Sinetron, Perempuan, dan Mitos Budaya Nias

1
1373
Ilustrasi menonton TV --- Gambar oleh © Bloomimage/Corbis

Oleh Formas Juitan Lase
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Indonesia

Pada Februari 2015, saya mengunjungi keluarga saya di Gunungsitoli. Tak banyak yang berubah. Ibu saya yang hobi menonton sinetron dan serial drama Korea pada salah satu stasiun televisi swasta juga tak berubah.

Menonton sinetron biasanya dilakukan oleh Ibu saya sehabis mengerjakan pekerjaan rumah (mengambil daun ubi, dan memasak). Ibu saya mengatakan bahwa menonton sinetron memberikan hiburan dan relaksasi. Selain itu juga memberikan nilai-nilai yang merefleksikan realitas kehidupan keluarga saat ini.

Pertanyaannya kemudian adalah benarkah sinetron merefleksikan kehidupan keluarga? Kehidupan keluarga yang mana? Benarkah memberikan nilai positif bagi perempuan? Tulisan ini bertujuan menguraikan bahwa dalam sinetron tertanam tawaran gaya hidup superfisial dan nilai-nilai yang hanya semakin mendomestikasi posisi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.

Nilai Patriarkal

Saya kira, Ibu saya adalah satu dari ribuan ibu-ibu lainnya yang ada di Nias yang hobi sekali menonton sinetron tanpa tahu apakah yang disajikan oleh sinetron tersebut hanya sekadar produk imaginer semata atau bukan realitas yang sebenarnya. Dan nilai-nilai yang disusupi di dalam narasi percakapan para tokoh juga merupakan narasi yang sama sekali bias gender dan menanamkan nilai patriarkal.

Sinetron seperti ‘Cinta Fitri’, ‘Putri Yang Tertukar’, atau sinetron ‘Tersanjung’ yang pernah tayang pada tahun-tahun sebelumnya, dan sinetron ‘Tujuh Manusia Harimau’, dan ‘Tukang Bubur Naik Haji‘ yang sekarang ditayangkan di stasiun televisi swasta saat ini cenderung menanamkan nilai-nilai domestikasi terhadap perempuan. Sinetron ‘Tukang Bubur Naik Haji‘ saat ini telah memasuki episode ke-1600an. Dan menurut ABG Nielsen, sinetron ini paling banyak ditonton oleh masyarakat. Karena ratingnya tinggi, maka iklannya juga pasti banyak. Makanya tak heran jika durasi iklan mengalahkan durasi sinetron.

Tokoh laki-laki dan perempuan yang direpresentasikan di dalamnya tentu saja digambarkan secara denotatif dan konotatif seturut nilai-nilai patriarkal. Seperti apa nilai patriarkal itu beraksi dalam sinetron?

Secara denotatif, tokoh perempuan selalu digambarkan dalam peran-peran yang berhubungan dengan wilayah domestik (memasak, mencuci, menyiapkan kopi bagi suami, membersihkan rumah, merawat anak, dsb). Sementara laki-laki tentu saja digambarkan dalam peran yang berkaitan dengan ruang publik (bekerja di luar rumah, di kantor, di perusahaan, dsb) dan hal-hal yang menekankan bahwa laki-laki adalah kepala keluarga dan pencari nafkah.

Naturalisasi peran sosial laki-laki dan perempuan ini dalam sinetron semakin meneguhkan bahwa ruang publik adalah domain laki-laki, sementara ruang privat adalah domain perempuan. Konstruksi ini juga semakin menegaskan bahwa mencuci, merawat anak, memasak,dan lain sebagainya itu bukan tugas dan pekerjaan laki-laki, tetapi tugas dan pekerjaan perempuan. Laki-laki hanya bertanggung jawab untuk bekerja di luar rumah. Perempuan bertanggung jawab mengurus tetek bengek pekerjaan rumah.

Dalam masyarakat Nias juga terdapat nilai patriarkal semacam ini yang membedakan peran sosial laki-laki dalam perempuan dalam dikotomi publik dan privat. Bahkan ada mitos (yang juga diamini perempuan) bahwa amat sangat memalukan jika laki-laki terlihat berada di dapur untuk memasak, dan atau memegang sapu.

Mitos budaya Nias menyebutkan bahwa pekerjaan-pekerjaan demikian adalah tugas perempuan. Dan apabila rumah berantakan atau belum dibersihkan, masyarakat kita menyebutnya, “Hulö zilö ono alawe ba nomo andre.” Pernyataan ini menegaskan bahwa tugas membersihkan rumah dan hal-hal yang berkaitan dengan itu adalah tugas perempuan dan bukan laki-laki. Ono alawe meneguhkan hanya perempuan.

Pembagian peran sosial ini juga semakin berat dijalani oleh perempuan yang juga bekerja di ruang publik. Di kampung saya di Gunungsitoli Selatan khususnya (dan mungkin juga terdapat di wilayah lain di Nias) ada mitos pekerjaan yang juga lebih banyak dilakukan oleh perempuan yaitu: manga’i bulu gowi (pakan ternak babi). Pekerjaan ini biasanya hanya dilakukan oleh perempuan. Sepanjang mata memandang kalau kita ke kebun, yang terlihat hanya kaum perempuan.

Biasanya mereka pulang pukul 6 atau jam 7 malam, dan setelah tiba ke rumah, mereka masih akan dibebani dengan pekerjaan domestik lainnya seperti memasak, memandikan anak, mencuci, membersihkan rumah dan menyiapkan makan malam. Dan, ini bukan pekerjaan ringan (saya pernah melakukannya). Ini pekerjaan yang harus dilakukan bersama laki-laki dan tidak bisa hanya dilakukan oleh seorang perempuan (istri/anak perempuan) saja.

Bagaimana dengan kehidupan di kelas menengah di kota? Tentu pekerjaannya bukan lagi mengambil bulu gowi. Sebagian besar pekerjaan perempuan adalah pegawai negeri sipil. Dan hal ini juga tidak jauh berbeda bebannya.

Seorang perempuan Nias yang berasal dari Kota Gunungsitoli pernah bercerita kepada saya bahwa pembagian peran sosial ini sangat memberatkan dirinya. Ia dan suaminya sama-sama bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Namun pembagian tugas rumah tangga lebih banyak dikerjakan olehnya seperti memasak, mencuci, dan menjaga anak dsb. Jika pergi bekerja, anak akan dibawa oleh si istri dan bukan suami.

Dalam hal pembagian tugas menjaga dan merawat anak misalnya, suaminya hanya akan membantu menjaga saat ia sedang memasak atau mandi. Dan setelah selesai memasak, tanggungan menjaga anak dikembalikan kepada si istri. Dan hampir bisa ia pastikan bahwa dalam sehari sang anak mungkin hanya beberapa menit saja bersentuhan dengan suaminya selebihnya berada dalam gendongan si istri.

Dalam sinetron, pembagian peran semacam ini jamak muncul dalam lakon para tokohnya. Semakin disuguhi nilai-nilai domestikasi seperti ini, maka secara tidak sadar perempuan juga akan semakin mengamini bahwa tugas-tugas rumah tangga itu memang hanya dikerjakan oleh perempuan dan seolah-olah memang begitu adanya (terberi). Apalagi jika dalam pandangan mereka (seperti ibu saya) bahwa sinetron ini cerminan atau refleksi realitas masyarakat, maka hanya akan semakin mengokohkan dominasi ini tanpa berani mendiskusikan beban pekerjaannya kepada laki-laki/suami.

Padahal, tugas-tugas semacam ini bukan bersifat kodrati tetapi lebih kepada hasil konstruksi masyarakat. Apakah jika laki-laki memasak atau menjaga anak lantas ‘kelaki-lakiannya’ akan menurun? Atau apakah jika laki-laki menyapu lantai maka ‘kejantanannya’ akan berubah? Tentu saja tidak.

Perilaku Mimikri

Penggambaran lain yang juga muncul dalam sinetron adalah penggambaran secara konotatif. Hal ini jelas terlihat dalam pakaian yang dikenakan oleh tokoh perempuannya. Gaun, perhiasan, dan makeup dalam sinetron menjadi kebutuhan utama perempuan. Namun demikian, lebih dari itu hal paling krusial yang berusaha ditanamkan oleh sinetron adalah gaya hidup tertentu yang sebetulnya tidak selamanya bisa diterima dan sesuai dengan keadaan seseorang, atau tata kehidupan sosial pada kebudayaan dan kelompok masyarakat tertentu (Yosenda, 1998).

Demikian juga terdapat upaya-upaya stereotipisasi yang ditanamkan dalam mengkonstruksi perempuan ideal. Bahwa perempuan harus cantik, merawat tubuh, berkulit mulus, berambut lurus, bertubuh tinggi dan langsing serta berkulit putih. Sangat jarang ditampilkan tokoh perempuan (apalagi tokoh utama) yang hitam, keriting, gemuk, berjerawat, dsb. Padahal bukan tidak ada perempuan yang demikian. Sinetron berusaha untuk meniadakan perempuan yang tidak sesuai dengan tujuan komersial, dan sebaliknya mengkonstruksi citra perempuan yang homogen.

Kehidupan sehari-hari yang direpresentasikan di dalam sinetron tak lebih dari produk superfisial yang menjual mimpi indah kepada perempuan dalam segala lapisan masyarakat. Kehidupan yang ditampilkan di sinetron adalah kehidupan masyarakat kelas menegah atas Jakarta yang sangat kontras dengan kehidupan masyarakat di Nias. Jikalaupun terdapat penggambaran keluarga miskin, itu pun dilakukan hanya untuk meneguhkan gagasan diskriminatif yang memang ada dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat kita.

Akibatnya yang dikhawatirkan adalah ada upaya peniruan (mimikri) tokoh perempuan dalam sinetron yang kemudian diinternalisasikanoleh perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Hal ini sangat berbahaya karena selain karakter tokoh perempuan dalam cerita hanya semakin menanamkan nilai-nilai patriarkal, juga realitas sinetron tidak sesuai dengan realitas sosial masyarakat Nias.

Saya sendiri menemukan perilaku mimikri ini (yang mungkin sudah lama terjadi) pada perempuan Nias (juga terjadi pada perempuan lain di Indonesia) yakni demam ‘pemutih wajah’ dan ‘smoothing rambut’. Sejumlah produk kosmetik pemutih laris manis di pasaran. Demikian juga dengan upaya meluruskan rambut dari yang ikla, keriting menjadi lurus. Dan yang lebih menyedihkan adalah bahwa upaya-upaya untuk menjadi ‘putih’ dan mempunyai rambut ‘lurus’ hanya akan mengakibatkan perempuan semakin konsumtif. Karena produk-produk ini biasanya bukan untuk digunakan sekali pakai. Tetapi terus menerus, di luar dari efek samping yang diakibatnya.

Perilaku mimikri ini pada akhirnya menciptakan imagi ideal dalam kesadaran perempuan Nias, bahwa yang cantik itu adalah putih, tinggi, langsing dan rambut lurus. Sementara perempuan Nias yang memiliki karakter kulit yang bukan putih (seperti di iklan) tetapi kuning langsat (umumnya, kecuali yang berdarah campuran) hanya akan mencerabut mereka dari diri mereka sendiri.