Keberagaman dalam Bingkai Persatuan

0
21
Ilustrasi: Pancasila adalah pemersatu kita, bangsa Indonesia, yang Bhinneka Tunggal Ika. —Foto: Maklumat.id

Oleh Yasanto Lase, Mahasiswa di Salah Satu Sekolah Tinggi Teologi
di Kota Batam, Program Studi PAK

Senang bisa mengisi ruang opini di Kabarnias.com kiranya bisa bermanfaat bagi pembaca setia Kabar Nias dan juga meningkatkan kepedulian kita akan kemajemukan/keragaman yang ada di sekitar kita dan menjunjung tinggi nilai-nilai perbedaan dalam rangkaian perbedaan yang ada.

Segala upaya dilakukan dalam mencapai persatuan tidak hanya terjadi sekarang-sekarang ini, tetapi jauh sebelumnya, bangsa ini sudah berjuang demi persatuan. Sebagaimana dicatat oleh sejarah, bangsa Indonesia yang telah bersatu padu melalui Sumpah Pemuda pada 1928 dengan pernyataan yang lugas, singkat dan padat: satu tanah air, tanah air Indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Adalah fakta, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kita adalah negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau, adat-istiadat, budaya, bahasa daerah, dan kepercayaan serta suku dan agama.

Saya sangat senang mengikuti terus pidato Presiden Joko Widodo, di mana pun, di kesempatan mana pun, yang terus menyampaikan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang besar. Semua kebinekaan yang kita punya harus kita jaga. Sebab itu adalah modal besar bangsa ini untuk menjadi unggul bersaing dengan bangsa lain.

Ketika bapak Presiden bertemu dengan masyarakat bawah, rakyat jelata, semangat persatuan ini terus diembuskan. Ia dengan bahasa sederhana menyapa kita semua agar terus menjaga persatuan. Pemberian hadiah berupa sepeda ketika ada warga yang bisa melafalkan Pancasila, menyebut nama-nama ikan dan nama-nama provinsi yang ada di Indonesia, tentu hanyalah simbol bahwa betapa pentingnya kita memupuk rasa cinta terhadap negara kita.

Presiden kita selalu menyampaikan bahwa keberagaman yang dimiliki bangsa kita menjadi kekuatan dalam merangkai persatuan Indonesia. Tidak dimungkiri, perbedaan budaya, agama, suku dan ras, sering kali disertai dengan pandangan yang berbeda dalam lingkup persatuan itu sendiri, di mana satu dengan lainnya tidak mau diposisikan di urutan yang kedua, selalu yang pertama dan yang terbaik.

Bahkan, yang perlu kita waspadai, tidak dimungkiri bahwa ada saja kelompok masyarakat yang memanfaatkan berbagai perbedaan yang kita miliki untuk kepentingan sesaat dengan adu domba, membangun konflik di antara anak bangsa sehingga persatuan kita menjadi terkoyak. Kita sepakat bahwa setiap kita tidak akan pernah mau jika bangsa kita menjadi tercerai berai. Hanya lewat persatuan bangsa kita akan bisa selalu bertahan dan makin bisa bersaing dengan bangsa lain.

Hemat saya, sikap-sikap egoisme dan pengutamaan diri perlu kita kikis agar kita bisa menjalani kebinekaan ini. Kita perlu terus saling menghargai, saling menghormati. Seperti yang terus dikampanyekan oleh Presiden kita, bahwa kita mengutamakan persatuan. Kita lebih mementingkan kepentingan bangsa kita.

Pada kesempatan ini, baiklah kita menyadari sebuah kesempatan yang baik kita bisa saling mengenal, saling berbagi, saling peduli, saling menghargai, saling mengasihi, di bawah payung Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kita semua berbeda, kita tidak pernah sama, tetapi Pancasila menyatukan kita dalam mencapai persatuan Indonesia.

Dalam lingkungan hidup yang majemuk ini, kita tidak bisa hidup sendiri, kita tidak bisa berjalan dengan sistem yang kita mau, tetapi diatur oleh tatanan sistem pemerintahan NKRI. Sebagai generasi bangsa, kita wajib ambil bagian dalam mengisi kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa kita dari penjajah, dengan berjuang mendapatkan pendidikan yang layak, berjuang untuk kehidupan yang layak, kebebasan berpikir dan berpendapat, dan lainnya yang telah diatur oleh konstitusi kita, UUD 1945.

Keanekaragaman kita adalah warna kehidupan yang kuat, tidak lagi menganggap kita yang benar, kita yang pintar, kita yang hebat, kita yang kuat, kita yang terdepan, tetapi kita adalah masyarakat Indonesia, “satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yakni Indonesia”.

Bagaimana menghadapi tahun politik 2019? Semua punya pandangan yang berbeda-beda. Ada yang antusias, ada yang pro ke salah satu calon, ada yang kontra, semua punya alasan masing-masing. Apakah perbedaan pendapat, pilihan, pandangan, menunjukkan kita berbeda? Sama sekali tidak. Perbedaan pendapat, pandangan, pilihan, bahkan cara pikir kita adalah sebuah realita yang tidak dapat di bantah keberadaannya. Itulah kemajemukan yang ada.

Mengidolakan siapa pun, adalah hak, tetapi yang harus diperhatikan adalah bukan perbedaan tersebut yang memisahkan kita dalam kemajemukan yang ada, justru perbedaan tersebut membawa kita menjadi lebih solid dalam menegakkan keberagaman dalam Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai bagian dari keberagaman, kita harus mampu menerima perbedaan dan tidak sedang berjuang menyamakannya, tetapi perbedaan yang ada membuat kita menyadari bahwa kita harus bersatu dan bersama, tidak lagi dibatasi oleh tembok pilihan kita, tembok golongan kita, tembok ras kita, tembok suku, agama kita, tetapi kita adalah satu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketika tembok perbedaan itu lebih tinggi daripada persatuan, perbedaan menjadi kelemahan tetapi ketika perbedaan itu kita lihat sebuah keunikan dalam keberagaman, itu menjadi kekuatan yang utuh dalam menegakkan persatuan.

Dalam perspektif sebagai masyarakat awam, perbedaan yang ada saat ini ada bisa menjadikan jurang pemisah antara kita yang berbeda, tetapi betapa celakanya kita ketika memahami bahwa tidaklah membawa kita lebih kelihatan tidak berbeda ketika kita menonjolkan perbedaan tersebut.

Perbedaan pandangan yang ada adalah dinamika dalam keberagaman dan langkah konkretnya adalah kita tetap menjunjung tinggi Persatuan Indonesia. Melalui perbedaan yang ada, marilah kita menunjukkan solidaritas, toleransi, dan norma-norma yang baik yang tidak memperkeruh suasana, melalui sikap-sikap yang elegan, yang terpuji dalam menyampaikan setiap bentuk perbedaan kita.

Dampak Media Sosial

Lewat tulisan ini, hubungannya dengan Pemilu 2019, media sosial kini begitu berperan. Ada banyak sekali pesan-pesan bertaburan. Bisa jadi kita dibuat baperan dengan berbagai pesan yang disampaikan. Namun, ingat bahwa apa pun yang disampaikan di media sosial belum tentu menyampaikan pesan berdasarkan fakta. Ada banyak hoaks, berita bohong yang sengaja disebarkan.

Bagi saya, apa pun pilihan kita biarlah nanti itu kita buktikan di bilik suara. Semua itu adalah hak kita. Namun, perhatikan, pesan di akun media sosial yang kita punya hendaknya tidak menjadi pemecah persatuan kita. Kita ingin apa yang kita sampaikan di media sosial haruslah berdasarkan fakta. Bicaralah dengan data yang bisa dipertanggungjawabkan.

Ada banyak tata cara bermedia sosial yang kita ketahui. Memang kita bebas, tetapi ada batasan-batasan yang harus diperhatikan melalui pagar etika, lewat aturan yang diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Kita perlu mengecek terlebih dahulu apakah yang kita tuliskan, yang kita bagikan di akun media sosial kita adalah berita yang berdasarkan fakta atau malah berita bohong (hoaks).

Saya mengingat betul peribahasa Nias yang sering disampaikan ayah saya (almarhum). Tufoi mbeweu bulu lato atö muhede’ö. Sebelum berkata-kata, bersihkan bibirmu dengan daun pohon ‘lato’. Di Nias dikenal, daun pohon lato memiliki racun. Ketika mengenai kulit akan mengakibatkan iritasi seperti terbakar. Intinya, kita perlu berhati-hati dalam bermedia sosial. Apa pun yang kita bagikan, harus kita pahami dulu secara matang. Jarimu harimaumu.

Sebaliknya, mari kita menjaga persatuan kita lewat media sosial dengan menyebarkan pesan-pesan positif, yang menginspirasi, serta tetap memberikan pengutamaan kepada pihak lain, mengedepankan kemanusiaan, serta tetap menjaga persatuan kita sebagai bangsa Indonesia.

Kita berbeda adalah anugerah dari Tuhan. Perjalanan bangsa ini membuktikan bahwa hingga sekarang pun, meskipun kita beragam, terbukti bangsa kita masih kokoh dan semakin diakui dunia internasional bahwa kita adalah negara kuat. Kesuksesan negara kita dalam menyelengarakan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang telah membuktikan itu semua. Negara kita pun kini tidak dipandang sebelah mata.

Berita Terkait

Pelajar di Kota Gunungsitoli Kampanyekan Gerakan Berinternet... GUNUNGSITOLI, KABAR NIAS — Perkembangan teknologi melalui sarana komunikasi dan telekomunikasi berkembang sangat cepat. Dari 257 juta penduduk, 88 jut...
Suara Keren, Irda dan Trini Daeli Jadi Perbincangan di Media... Iseng sore-sore main gitar di pintu rumah, dua kakak beradik asal Desa Sitölubanua, Lahömi, Nias Barat, Irda dan Trini Daeli, merekam aksi mereka meny...
“Online Campaign”, Arena Promosi atau Arena Peng... Oleh Rendi Mark Sowaha Duha Aktivis GMNI Bandung, Mahasiswa Ilmu Pekerjaan Sosial STKS Bandung Dunia teknologi informasi berkembang dengan beg...
Menggugat Keagamaan dalam Keindonesiaan Kita Oleh Pastor Postinus Gulö OSC Hari-hari ini saya berpikir keras tentang keagamaan dalam keindonesiaan kita. Setiap kali ada pilkada dan pemilu, suh...