IKON PARIWISATA

Wajah Kelabu “Sila’i” dan “Sibolowua”

3
4453
Duta wisata membagikan snack dan minuman peserta pertemuan di Museum Pusaka Nias. —Foto: Happy Suryani Harefa

Oleh Happy Suryani Harefa

Barangkali semua orang pernah menyaksikan seorang duta wisata melakukan kampanye atau promosi wisata di radio, di televisi, di tempat publik atau di sekolah-sekolah. Hal itu tidak mengejutkan karena mereka memang terpilih untuk tugas tersebut, mempromosikan wisata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke suatu daerah atau negara. Atas tugas mulia tersebut, para duta wisata sengaja dipersiapkan oleh departemen/dinas pariwisata dengan menggunakan dana APBN/APBD, mulai dari proses pemilihan duta wisata sampai pada proses peningkatan kapasitas sehingga semakin handal dalam berperan sebagai duta wisata.

Pemandangan yang telihat beberapa waktu yang lalu di sebuah acara yang digelar di Museum Pusaka Nias tampak berbeda dan mengejutkan. Dalam acara tersebut Sila’i dan Sibolowua bersama para pemenang 5 besar duta wisata kota Gunungsitoli 2016 terlihat bekerja membagi-bagi snack kepada para peserta acara. Sesekali mereka terlihat diomeli karena membagikannya pada saat pejabat sedang berpidato juga karena membagikannya dari arah depan aula dimana para tamu kehormatan duduk. Bagi sebagian orang pemandangan ini mungkin biasa saja, tetapi juga menimbulkan pertanyaan bagi sebagian lainnya, tentang apa sesungguhnya peran duta wisata kota Gunungsitoli. Bagaimana mungkin duta wisata dengan selendang dan mahkota kebanggaan di kepalanya diperlakukan seperti ini di depan publik.

Masih jelas dalam ingatan kemeriahan dan kemegahan malam Grand Final pemilihan duta wisata kota Gunungsitoli, sekitar satu bulan yang lalu, tepatnya pada hari Sabtu 21 Mei 2016, di Aula STT Sunderman Gunungsitoli. Acara tersebut terkesan mewah dengan dekorasi panggung yang terlihat elegan, ditambah sentuhan musik dan pencahayaan yang boleh dikatakan berkelas. Kemegahan acara pada malam itu semakin sempurna karena selain dihadiri ramai-ramai oleh masyarakat kota Gunungsitoli, juga dihadiri oleh wali kota dan wakil wali kota bersama tokoh-tokoh penting pemerintahan dan unsur pimpinan daerah lainnya, termasuk beberapa anggota DPRD Kota Gunungsitoli, Dandim, dan Kapolres Nias.

Tidak mengherankan, perhelatan tersebut adalah puncak pemilihan Sila’i dan Sibolowua yang akan menjadi duta wisata kota Gunungsitoli selama satu tahun ke depan. Pada malam tersebut hadir 3 juri yang bekerja keras menentukan pemenang, 2 orang di antaranya terkenal sebagai pelestari budaya Nias yaitu Bapak Agus Hardian Mendrofa dan Bapak Baziduhu Zebua sedangkan juri lainnya adalah Debora Mendröfa, duta wisata Sumatera Utara 2015. Selama proses pemilihan, para juri bergantian memberikan pertanyaan kepada para finalis tentang budaya dan wisata kota Gunungsitoli. Rasanya tidak ada satu pertanyaan yang mengarah pada tata cara menghidangkan snack pada suatu acara.

Terkait dengan peran bagi-bagi snack tersebut di atas, Pinta Hasrat Zendrato, Sibolowua kota Gunungsitoli tahun 2016, mengatakan bahwa pada dasarnya mereka tidak ingin diperlakukan seperti kejadian di museum tersebut. Namun, saat itu mereka belum berani menolak. Pinta mengatakan bahwa sering sekali mereka ditelepon secara mendadak dari dinas untuk menghadiri acara tertentu tanpa kejelasan peran. Umumnya panggilan tugas mendadak seperti itu yang pada akhirnya membuat mereka terpaksa berpakaian seadanya dan kadang berakhir tidak jelas seperti menjadi pelayan kegiatan, menyimpang jauh dari tugas utama mereka untuk promosi wisata.

Dari apa yang disampaikan oleh Sibolowua, tampaknya tidak ada konsep yang jelas dari dinas tentang bagaimana memaksimalkan peran para duta wisata untuk kemajuan sektor pariwisata kota Gunungsitoli. Hal ini dipertegas oleh Sila’i kota Gunungsitoli, Bebalazi Firman Hulu, SH., bahwa mereka memang belum mendapatkan arahan yang jelas dari dinas tentang apa saja yang akan dilakukan satu tahun ke depan.

Baca juga:  Stop Penggalian Pasir di Pantai Sorake dan Lagundri!

Hal ini pernah ditanyakan pada malam penobatan sebagai duta wisata namun diminta untuk menunggu. Sayang sekali, menurut Sila’i, hingga penghujung bulan Juni ini kejelasan program mereka belum juga nyata. Dinas masih belum memberikan arahan yang jelas untuk satu tahun yang akan datang, dan juga belum mendampingi mereka dalam merancang program mandiri, sekiranya itu yang diharapkan untuk mereka lakukan.

Baik Sila’i maupun Sibolowua berharap adanya arahan yang lebih jelas dari dinas dalam waktu dekat, tentang program mereka sebagai duta wisata. Mereka juga berharap adanya standar yang jelas untuk tugas-tugas mereka dalam menghadiri sebuah acara, termasuk soal biaya salon, transportasi, sewa baju adat dan lain-lain, dimana selama ini dirasa kurang jelas.

Debora Mendrofa sebagai duta wisata Sumatera Utara 2015 mengatakan sangat tidak setuju dengan pemberian peran yang tidak jelas kepada duta wisata. Debora mengatakan terakhir sekali mendapat perlakuan seperti itu pada kegiatan launching Nias Pulau Impian di Jakarta awal Juni yang lalu. Mereka ditugaskan untuk bagi-bagi tas kepada peserta launching. Para Sila’i dan Sibolowua ditugaskan untuk menghidangkan minuman kepada tamu. Debora yang sebelumnya juga terpilih sebagai Sibolowua kota Gunungsitoli 2015 yang lalu berharap tugas bagi-bagi snack atau mengantar minuman sebaiknya tidak terjadi lagi ke depan.

Untuk tugas menerima tamu, sebaiknya terbatas untuk tamu kehormatan saja, tidak untuk menjadi penerima tamu biasa seperti pada umumnya. Demikian juga untuk membagi-bagikan buku atau souvenir kepada tamu, sebaiknya simbolik saja, jangan diminta untuk menjadi pelayan seluruh tamu. Itu sudah bukan wilayah duta wisata. Debora menambahkan, jika harus bertugas seperti itu, untuk apa duta wisata harus dipilih melalui pemilihan berbiaya besar? Pekerjaan itu bisa dilakukan oleh semua orang tanpa harus melalui proses pemilihan.

Duta wisata adalah ikon atau simbol yang seharusnya dipelihara, ditempatkan di tempat yang layak dan terhormat, terlebih-lebih ketika berada di ruang publik. Mereka adalah para duta yang kita percayakan untuk promosi wisata kepada calon wisatawan. Mereka seharusnya terus dibina untuk bisa berbicara dengan baik, bisa presentasi dengan baik. Mereka dibentuk untuk didengarkan dan dipercaya oleh orang luar. Saatnya memberikan kejelasan tentang peran mereka, sebelum terlalu terlambat. Jika tidak demikian maka program duta wisata yang tadinya diharapkan akan berdampak positif untuk sektor wisata justru akan berdampak sebaliknya.

Jika praktik “peran pelayan” para duta wisata ini tidak dihentikan, orang luar sebagai calon wisatawan bisa memandang sebelah mata wisata kota Gunungsitoli. Bagaimana orang luar akan angkat topi dan percaya kepada para duta wisata jika para duta wisata ini justru diperlakukan bak pelayan di depan publik oleh tuannya sendiri. Kiranya Pemerintah kota Gunungsitoli melalui dinas terkait dapat mengambil tindakan yang tepat atas persoalan ini demi kemajuan pariwisata kota Gunungsitoli. Bravo duta wisata!!

Happy Suryani Harefa
Lahir di Desa Ononamölö Tumula, Alasa, Nias Utara, pada 13 November 1980. Tamat sarjana Farmasi dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta pada 2002. Sejak 2005 hingga saat ini dipercaya menjadi Direktur Yayasan Holi’ana’a, LSM lokal yang peduli pada pengembangan ekonomi dan transformasi sosial, dengan muatan program khusus pada isu ketertinggalan perempuan. Berbagai lokakarya dan pelatihan telah diikuti, antara lain, training “Climate Change Governance” di Universitas Wageningen, Belanda. Ia juga aktif di Konsil LSM Indonesia, sebuah wadah yang beranggotakan sekitar 100 LSM di Indonesia yang bekerja untuk transparansi dan akuntabilitas LSM.
BAGIKAN
Berita sebelumyaPejuang Sejati Itu Selesaikan Perlombaannya…
Berita berikutnyaHasil Kerja Pansus Beasiswa DPRD Nias Selatan Segera Diparipurna
  • ones sidney

    Kesan nya,sekali lagi “kesan” nya (spy tidak kena tuntut yang merasa tersinggung) program2 pemerintahan nias tidak tepat guna. Banyak program hebat pelaksanaan tidak ada, “kesan” nya program modus.
    Pariwisata? Benahin dulu prasarana baru bicara

  • Berman Lase

    Sebagai orang yang berada di bidang pariwisata, Izinkanlah
    saya menyampaikan sudut pandang saya, sbb:

    Selama saya berada di bidang pariwisata, Saya justru menemukan makna bahwa setiap
    orang yang berada di bidang pariwisata, haruslah memiliki ‘karakter melayani’ dalam arti bersifat humble, peduli terhadap orang lain, dan melepaskan gengsi jika ingin berbuat yang terbaik bagi orang lain (untuk hal positif dalam memajukan pariwisata).

    Sebagai contoh, dulu sewaktu kuliah pariwisata, saya pernah mengikuti setahun training di beberapa hotel diluar sana. Kami semua sangat menghormati yang namanya General Manger (GM) hotel karena dia menduduki posisi pada top management, lagipula ilmunya telah mencakup semua bidang di hotel dan pariwisata dan dia adalah orang yang sangat dihargai oleh semua manager di hotel. Namun, karena dia memiliki ‘karakter pariwisata’, pada kondisi tertentu, pernah suatu ketika dia memungut sampah yang ada di koridor hotel, meskipun dia
    bukan seorang ‘cleaning service’ tapi pada moment tertentu dia perlu berbuat yang terbaik, dan itu malah menjadi inspirasi bagi saya bahwa semakin orang hebat haruslah semakin dia memiliki hati yang peduli akan sesuatu hal yang baik tanpa memandang hal negative yang mungkin akan menyerang. Jika dia berada pada kondisi seperti itu, tentunya kita tidak boleh mengatakan dan memvonis ‘dia hanya seorang cleaning service’, atau ketika dia berada di
    dapur memberi contoh dalam memasak menu makanan baru, kita mengatakan bahwa
    ‘dia hanya seorang koki’.

    Contoh nyata lain : Saya pernah bekerja juga di suatu restaurant, dimana tamu yang kami handle adalah tamu-tamu luar negeri yang datang melalui travel agent yang biasanya ada beberapa bus pariwisata tiap harinya yang datang untuk lunch. Tentunya target kami adalah ‘memberi kesan yang baik kepada setiap wisatawan’ khususnya dari sisi hospitality. Dan untuk mewujudkan hal ini, terkadang saya sendiri juga turut membantu para anggota saya untuk menyajikan makanan demi memaksimalkan pelayanan. Jika saya mungkin gengsi untuk menciptakan hospitality itu, mungkin wisatawannya tidak akan pernah datang lagi ke resturant itu.

    Jadi, satu hal yang perlu dipahami oleh seluruh masyarakat kita (Nias khususnya) bahwa jika kita mau mengembangkan pariwisata kita, kita harus bersifat humble atau memiliki karakter pariwisata, seperti pada contoh yang ditunjukkan oleh para duta wisata kota Gunungsitoli Tahun 2016 (Pinta Hasrat Zendrato, Bebalazi Hulu, Debora Mendrofa, dkk) semoga bisa menjadi inspirasi bagi duta wisata lain dan semua orang yang mau berada di bidang pariwisata. Jika mereka pada moment itu sedang ‘berinisiatif’ untuk menunjukkan ‘keramahtamahan / hospitality’, kita tidak boleh men-judge mereka dengan berbagai pendapat negatif, namun saya sangat menghargai perbedaan opini demi untuk memunculkan satu ‘benang merah’ kesepahaman akan karakter pariwisata,jadi opini pada tulisan diatas sangat
    baik dan membangun supaya orang tahu bahwa memang itulah ‘karakter pariwisata sebenarnya’ . Aksi ‘bagi-bagi snack’ sebenarnya hanyalah salah satu contoh kecil saja sebagai bagian dari implementasi karakter itu.

    Mengapa karakter seperti ini sangat penting di bidang pariwisata? Karena sebenarnya di bidang pariwisata ‘Setiap orang ditempah dan dikembangkan sehebat mungkin, hanya untuk menemukan suatu makna bahwa ‘mereka harus berada di bidang pelayanan dan harus memiliki karakter melayani’ (untuk hal positif). Jika seluruh SDM Pariwisata di Nias memahami ‘karakter SDM pariwisata yang baik’, maka industri pariwisata mampu berjalan dengan baik.

    Melalui tulisan ini saya ingin menghimbau dan memberitahu, bahwasanya ‘siapapun yang mau berada di bidang pariwisata, baik itu dia yang mau jadi pelaku industri pariwisata, pekerja di bidang pariwisata, duta wisata, dia harus memiliki karakter pariwisata yang salah satunya adalah bersifat melayani dan siap berbuat yang terbaik bagi orang lain’. Karena mereka adalah ‘duta wisata’ maka sangat tepat mereka menginspirasi masyarakat bahwa ‘tidak perlu gengsi gede-gedean’ untuk berada di bidang pariwisata, lagipula tidak di setiap acara
    yang mereka ikuti mereka diposisikan untuk ‘bagi-bagi snack’ dan kejadian diatas hanyalah secara kebetulan saja. Contoh lain, ketika kami dan mereka melakukan aksi ‘bersih-bersih pantai’, kita berharap bahwa itu juga bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk ‘teringat dengan kebersihan’, bukan berarti kita adalah ‘cleaning service’, namun karena karakter itu, kita harus melakukannya dengan senang hati.

    Jadi, saya ucapkan terima kasih bagi siapapun yang membaca tulisan ini, secara khusus saya ucapkan terima kasih kepada penulis opini diatas, karena melalui tulisan ini, saya bisa menjelaskan sesuatu hal kepada masyarakat, tanpa bermaksud menggurui atau mengajari para pembaca.

    Demikian yang saya sampaikan, jika ada kata-kata saya yang menyinggung, saya mohon ma’af sebesar-besarnya.

    Salam buat semua pembaca………..Ya’ahowu!

    Dari : Feberman Lase, A.Md.Par

  • Apolonius Lase

    Harap dimaklumi, setiap program di pemerintahan daerah kita, hasilnya tak pernah memuaskan. Karena tak jelas arahnya mau ke mana.