Nasib Perempuan Nias

PERINGATAN HARI KARTINI

2
4807
Salah satu pasangan suami istri di Nias Utara dengan lima anak. —Foto: http://www.motherandbaby.co.id/

Oleh Fotarisman Zaluchu

Sebut saja namanya Ina Harapan. Umurnya baru 16 tahun. Saya menjumpainya di sebuah desa di Nias saat saya sedang melakukan penelitian lapangan di sana. Saat itu, ia sedang hamil besar. Pada usianya yg masih belia itu, ia tengah mengandung, pada saat kawan kawannya sedang menuntut ilmu. Waktu saya tanyakan perasaannya mengenai hal itu, ia hanya menjawab, “Yawara hetawiza”. Ya, pernikahan telah merengut haknya menikmati pendidikan dan Ina Harapan hanya bisa pasrah. Ia tak punya pilihan lain.

Ina Harapan tidak sendirian. Masih banyak perempuan Nias yang hidup tanpa pilihan di pedesaan Nias. Dalam perjalanan saya di wilayah Gidö, saya pernah berjumpa dengan seorang ibu. Ia sedang hamil anaknya yang ke 14! Kalau dihitung dengan usianya yang sekarang sekitar 30-an tahun, kemungkinan ia telah menikah pada usia di bawah 20 tahun. Sama seperti Ina Harapan, perempuan yang saya temui belakangan ini pun tak punya pilihan.

Pernikahan dini hanyalah salah satu dari tiga persoalan yang akan saya bahas di sini, yang menyangkut perempuan Nias. Mumpung masih suasana peringatan Hari Kartini, wajar kita membuat refleksi tentang diri kita sendiri, tentang perempuan Nias. Mari kita melihatnya lebih kontekstual pada perempuan Nias.

Tidak dapat dimungkiri memang bahwa kita dengar sekarang ini perempuan-perempuan Nias sudah berhasil menduduki jabatan-jabatan strategis nan penting dengan pendidikan yang memadai. Sudah banyak perempuan Nias yang dari sudut pandang pendidikan, berada pada level yang sungguh sangat baik.

Akan tetapi, kontras dengan itu, sebagian besar perempuan Nias di pedesaan Nias justru masih banyak yang belum beruntung. Mereka, seperti Ina Harapan, putus sekolah lalu kemudian dinikahkan oleh orangtuanya. Kemudia mereka hamil pada saat usia masih sangat muda. Karena hamil terlalu dini, periode reproduksi menjadi lebih panjang sehingga kehamilan pun bisa terjadi lebih sering. Potensi memiliki anak banyak menjadi lebih tinggi. Itulah efek domino pernikahan dini seperti yang terjadi pada ibu hamil dengan 14 anak di atas.

Fenomena pernikahan dini di Nias hampir-hampir tidak terdeteksi sehingga sulit disuarakan. Selain karena berlangsung di pedesaan, ada kongkalikong antara aparat desa dan orangtua dalam menyembunyikan usia perempuan. Demi membuat pernikahan bisa terlaksana, saya pernah mendapatkan informasi di mana seorang ibu hamil ternyata usianya “dituakan” saat menikah. Pengakuan jujur itu malah saya dapatkan dari sang kepala desa.

Pernikahan dini membuat Ina Harapan dan banyak perempuan Nias lain tak lagi bisa menikmati masa depan. Ia tak punya akses terhadap perbaikan kualitas hidup karena mereka kini harus bertanggung jawab terhadap keluarga dan mengasuh anak. Selain itu, ia juga harus menanggung bahaya risiko kematian akibat belum matangnya organ reproduksinya saat hamil pada usia yang masih belia itu. Bayangkan, usia perempuan untuk menikah yang diizinkan adalah 16 tahun, menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Pernikahan itu. Tentu saja usia perempuan Nias yang menikah dini jauh di bawah itu.

Namun, pernikahan dini bukan hanya satu satunya masalah yang terjadi pada perempuan Nias. Masalah penting lainnya adalah putus sekolah. Sebagaimana Ina Harapan, banyak perempuan Nias harus meninggalkan bangku sekolah sebelum menyelesaikannya setidak tidaknya pada level sekolah menengah atas.

Bahkan, banyak yang tidak tamat SD. Ada banyak alasan putus sekolah bagi anak perempuan di pedesaan di Nias. Yang paling sering adalah pernyataan orangtuanya bahwa “Tidak ada gunanya perempuan bersekolah tinggi-tinggi. Nanti ujung-ujungnya menikah juga”. Pernyataan ini jelas sangat merendahkan perempuan karena untuk bersekolah tidak ada syarat jenis kelamin di dalamnya. Untuk bisa pintar, perempuan Nias, dengan sangat tendensius, telah direndahkan dengan konsep berpikir seperti itu.

Pandangan demikian tentu tidak hadir begitu saja. Ini berhubungan dengan konsep nilai bahwa anak laki-laki jauh lebih berharga dibandingkan dengan anak perempuan. Norma patriakal yang sangat kuat menyebabkan banyak orangtua lebih menyukai, menginginkan dan menjadikan anak laki laki sebagai lebih utama.

Norma yang merendahkan perempuan ini menyebabkan perempuan Nias hanya dianggap sebagai pelengkap semata. Anak perempuan dididik untuk patuh, menurut, supaya kelak bisa membahagiakan suami dan keluarga kelak. Jadi, orangtua mempersiapkan kebahagiaan anak perempuannya sedari sekarang. Maka anak perempuan yang rajin bekerja dan patuh pada orangtuanya disebut akan beruntung karena nanti di rumah mertuanya akan bisa melayani dengan baik. Ini juga jelas pandangan yang sangat merendahkan derajat perempuan.

Atas nama tradisi itulah perempuan Nias di pedesaan banyak mengalah kepada anak laki-laki. Seorang teman jurnalis pernah melakukan wawancara kepada anak-anak perempuan yang dilatih keterampilan di Nias. Anak-anak perempuan tersebut ternyata sudah lama berhenti sekolah. Mereka diminta untuk mengalah kepada saudaranya laki-laki dan membantu orangtua memenuhi jujuran pernikahan saudara laki-lakinya tersebut. Hal ini tentu sangat menyedihkan.

Tidak berimbangnya pandangan terhadap anak laki-laki dan anak perempuan terbawa menjadi sebuah norma yang berujung kepada dominasi kekuasaan laki-laki atas perempuan. Norma tersebutlah yang terbawa sampai ke pernikahan.

Persoalan perempuan Nias yang ketiga, dalam pandangan saya, erat kaitannya dengan norma ini. Perempuan Nias rawan mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Laporan KDRT yang diterima oleh Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) di Nias, misalnya, menunjukkan angka yang cukup masif.

Ini berpangkal dari pandangan bahwa perempuan yang telah beristri harus manut dan tunduk kepada suaminya karena perempuan dianggap tak punya hak apa pun. Secara kultural, tindakan suami yang memukul istrinya dianggap wajar, untuk menertibkan istri yang dituding tidak berperilaku “benar”. Sayangnya, laki-laki tidak dituntut kewajiban untuk bertindak “benar”.

Saat turun ke lapangan di Nias, saya pernah berjumpa dengan, sebut saja namanya, Ina Lina. Ia mengaku kepada saya kalau ia sering dipukul suaminya yang acap kali pulang ke rumah karena kalah judi. Suaminya marah-marah jika semenit saja ia terlambat membukakan pintu.

Kasus lain, di depan mata saya di Nias, saya melihat seorang ibu muda menangis dipukul suaminya karena ia dianggap tidak becus mengurus anak sampai anak rewel sehingga suaminya tidak bisa tidur siang!

Wajah-wajah buram perempuan Nias di atas adalah fakta bahwa gelombang kemajuan perempuan Nias masih belum menyapu mereka yang sebagian besar berada di pedesaan.

Itulah sedikit kisah kehidupan perempuan Nias di seputar perayaan Hari Kartini ini. Kalau kita saat ini berbicara tentang betapa majunya perempuan-perempuan Nias saat ini di bidang legislatif, eksekutif, keagamaan, bahkan parpol, saya justru mengimbau perempuan perempuan yang telah cerdas tersebut supaya lebih memberikan perhatian kepada perempuan Nias lainnya.

Masih banyak perempuan Nias utamanya di pedesaan yang masih hidup dalam kegelapan, alih-alih terang, karena tiga hal di atas.