Friday, June 21, 2024
BerandaSosokApa & SiapaMartiman Sarumaha dan Ajakan "Jangan Biarkan Desa Kosong"

Martiman Sarumaha dan Ajakan “Jangan Biarkan Desa Kosong”

Oleh Apolonius Lase

(Apolonius Lase, Praktisi Media; Pemerhati Nias; Tinggal di Jakarta)

==========

Ada semacam kebiasaan di masyarakat, khususnya di Kepulauan Nias, bahwa setelah tamat dari sekolah, langkah berikutnya adalah merantau. Akhirnya, yang terjadi, desa-desa kosong tak ada lagi penduduk yang produktif yang bisa diharapkan membangun desa atau kampung. Padahal, tinggal di kampung bukan berarti kampungan. Hidup di desa tidak selalu berarti ‘ndeso’.

Pada Minggu, 5 Mei 2024, di sebuah tempat di daerah Sabang, Jakarta Pusat, perbincangan tentang pentingnya generasi muda untuk tetap tinggal di kampung berlangsung Bersama Dr Martiman S. Sarumaha.

Rektor Universitas Nias Raya (Uniraya) ini terus mengusung pesan ini dan terus disampaikan kepada mahasiswa, termasuk kepada para alumni.

“Baru-baru ini 600 mahasiswa menamatkan pendidikannya di Uniraya. Tahun lalu, 500-an mendapatkan gelar kersajanaannya. Saya terus mengingatkan mereka bahwa jadilah agen perubahan di kampung. Jangan pernah biarkan desa kosong tanpa ada yang mengolah,” ujarnya.

Martiman sangat prihatin dengan kondisi kampung-kampung yang sebenarnya sangat kaya dengan sumber daya. Akan tetapi, karena ketiadaan tenaga yang mengolah, jadilah potensi yang tersedia terbengkalai, tidak bisa menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat setempat.

Bagi Martiman, dirinya sebagai bagian dari civitas akademika, tugasnya adalah terus memberi pencerahan kepada masyarakat, lewat berbagai kegiatan pengabdian masyarakat dari lembaga pendidikan yang dipimpinnya, “Ini memerlukan dukungan dari para alumni”.

Keberadaan para alumni ini bisa menjamin keberlanjutan bagi program-program di desa. “Bayangkan, jika hanya sendirian membuat program di kampung-kampung, pasti saya tidak akan mampu, dan tidak akan berjalan. Itulah kemudian yang membuat saya terinspirasi untuk mengajak para alumni membuktikan bahwa kita bisa membangun daerah kita sendiri,” ujar ayah satu putri ini.

Kepada penulis, Martiman menyampaikan bahwa dirinya sedang menjalankan program pendampingan kepada masyarakat di desa tempat kelahirannya sebagai proyek percontohan (pilot project).

*

Menarik mencermati slogan “jangan biarkan desa kosong”. Tak dimungkiri, keberadaan desa sebenarnya sangat penting bagi kelangsungan sebuah kota. Kota–yang notabene penduduknya kebanyakan tidak bisa memproduksi apa yang dihasilkan desa–sangat memiliki ketergantungan pada desa.

Coba bayangkan jika penduduk di desa tidak menanam cabai atau sayur-sayuran, warga kota akan pasti sangat kelimpungan mencari cabai dan sayur-sayuran.

Dengan begitu, seperti disampaikan Martiman, tinggal di desa dan tinggal di kota sama-sama penting. Orang desa bergantung kepada orang kota. Sebaliknya, orang kota juga bergantung kepada orang desa.

“Bagi saya tidak ada dikotomi antara orang kota dan orang desa. Saya bangga menjadi orang desa. Saya bisa Bertani, bisa menanam sayur dan menjualnya kepada orang kota. Orang kota juga menyediakan kebutuhan kita orang desa, seperti bahan-bahan yang tidak bisa dihasilkan di desa. Orang desa butuh garam dan bahan bangunan tinggal beli kepada orang kota,” ujarnya.

Baca juga:  Tok! MK Tolak Gugatan PSI Soal Batas Usia Capres-cawapres

*

Dalam konteks Kabupaten Nias Selatan, lewat lembaga Pendidikan yang dipimpinnya, Martiman selalu berdiskusi dengan civitas akademika bahkan mendorong mahasiswa untuk melakukan riset demi kemajuan Nias Selatan.

Setidaknya, menurut Martiman, ada tiga hal penting yang mengerucut yang selalu menjadi perhatian para alumni, yaitu pertama bidang Pendidikan yang harus terus dikembangkan.

“Sebuah transformasi yang diinginkan hanya bisa berjalan jika masyarakat memperoleh pendidikan yang baik.

Kedua, bidang Kesehatan. Masyarakat yang sehat pasti akan bisa bekerja dan melakukan aktivitas ekonomi untuk mengubah taraf hidup keluarganya. Bidang Kesehatan ini, kata Martiman, menurut para alumni, adalah hal yang sangat penting ditingkatkan.

Ketiga, aksesbilitas. “Masih ada banyak daerah yang belum bisa dijangkau karena ketidaktersedianya jalan atau jembatan. Bagaimana masyarakat desa bisa mengkases pendidikan dan kesehatan jika tidak ada jalan yang baik,” ujarnya.

*

Di Kepulauan Nias saat ini sudah ada dua universitas, di luar sekolah tinggi lainnya, yakni Uniraya dan Unias. Setiap tahun perguruan tinggi ini meluluskan ratusan sarjana.

Kita berharap para alumni memiliki keinginan untuk mau membangun desanya dengan tetap tinggal di kampung dan berusaha menjadi agen perubahan.

Dengan ilmu yang sudah didapatkan, para alumni secara pelahan melakukan transformasi dengan catatan ia tahu apa yang akan dilakukannya. Sebab, kalau program transformasinya tidak jelas, ya, tak ada guna juga seorang sarjana ada di desa.

Karena itu penting kita dorong universitas yang ada di Kepulauan Nias agar membekali para alumninya, bagaimana mereka bisa hidup dan menggairahkan perubahan di kampung halaman mereka.

Dengan begitu, ajakan dari Pak Rektor Martiman Sarumaha, agar para alumni tidak malu tinggal di kampung bisa terwujud dan menjadi model untuk segera membangun Nias Selatan menjadi lebih sejahtera.

 

==========

kabarnias.com menerima tulisan (opini/artikel) terkait isu-isu aktual masalah ekonomi, politik, hukum, budaya dan lainnya. Tulisan aslinya, belum pernah dimuat ke media lain. Tulisan disertai dengan lampiran identitas seperti KTP/SIM, foto (minimal 700 px dalam format JPEG/posisi lanskap), data diri singkat (dicantumkan di akhir tulisan). Panjang tulisan 4.500-5.500 karakter. Tulisan tidak dikirim dalam bentuk lampiran email, namun langsung dimuat di badan email. Redaksi berhak mengubah judul dan sebagian isi tanpa mengubah makna. Isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis. Kirimkan tulisan anda ke email : kabarniascom@gmail.com

RELATED ARTICLES

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments