sementara di Nias Selatan ada STIH dan juga STIE Nias Selatan.  Sekolah tinggi, seperti STT Sundermann dan juga sekolah tinggi kebidanan tentu bisa berperan aktif dalam mendukung program-program pembangunan di Kepulauan Nias, salah satunya pariwisata. Para dosen dan mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi sangat ditunggu peran aktifnya untuk berperan, terlebih dengan memanfaatkan jalur pengabdian kepada masyarakat (abdimas) seperti yang diamanatkan oleh Tri Dharma perguruan tinggi.

Bagaimana memulainya? Para akademisi yang DNA-nya adalah melakukan riset perlu memiliki tidak hanya kapasitas diri, tetapi lebih dari itu, yakni harus memiliki kecintaan dulu pada daerah tempat kelahirannya. Dengan modal seperti itu, seorang akademisi akan dengan mudah memulai mewujudkan peran strategisnya.

Kita senang mendengar bahwa akademisi Ono Niha yang berdomisili di luar Nias sedang dan terus melakukan komunikasi dengan akademisi di Pulau Nias untuk saling bersinergi sehingga berbagai hambatan yang dihadapi bisa diatasi. Memang sudah seyogianya begitu. Semangat kesamaan visi dibalut dengan fa’a’ononiha, maka yakinlah semua bisa dilaksanakan.

Konsep pentahelix, yakni lima unsur penting (akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media) yang harus terlibat dalam pengembangan pariwisata, hanya akan berdampak kalau itu benar-benar dijalankan. Tak dimungkiri, selama ini konsep itu hanyalah slogan. Pemerintah jalan sendiri tanpa didukung oleh keempat unsur lainnya. Padahal, kelima unsur itu harus menjalankan fungsinya masing-masing dalam waktu paralel.

Kembali pada peran akademisi. Kita harapkan setiap dosen atau pengajar di  perguruan tinggi mau turun gunung, di sela-sela tugas akademisnya, mengajar, memberi perhatian pada kehidupan di luar kampus. Mungkin berbagai obyek penelitian atau kajian di kepulauan Nias tidak langsung berhubungan dengan ketersediaan program studi di perguruan tinggi yang ada di Nias. Namun, hal itu tidak menghalangi untuk bisa melakukan kajian komprehensif terhadap sesuatu, yang kemudian hasilnya dituliskan menjadi paper, menjadi sebuah hasil kajian akademisi yang akan menjadi pegangan bagi pihak lain dalam pengambilan keputusan.

Setelah akademisi, kita juga berharap ada geliat dari pebisnis bidang pariwisata. Selain itu, kehadiran komunitas-komunitas, terutama yang berhubungan dengan kepariwisataaan sangat dibutuhkan guna menghadirkan gairah di masyarakat sehingga pada akhirnya tercipta kesadaran wisata. Yang tidak kalah pentingnya, media harus juga bergerak memberikan sumbangsih demi kemajuan pariwisata di Kepulauan Nias.