KEARIFAN LOKAL

Memaknai Ungkapan “Lõ Moli Dataŵo si Ha Tambai”

0
437
Ilustrasi. Sumber: Corbis

Oleh Dr Sadieli Telaumbanua, M.Pd., MA

Untuk menyatakan kegembiraan atau untuk memuji-menyanjung seseorang biasanya diwujudkan dengan bertepuk tangan. Saah satu simbol kegembiraan, sanjungan bahkan penghormatan adalah  dengan tepuk tangan.

Tidak dimungkiri bahwa tepuk tangan pasti membahana apalagi jika yang disambut itu adalah seorang pejabat negara dan/atau artis terkenal, seperti Dewi Perssik atau Julia Perez. Hampir tidak pernah ada tepuk tangan bagi seorang gubernur atau bupati/wali kota/sekda/wakil rakyat (baca: pejabat) yang mencuri uang negara ketika memasuki ruang sidang pengadilan.

Diilhami oleh pengalaman, leluhur masyarakat Nias menginsafi bahwa tepuk sebelah tangan tidak akan menghasilkan bunyi apa-apa. Menghabiskan energi. Pekerjaan sia-sia. Boleh jadi telapak tangan terasa pegal jika tidak hati-hati. Untuk mendeskripsikan tepuk sebelah tangan ini akhirnya tercipta sebuah ungkapan, lõ moli dataŵo si ha tambai (terjemahan bebas: tepuk sebelah tangan tidak akan menghasilkan bunyi).

Bertemali dengan ungkapan ini, kita diingatkan sebuah pesan dari seorang ahli filsafat berkebangsaan Yahudi yaitu “nemo enim nostrum sibi vivit, et nemo sibi moritur ‘ (Inggris: for none of us lives to himself, and no one dies to himself), dalam bahasa Indonesia diartikan “tidak satu pun dari kita yang hidup untuk dirinya sendiri dan tidak ada yang mati untuk dirinya sendiri”.

Jelas tergambar bahwa telapak tangan sebelah membutuhkan telapak tangan lainnya untuk menghasilkan bunyi. Analog dengan ungkapan di atas, sebuah telapak tangan tidak hanya untuk dirinya sendiri. Diperlukan kerja sama. Jika tidak, akan berbuahkan kekecewaan.

Di negeri yang “gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo”, kekayaan alam melimpah sehingga tenteram dan makmur, ini tidak sedikit yang merasa pandai. Merasa hebat sendiri. Tidak memerlukan bantuan sesama. Dapat dihitung dengan jari orang yang pandai merasa. Berlaku prinsip, siapa lu, siapa gua. Emang lu siapa gua? Individualisme dan egoisme telah membelenggu kehidupan sebagian besar masyarakat kita. Kapan kedua telapak tangan ini menghasilkan melodi yang indah?

Bagaimana dengan masyarakat pemilik ungkapan ini? Tidak terlalu sukar mengatakan, setali tiga uang. Banyak di antara masyarakat Nias yang masih menggunakan sebelah tangan untuk bertepuk. Ha ya’ia zabõlõ, ha yaia zonekhe, ha yaia zikayo, ha ya’ia zalawa faka, lõ moguna niha bõ’õ, lõ moguna dalifusõ sato.

Dan, yang lebih menyakitkan adalah sikap mondrõni ahe dan mangõhõndrõgõ sesama atau saudara sendiri bagi sebagian besar masyarakat Nias. Senang melihat sudaranya yang sedang susah dan susah melihat saudaranya yang merasakan kesenangan, demikian ungkapan yang relevan untuk karakter seperti ini. Apabila tindak ini yang dipelihara, yakinlah bahwa cita-cita menjadi masyarakat yang sejahtera, sehat, cerdas, dan berbudaya  hanya sebatas penghias bibir.

Saya tidak tahu pasti apakah karena peribahasa, lõ fao ba dugela zi faoma silatao sehingga masyarakat kita berjalan sendiri-sendiri? Entahlah. Semoga hal ini sifatnya temporer, tidak permanen.

Saat ini kata maju telah menjadi perbendaharaan para petinggi di negeri ini, termasuk mereka yang bernafsu membangun bangsa yang maju. Amati saja visi-misi para kandidat kepala daerah. “Terwujudnya kota/kabupaten  X  yang maju, mandiri, dan sejahtera” sekadar sebuah contoh. Gagasan ini sangat terpuji.

Pada tataran ini, kerja sama (kooperatif) menjadi kata kunci. Atau kembali pada ungkapan, lõ moli dataŵo si ha tambai. Seiring dengan itu, kita diingatkan oleh MT Zen yang dikutip kembali oleh Hendra Gunawan (Kompas, 1 September 2015) bahwa bangsa yang maju ditandai dengan (1) berpegang pada prinsip etika yang kuat, (2) berdisiplin tinggi, (3) bertanggung jawab, (4) menghormati hukum, (5) menghargai hak warga lain, (6) senang bekerja, (7) bekerja keras untuk menabung dan berinvestasi, (8) berkemauan untuk bertindak hebat, (9) menghargai waktu, dan (10) memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Apakah ciri-ciri ini telah menjadi agenda para kandidat kepala daerah di Kepulauan Nias?  Perlu disimak dalam visi-misi mereka.

Implikasi bagi Pemimpin

Kepemimpinan adalah seni yang menjadikan orang lain melakukan apa yang Anda inginkan atas kesadarannya sendiri. Esensi memimpin adalah memberdayakan. Para pakar kepemimpinan mengartikannya dengan memengaruhi.  Itulah sebabnya kepemimpinan transformasional dan kontruktifistik menjadi populer, yaitu kepemimpinan yang membantu orang-orang mencapai potensi paripurna (Kenneth Blanchard).

Atau seperti yang diungkapkan oleh John Quincy Adams, jika tindakanmu menginspirasi orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih dan menjadi lebih, Anda adalah seorang pemimpin. Kepemimpinan adalah kemampuan dan kemauan untuk menggalang orang mencapai sebuah tujuan dengan karakter yang membangkitkan.

Pemimpin dan manajer memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Sekadar direnungkan berikut ini dikemukakan perbedaan kedua konsep dimaksud.

PEMIMPIN MANAJER
Memiliki pengaruh Mengandalkan otoritas
Memiliki pengikut Memiliki anak buah
Menumbuhkan kepercayaan Bergantung pada pengawasan
Fokus pada orang dan visi Fokus pada sistem dan struktur
Menciptakan dan mengembangkan Mengelola dan mempertahankan
Visi ke depan Mengejar target
Perpektif jangka panjang Perspektif jangka pendek
Mengambil risiko dan tantangan Mencari stabilitas dan kemapanan
Bertanya apa dan mengapa Bertanya bagaimana dan kapan
Fokus pada proses Fokus pada hasil

(Disarikan dari berbagai sumber)

Jelas tergambar bahwa kepemimpinan  adalah melakukan hal-hal yang benar, sedangkan  manajemen adalah melakukan dengan benar (Peter Drucker). Meski tidak semua manajer adalah pemimpin, alangkah baiknya jika kita dapat menjadi manajer sekaligus pemimpin.

Seorang manajer biasanya hanya akan mengikuti standar aturan yang sudah ada sehingga dia takut melakukan sesuatu yang berbeda agar terhindar dari risiko. Tidak demikian dengan seorang pemimpin, adakalanya keluar dari “pakem manajerial” sehingga menghasilkan sesuatu yang berbeda dan luar biasa. Cara berpikir seorang pemimpin harus lebih besar, luas, dan lebih ber-jangka panjang dari sekadar cara berpikir manajer.

Para kepala daerah sejatinya seorang pemimpin dan manajer. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 setidaknya memberikan payung hukum kepada kepala daerah untuk menjadi pemimpin transformasional melalui diskresi yang bertanggung jawab.

Jenderal Joseph Franklin pernah berujar, “Pemimpin yang baik akan menunjukkan keberanian, tetapi meminimalkan risiko.

Demikian juga Stephen Covey mengatakan, “Kepemimpinan yang efektif menempatkan hal yang penting sebagai hal yang utama”.

Kembali pada kearifan masyarakat Nias, lõ moli dataŵo si ha tambai, setidaknya ada dua hal yang menjadi pembelajaran bagi seorang pemimpin, yakni (1) kemampuan menjalin komunikasi dan (2) kemampuan memberdayakan.

Pertama, sejatinya pemimpin mampu menjalin ikatan batin dengan semua orang. Kerja  sama tim yang baik hanya dapat tercipta saat seorang pemimpin mampu menjadi pemimpin sekaligus pelatih dan sahabat bagi orang-orang yang dipimpinnya. Hal ini tidak diartikan sebagai “larut” bersama bawahannya. Mesti ada ciri pembeda antara pemimpin dan yang dipimpin.

Seorang pemimpin harus dekat dengan semua bawahannya, tetapi pada saat bersamaan harus ada jarak yang cukup arif. Dalam kaitan ini diperlukan kerendahan hati, kebijaksanaan, sekaligus ketegasan agar sang pemimpin tetap terjaga kewibawaannya.

John Maxwell mengatakan, pemimpin harus cukup dekat agar bisa menjalin hubungan dengan bawahannya, tetapi juga harus cukup jauh agar bisa memotivasi mereka.

Pemimpin mesti komunikatif dengan semua orang. Pemimpin tidak dapat menjalankan fungsi dan peran kepemimpinannya dengan baik apabila tidak sanggup membagikan visi, tanggung jawab, beban, dan pekerjaannya kepada anak buahnya. Semua itu hanya dapat dilakukan dengan cara komunikasi yang baik, positif, sehat, dan konstruktif.

Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, semasa menjadi Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, termasuk saat ini, telah memberi contoh berkomunikasi dengan rakyat melalui strategi blusukan yang oleh Tom Peters dalam bukunya In Search of Excellence menyebutnya sebagai Management By Wandering Around (MBWA), sebuah strategi menemukan dan mengidentifikasi masalah secara langsung di tempatnya.

“Anda harus hidup bersama orang-orang untuk mengetahui masalah mereka,” demikian pendapat Forsyth.

Dan secara tegas Ralph Nichols mengatakan, “Cara terbaik untuk memahami orang lain adalah dengan mendengarkan mereka”.

Eleanor Roosevelt berkata, “Untuk menghadapi dirimu sendiri gunakan pikiranmu, tetapi untuk menghadapi orang lain gunakan hatimu”.

Kedua, keberhasilan pemimpin akan terlihat pada kemampuannya mengembangkan orang-orang yang dipimpinnya. Jika orang yang kita pimpin tidak berubah dan berkembang berarti selama ini kita belum melakukan fungsi kepemimpinan dengan maksimal. Jadi, jika kita sukses mengembangkan anak buah, sebenarnya kita sudah sukses mengembangkan kemampuan diri kita sebagai pemimpin.

Jack Welch pernah berkata, “Sebelum Anda menjadi pemimpin, sukses berarti mengembangkan diri Anda; saat Anda menjadi pemimpin, sukses berarti mengembangkan orang lain.

Hal serupa ditegaskan oleh Bill Gates (pemilik Microsoft, orang terkaya di dunia) bahwa pemimpin adalah orang yang bisa mengembangkan orang lain.

Kepemimpinan adalah membuka potensi orang lain untuk menjadi lebih baik (Bill Baradley). Saat kita mengembangkan orang lainlah kita akan sukses secara permanen.

Dalam Harian Kompas, 1 September 2015, dikutip sebuah kontemplasi Megawati, Presiden Republik Indonesia kelima, bahwa pendiri bangsa mampu menyintesakan pemikirannya sekaligus membahasakan kehendak rakyat sebagai satu cita-cita bersama, Indonesia Merdeka. Itu terjadi dalam suasana terjajah.

Kini, di alam kemerdekaan justru terjadi kesenjangan pemahaman antara elite dan rakyatnya. Bahkan, amanat penderitaan rakyat tidak bisa ditangkap dan disuarakan dengan baik dalam suasana kemerdekaan. “Kaoko ba hili, ta’uli ba ndraso; faolo gõi ndra’ugõ ba ufaolo gõi ndra’o fa’a’ozu ita faofao” tampak hanya sebatas ucapan di lidah belum merasuk ke dalam jiwa.

Kutipan di atas mengingatkan kita bahwa lõ moli dataŵo si ha tambai. Pemimpin dan yang dipimpin mesti larut dalam mimpi yang sama.

Dengan sikap idealis, Gerald Brooks mengatakan bahwa jika Anda menjadi pemimpin, Anda kehilangan hak untuk memikirkan diri Anda sendiri. Seorang pemimpin yang memberikan keteladanan penuh akan dihargai oleh semua anak buahnya.

Korelasi dengan Pilkada

Dalam kaitannya dengan pemilihan kepala daerah pada 9 Desember 2015 di Kepulauan Nias, kiranya masyarakat jeli memilih calon yang mengutamakan kerja sama dengan seluruh rakyat.

Para kandidat yang bekerja sendiri (baca: swalayan) mengabaikan rekannya (baca: wakilnya dan seluruh pemangku kepentingan) tidak perlu diberi kesempatan memimpin di masyarakat di Pulau Nias.

Saya yakin bahwa seluruh masyarakat telah mengetahui mereka-mereka yang memiliki sifat egois, jalan sendiri, “makan” sendiri termasuk “tidur” sendiri.

Sekali lagi mari kita memilih pemimpin di Kepulauan Nias yang memiliki karakter luomewõna (dalam mitos Nias dituturkan sebagai pemimpin yang rendah hati, mempersatukan, merestorasi, dan penuh dedikasi serta sifat altruisme). Lõ moli dataŵo si ha tambai dapat menjadi rema dalam kehidupan pemimpin masyarakat Nias kini dan ke depan.***

Berita Terkait

“Ebua Hugõhugõ Zato”, Ekspresi Kebersamaan dalam... Oleh Dr. Sadieli Telaumbanua, M.Pd., M.A. Berteriak adalah salah satu perilaku manusia. Entah itu dengan suara pelan ataupun dengan lantang. Orang ...
Menko Polhukam: Kepala Daerah Harus Beri Teladan JAKARTA, KABAR NIAS — Sebagai pemimpin, para kepala daerah yang dilantik harus bisa memberikan teladan bagi bawahan. Keteladanan ini dipandang sudah m...