Ada Ibu Hebat di Balik Sukses Erza L.A. Mendröfa…

2
5227
Ernawati Laowö (kedua dari kiri) bersama anak-anak dan suaminya (almarhum). — Foto Dokumen Pribadi

Orangtua mana yang tidak bangga ketika anaknya terpilih sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Itu sebuah pencapaian yang tinggi dan prestise. Menjadi anggota Paskibraka tidaklah mudah. Selain pintar secara akademik, juga diperlukan jiwa kepemimpinan yang kuat.

Ada seorang ibu bernama Ernawati Laowö (48), domisili di Perumahan Pondok Ciptamas, Cimahi Selatan, Bandung, Jawa Barat, yang tak berhenti bersyukur kepada sang Khalik karena dikaruniai anak-anak yang pintar dan membanggakan.

Kepada Kabar Nias, Ernawati tak bisa menutupi sukacitanya. ”Secara manusiawi, saya tak bisa menjalani hari-hari saya, kalau tanpa penyertaan Tuhan, terutama setelah ditinggal oleh suami sekitar tiga tahun yang lalu. Namun, saya bersyukur diberi anak-anak yang pintar dan membanggakan,” ujar Ernawati yang ditinggal meninggal oleh suaminya, Temazatulö Mandröfa.

Anak pertama Ernawati, Erza Grace Sepdianty Mendröfa, kini sedang kuliah di Universitas Pelita Harapan (UPH). Grace mendapatkan beasiswa penuh dari UPH sehingga Ernawati sangat dimudahkan untuk biaya kuliah anaknya itu.

Sementara Erza Lasoturia Anansih Mendröfa, anak keduanya yang belajar di SMA Negeri II Cimahi, Jawa Barat, tidak saja mengharumkan nama keluarganya, tetapi ia membanggakan orang Nias dan juga orang Cimahi, Jawa Barat, karena ia berhasil menjadi salah satu anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Istana Negara, Jakarta, 17 Agustus 2014.

Tidak hanya itu, Ansih—demikian ia dipanggil di rumah dan biasa dipanggil Erza oleh sesama teman-teman sekolahnya dan teman anggota Paskibraka—kembali membanggakan Indonesia karena terpilih sebagai penerima beasiswa belajar di Amerika Serikat, tepatnya di Clearlake High School, di Negara Bagian Iowa. (Baca: Erza Lasoturia Anansih Mendröfa Peroleh Beasiswa 1 Tahun di Iowa, AS)

Adapun anak ketiganya, Erza Giffard Samuel Mendröfa, anak laki-laki satu-satunya, masih duduk di Kelas III SMP Santo Mikhael Cimahi, Jawa Barat.

Nama Erza di depan semua nama anak-anaknya diambil dari perpaduan namanya dengan suaminya, Ernawati-Temazatulö.

***

Ernawati Mendröfa, yang berasal dari Pulau Tello, Pulau-pulau Batu, Nias Selatan itu, mengaku mendidik anak-anaknya sejak kecil agar bisa mandiri. ”Saya selalu menekankan kepada anak-anak bahwa berapa pun nilai yang Anda peroleh, harus bangga karena itu hasil pekerjaan sendiri. Jika kalian dapat 100, tetapi itu dikerjakan orangtua, maka kamu dapat nilai nol,” ujar lulusan Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan  (STKIP) itu.

Ketiga anaknya lewat didikan yang tegas tetapi penuh kasih itu menjadi anak yang mandiri. Ansih tidak pernah mengandalkan orang lain dalam mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Ansih bahkan jika tidak diingatkan oleh ibunya sering bergadang hingga dini hari hanya untuk mengerjakan tugasnya.

”Begitu juga dengan Grace. Mereka sangat disiplin dan juga sangat mandiri,” ujar Ernawati.

Jiwa kepemimpinan dalam diri Ansih sudah ada sejak dulu. Ketika sebelum masuk TK, Ansih sudah bisa membaca dengan lancar. ”Saya selalu memberikan tugas kepada Ansih waktu masih belum TK untuk baca ayat Alkitab. Ketika masuk TK, gurunya sampai minta Ansih mengajari teman-temannya membaca,” ujarnya mengenang masa kecil Ansih.

Ansih juga ketika SMP sudah memimpin teman-temannya di Kader Kesehatan Remaja (KKR). Sebenarnya jika tidak dibatasi oleh Ernawati, anak-anaknya banyak terlibat dalam sejumlah organisasi. Namun, agar tidak terlalu capek, Ernawati membatasi untuk mengikuti kegiatan yang prioritas saja.

Dalam mendidik anak-anaknya, Ernawati selalu mengutamakan Tuhan. ”Saya selalu saat teduh pada pagi hari. Demikian juga waktu malam hari sebelum tidur. Saya selalu menyerahkan kehidupan kami dalam tangan Tuhan. Dengan begitu, kami mengalami dan merasakan penyertaan Tuhan sepanjang hari. Saya percaya, anak-anak saya bisa sukses jika ada campur tangan Tuhan,” katanya.

Hasilnya, ia tidak pernah repot dalam mendidik anak-anaknya. ”Puji Tuhan, kenakalan-kenakalan remaja seperti narkoba, free sex, dan lainnya dijauhkan dari anak-anak saya,” ujarnya.

***

Kepergian Ansih ke Iowa, AS, bagi Ernawati, adalah anugerah besar dari Tuhan. Ia bersyukur bahwa Ansih bisa membanggakan keluarga, membanggakan daerah tempat tinggalnya, daerah asal orangtuanya serta bangsanya.

”Saya hanya berpesan kepada anak-anak saya, ke mana pun kamu pergi, ke ujung bumi pun, pandai-pandailah membawa diri. Dalam bahasa Nias ada peribahasa, ‘moroi khöda zumangeda’. Jangan pernah  sombong, Nak,” ujar Ernawati yang pernah bekerja sebagai agen sebuah asuransi.

Bagi Ernawati, seperti dipesan oleh suaminya, anak-anak adalah titipan Tuhan yang harus terus dijaga dan dididik dengan baik. Dengan alasan itulah sejak ia berumah tangga, Ernawati tidak diizinkan bekerja oleh suaminya.

Meski berat, hidup dijalani oleh Ernawati bersama tiga anaknya. Berbagai cara ia lakukan untuk mempertahankan hidup. Membuat kue dan menitipkannya di warung-warung ia lakoni agar bisa menyintas (survive). ”Saya kadang-kadang menerima pesanan membuat kue,” ujarnya.

Beruntung saudara-saudaranya, seorang purnawirawan TNI yang ada di Jakarta, dan saudaranya yang ada di Bandung, selalu mendukungnya dalam memimpin keluarganya. ”Mereka telah banyak berbuat buat saya dan anak-anak setelah almarhum meninggal,” ujarnya.

Di balik sukses anak-anak seperti Ansih, ada ibu yang hebat yang tiada henti berjuang, terus berdoa, dan mengandalkan Tuhan.