Yanto Odus Lase: Terus Promosikan Pariwisata Nias

0
155

Sejak kecil dia sangat senang memandangi laut sehingga jiwanya tenang. Saat memandang cakrawala, jiwanya bergelora. Ada harapan, kelak dirinya bisa melewati cakrawala itu. Mimpinya, ingin seperti Marco Polo yang bisa keliling dunia. Harapan itu tercapai. Ia berhasil bekerja sebagai karyawan di sebuah kapal pesiar. Ia pun berkeliling dunia.

Sebuah awal yang baik. Bahkan, lewat petulangannya itu, ia bisa mendapatkan semua yang diinginkannya, termasuk keluarga di Belgia. Dari tempat itulah kini dia merajut mimpinya yang lebih besar lagi, utamanya soal pariwisata yang merupakan bidang keahliannya. Dialah Yanto Odus Lase (37), biasa dipanggil Yanto.

“Saya lahir dari keluarga besar yang sangat sederhana, anak ke-6 dari 11 bersaudara. Saya lahir dan besar di daerah pedalaman di Nias sebelah utara, di Desa Lahemböhö (Kecamatan Alasa, Nias Utara). Saya anak dari Fatimböwö Lase dan Safira Gulö (Ama/Ina Roza Lase),” begitu dia mengawali pembicaraan dengan Kabarnias.com, 10 Oktober 2018. Ia lahir pada 20 Juli 1981.

Dari kecil, Yanto sangat mengagumi fenomena alam, seperti ombak. Ia bisa berdiri di pantai dan memandangi gulungan ombak selama berjam-jam setiap hari. “Itu atraksi yang tidak pernah membosankan. Jiwaku pun menjadi relaks dan gembira,” kata Yanto.

Ketertarikannya dengan pariwisata dimulai sejak ia kecil. Dari saat duduk di bangku sekolah dasar, ia sangat menyukai semua mata pelajaran yang terkait dengan pariwisata dan bahasa asing. Lewat pariwisata dan pelajaran bahasa asing itu ia bisa belajar banyak tentang dunia luar.

“Itu atraksi yang tidak pernah membosankan. Jiwaku pun menjadi relaks dan gembira,” kata Yanto.

Hal itu berlanjut ketika duduk di kelas II SMK BNKP di Gunungsitoli jurusan Pariwisata, ia meninggalkan rumah orangtuanya. Sambil bersekolah, ia menyambi bekerja di PT Gowe Tours dan Nias Holidays. Setelah tamat dari SMK, ia memantapkan ilmunya di bidang pariwisata dengan kuliah di Universitas Sahid Jakarta jurusan Manajemen Pariwisata.

“Setelah lulus kuliah, saatnya saya mengejar impian saya untuk menjadi seperti Marco Polo sang pemberani dan tangguh,” kata ayah dari Hozeki Léon Massa Lase.

Ia pun berkesempatan mendapatkan pekerjaan di kapal pesiar Costa Cruise-Italia setelah bekerja setahun di Hotel The Ritz-Carlton, Jakarta. “Saya bekerja di perusahaan kapal pesiar selama 6 tahun. Kemudian, pada 2013, saya pindah dan tinggal di Brussels, Belgia. Saya bekerja di salah satu hotel bintang lima yang sangat terkenal di Belgia,” kata suami dari Anne-Sophie Sophie Marie Pirot, seorang dokter spesialis berkebangsaan Belgia.

Pariwisata Indonesia

Di samping kesibukan kerja, ia kini juga cukup aktif pada pendirian IBA (Indonésie Belge Association) atau Asosiasi Belgian-Indonesian. IBA merupakan organisasi nonprofit yang terdaftar di Moniteur Belge dengan ID Facebook: IBA-indonésie belge association. Asosiasi ini fokus di empat bidang, yaitu budaya, sosial, ekonomi, dan pendidikan. Saat ini IBA cukup aktif dalam penggalangan dana untuk misi solidaritas di Sulawesi Tengah, yang baru-baru ini dilanda gempa dan tsunami. Pada September 2019, IBA berencana mengadakan cultural gala dinner dengan mengangkat Nias dan Papua sebagai host.

Bersama istri, Anne-Sophie Sophie Marie Pirot

Bagi Yanto, bicara pariwisata Indonesia, tidak terlepas dari pariwisata di tanah kelahirannya, Kepulauan Nias. Obsesinya, ia ingin berkontribusi untuk membangun Nias menjadi primadona wisata Indonesia seperti yang dulu pernah terjadi pada 1990-an, meskipun ia kini berada jauh di negeri orang. “Sejak April 2018, saya bersama istri dan seorang anak tinggal di Luksemburg, Belgia,” kata Yanto.

Dia pun secara konsisten terus mempromosikan Nias di setiap kesempatan. Ini bisa dilihat dari status-statusnya di media sosial. Tidak hanya itu, untuk memperkenalkan kebudayaan Nias, ia memutuskan merayakan pernikahannya dengan ono alawe Belgia digelar di Museum Pusaka Nias.

(Baca: Ketika Budaya Nias dan Belgia Dipersatukan)

Agar Kepulauan Nias bisa meraup benefit dari pariwisata dunia, menurut Yanto, diperlukan strategi jitu agar Kepulauan Nias bisa menjadi daerah tujuan wisata yang terus dikunjungi baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan Nusantara.

“Indonesia kini sudah mulai fokus untuk mengembangkan pariwisatanya dengan menciptakan annual event calendar. Saya lihat, Nias juga termasuk dalam daftar dengan mempresentasikan Festival Ya’ahowu. Ini awal dari kebangkitan pariwisata Nias,” kata Yanto.

Yanto sedikit memberikan masukan terkait penentuan waktu pelaksanaan Festival Ya’ahowu Nias 2018, yang berdekatan dengan pelaksanaan kejuaraan selancar internasional yang digelar oleh WSL, Agustus 2018. “Menurut saya, event itu jika bisa jangan diadakan pada waktu yang berdekatan. Diusahakan dipisah supaya memancing minat wisatawan mengunjungi Nias pada event yang berbeda. Dengan cara itu, frekuensi kunjungan wisatawan ke Nias bisa meningkat,” kata Yanto.

Kalau dalam setahun ada tiga event, misalnya pada tahun 2019 rencana mau diadakan juga Nias Sail 2019, menurut dia, perlu diatur sedemikian rupa supaya antara satu event dengan event lainnya berselang 4 bulan. Dengan jarak yang diatur sedemikian rupa, di bidang promosi atau marketing akan bisa menaikkan rating Nias karena sering dipromosikan dengan event yang berbeda-beda.

Peran Pemerintah

Isu tentang struktur dan infrastruktur harus menjadi fokus utama pemerintah untuk membenahinya sesuai dengan event yang diadakan dan kesatuan 4 kabupaten 1 kota Kepulauan Nias untuk tampil dalam satu badan promosi wisata Nias akan lebih powerful dibandingkan dengan setiap kabupaten mengurus sendiri-sendiri.

Selain itu, kata Yanto, untuk meraup benefit yang maksimal, sebaiknya promosi event tersebut harus sudah dipromosikan setahun sebelumnya dengan persiapan yang serius.

Perubahan paradigma pariwisata saat ini selalu disandingkan dengan isu pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism). Banyak problematik seiring majunya kepariwisataan dunia. Setidaknya ada empat fenomena yang termasuk dalam kegiatan pariwisata, yaitu sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan. “Untuk menjaga keseimbangan, keempat fenomena itu sangat memengaruhi kesinambungan pariwisata itu. Kehadiran IBA inilah semoga bisa menjawab persoalan itu,” ujarnya.

Bicara soal konsep pengembangan pariwisata Kepulauan Nias, menurut Yanto, pemangku kepentingan (stakeholder) perlu memajukan konsep eco-culture tourism karena Nias memang punya potensi alam yang begitu memesona dan budaya yang sangat unik.

Dunia semakin berkembang, teknologi pun semakin memudahkan segala urusan. Yanto mengimbau, sekarang zamannya kolaborasi. Tak bisa sendiri-sendiri, mari bergandengan tangan untuk menata Nias lebih indah.

“Wujud kerja sama dan kolaborasi ini agar Nias indah, mari tidak membuang sampah sembarangan. Hindari sampah plastik,” kata Yanto.

Biodata Singkat:

  • Nama lengkap: Yanto Odus Lase
  • Tempat, tanggal lahir: Desa Lahemböhö, 20 Juli 1981
  • Ayah: Fatimböwö Lase
  • Ibu: Safira Gulö
  • Istri: Anne-Sophie Sophie Marie Pirot
  • Anak: Hozeki Léon Massa Lase

Berita Terkait

Bandara Binaka Harus Segera Jadi Bandara Internasional JAKARTA, KABAR NIAS — Target satu juta orang wisatawan yang datang ke Nias pada 2024 adalah sebuah keniscayaan dengan catatan, Bandar Udara Binaka seg...
Obyek Kebudayaan di Kabupaten Nias Didata GUNUNGSITOLI, KABAR NIAS — Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Nias membentuk tim pend...
Nias Selatan Promosikan Destinasi Wisata di PRSU 2017 MEDAN, KABAR NIAS — Setelah vakum sejak 2011, Kabupaten Nias Selatan kembali ikut memeriahkan ajang Pekan Raya Sumatera Utara 2017 yang digelar mulai ...
Putri Pariwisata Sumatera Utara Vivien Sabrina Ingin Tinggal... Nias keren sekali..... Kata itu meluncur dari bibir dara manis kelahiran Medan, Sumatera Utara ini. Dia adalah Vivien Sabrina, Putri Pariwisata Indone...
Nias Pro 2018, Asian Games, dan Presiden Jokowi Dalam waktu hampir bersamaan, dua perhelatan olahraga skala internasional diadakan di Indonesia, yaitu Asian Games yang diadakan di Jakarta dan Palemb...