Menjadi Model Foto, Sekadar Hobi atau Profesi?

2
4001

Aktualisasi Diri 

Fashion Model --  Gambar Oleh © Tina Hager/arabianEye/arabianEye/Corbis
Fashion Model — Gambar Oleh © Tina Hager/arabianEye/arabianEye/Corbis

Menjadi seorang foto model merupakan salah satu cara mengaktulisasikan diri yang dapat dipilih oleh perempuan-perempuan Nias yang memiliki minat di bidang ini. Namun, mengaktulisasikan diri dalam bidang ini pun semestinya dipikirkan secara saksama oleh mereka yang siap terjun menjadi model foto.

Model foto tidak hanya berfokus pada foto yang dihasilkan, tetapi juga ada harga yang harus dibayar oleh mereka yang ingin fokus pada dunia ini. Seorang model harus paham benar arah kepentingan dari foto yang dihasilkan. Mereka harus lebih aktif mencari tahu segmen pasar digunakannya foto yang diinginkan oleh klien. Jangan malah kaget jika foto yang ternyata dipikir hanya sebagai media penambah portofolio seorang fotografer disalahgunakan untuk kepentingan pribadi yang bisa saja merugikan model secara personal.

Selain itu, seorang model foto juga harus siap jika dituntut untuk mengikuti konsep yang ditawarkan, contohnya jika konsep foto tersebut untuk iklan produk sampo atau pewarna rambut, dan diharuskan untuk memotong rambut serta mewarnai dengan warna-warna pilihan yang disesuaikan dengan keinginan klien. Untuk itu, sudah dapat dipastikan seorang model harus mengikuti kesepakatan ini. Belum lagi jika konsep yang ditawarkan malah mengharuskan menggunakan kostum yang tidak disukai, berpose yang membuat model tersebut risih untuk melakukannya. Ditambah dengan waktu pemotretan yang cukup melelahkan. Semuanya itu harus dipikirkan baik-baik oleh mereka yang punya keinginan berkecimpung menjadi seorang model foto. Hal ini harus dilalui demi mendapatkan foto yang diinginkan oleh fotografer atau agency tempat model tersebut bernaung.

Seorang model juga diharuskan cermat menilai agency yang menawarkan jasa kerja sama. Sebab, jika salah-salah bernaung dalam suatu agency akan membuat model itu tidak dapat berbuat banyak dan akan merugikan kepentingan sang model.

Hal lain yang harus menjadi pertimbangan seseorang ketika memilih menjadi seorang model yakni, dia harus paham apa yang akan dihadapi dan dijalani ketika berprofesi menjadi seorang model, sebab terkadang pekerjaan menjadi model memaksa kita untuk mengorbankan nilai-nilai yang kita anut selama ini.

Seorang yang ingin serius mengeluti dunia model jangan mudah tertipu dengan oknum-oknum yang menamakan diri mereka sebagai fotografer yang hanya bermodal kamera DSLR lalu menawarkan jasa foto-foto dengan ketidakjelasan konsep, lalu meminta untuk berpose sexy dengan pakaian yang cukup terbuka di dalam ruangan (indoor) dengan harapan mendapatkan kesempatan memotret keindahan tubuh seorang perempuan.

Photographer shooting fashion model in photo shoot --- Image by © Jorge Cruz/Corbis
Fotografer sedang membidik model foto dalam sebuah ruang pemotretan — Image by © Jorge Cruz/Corbis

Hal-hal mendasar diataslah yang harus dijadikan bahan pertimbangan bagi teman-teman yang ingin mengaktulisasikan diri menjadi seorang model foto. Dengan demikian, selain keinginan untuk mengasah bakat, sudut pandang dalam menilai jenis profesi ini pun semestinya ikut berperan. Baik atau buruknya bergelut dalam profesi ini adalah harga yang harus dibayar. Karena menjadi foto model bukan hanya ingin terkenal, melainkan harus melalui proses perjuangan yang berat, itu yang harus dipikirkan dengan baik.

Batasan Norma

Semakin berkembangnya pola pikir masyarakat nias pada umumnya, untuk menjadi seorang model dalam foto berkonsep tentu memicu banyak pertanyaan mengenai apa dan bagaimana seseorang dapat disebut sebagai seorang model foto. Apakah ini hanya sebagai apresiasi terhadap pengembangan diri dari remaja putri atau bahkan bisa dijadikan batu loncatan menjadi seorang yang profesional di bidang ini sehingga nantinya dapat menghasilkan pendapatan dari bidang ini.

Lalu, seperti apa sudut pandang adat istiadat serta budaya ono niha menyikapi pengembangan bakat generasi muda ini. Mengingat, Nias menjunjung budaya ketimuran, di mana ada pepatah Nias yang berbunyi: Oya zitebai ba gotalua zitola (banyak yang tidak boleh di antara yang boleh) yang harus dipegang teguh oleh perempuan-perempuan generasi muda Nias saat ini.

Seingat saya, seperti sepenggal lirik lagu Nias yang sering saya dengar waktu saya kecil dulu, yakni “He yaugö ono alawe nono niha, ya’ugö amaedola lakhömi mbanua, heeeee.. khöu na tekiko ba na taya lakhömi zatua..” . Lirik lagu ini memperjelas betapa pentingnya penghargaan adat terhadap perempuan Nias, dia diibaratkan mewakili kemuliaan sebuah kampung, desa, kesatuan, bahkan kemuliaan orangtuanya.

Segala yang menjadi tindakkannya, tutur katanya, serta pola pikirnya merupakan perwujudan dari semuanya itu. Jadi, apabila perempuan Nias melakukan hal-hal yang seyogianya membuat orang lain berpandangan lain terhadapnya, di sanalah kemuliaan/kehormatan keluarganya dipertaruhkan.

Berlebihan mungkin jika diadaptasikan pada zaman yang semakin berkembang ini. Namun, batasan-batasan ini pun yang semestinya dipegang teguh dalam kehidupan sehari-sehari oleh perempuan-perempuan Nias di mana pun berada.

Sejauh apa pun kaki melangkah, darah yang mengalir tetaplah ono niha. Sehebat apa pun kaki mampu berdiri, kita tetaplah perempuan Nias yang semestinya tetap menjaga nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Nias serta menerapkannya di kehidupan sehari-hari.