Pendidikan seksualitas atau pendidikan kesehatan reproduksi?

0
814

Seks dan  seksualitas merupakan isu yang masih sangat tabu untuk dibicarakan, sangking tidak nyamannya untuk dibicarakan, beberapa fihak menggunakan istilah kesehatan reproduksi untuk menggantikan kata ini, dimana terminologinya sebenarnya sama. Jika seksualitas melibatkan secara total dari sikap-sikap, nilai-nilai, tujuan-tujuan dan perilaku individu yang didasari atau ditentukan persepsi jenis kelaminnya dimana hal ini menunjukkan bahwa konsep seksualitas seseorang atau individu dipengaruhi oleh banyak aspek dalam kehidupan, termasuk didalamnya prioritas, aspirasi, pilihan kontak sosial, hubungan interpersonal, self evaluation, ekspresi emosi, perasaan, karir dan persahabatan (Johan, 1993). Sedangkan kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman. Maka tidak masalah sebagai orang dewasa, dimana peran kita adalah orang tua, guru, atau pendamping remaja, untuk memilih istilah mana yang akan kita gunakan sepanjang dapat membantu kita dan remaja untuk mendapatkan suasana diskusi yang positif.

Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana saya sebagai orangtua, guru, kakak/ abang memberikan pemahaman yang tepat kepada anak/murid atau adik saya yang menginjak usia remaja mengenai topic ini? Membuatnya memahami tanpa merasa risih sendiri?

Dengan mempertimbangkan tujuan dari seksualitas atau reproduksi  itu sendiri, yaitu meneruskan keturunan dan juga mendapatkan kebahagiaan/kesenangan, maka aspek lain yang harus menjadi pertimbangan bagi kita sebagai orang dewasa adalah pendekatan religius, dimana Tuhan menggariskan kedua tujuan ini sebagai sebuah bentuk kewajiban dan tanggungjawab yang sudah selayaknya hanya dilakukan oleh dua orang yang sudah menikah secara sah baik secara Negara maupun agama. Sehingga semua perbuatan yang akan dilakukan remaja harus memiliki dasar pengetahuan ilmiah yang benar dan juga rasa tanggungjawab terhadap diri sendiri dan orangtua.

Selain itu mari kita lihat kepada siapa kita akan memberikan pemahaman , yaitu kepada anak- anak dalam hal ini yang memasuki usia remaja. Melihat perkembangan fisik yang sudah mendekati ketangan dan mental mereka yang belum stabil, maka wajar semua informasi baru akan menjadi topik yang sangat menarik buat mereka, ini didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi dan minimnya sumber informasi mengenai topik ini. Sebagai orang dewasa, perlu kita menekankan kepada anak atau murid kita bahwa semua orang lahir dengan membawa hak dan kewajiban. Setiap hak yang mereka miliki maka mereka juga bertanggungjawab terhadapnya. Mereka memiliki hak untuk mengakses dan mendapat informasi mengenai seksualitas atau kesehatan reproduksi, dan bersama dengan itu, datang pula tanggungjawab untuk menjaga organ reproduksi mereka untuk tetap sehat, menghargai lawan jenis dengan penuh penghargaan dan jika bisa, membagi ilmu pengetahuan yang sudah mereka dapatkan kepada rekan mereka, tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah yang dapat menimbulkan akibat buruk pada mereka seperti kehamilan yang tidak diinginkan, hilangnya akses pada pendidikan, dan yang lebih buruk lagi terinfeksi penyakit menular seksual.

Memberikan infomasi mengenai isu seksualitas atau reproduksi membutuhkan kenyamanan, rasa aman dan percaya ketika mendiskusikannya. Sebagai orang dewasa kita harus memberikan cerminan diri sebagai orang yang dapat dipercaya, dapat menjawab pertanyaan anak dan tidak memandang dengan wajah menghakimi ketika anak bertanya, seaneh apapun pertanyaan itu. Berbagai metode dan pendekatan dapat digunakan dalam kegiatan diskusi dirumah maupun disekolah, misalnya ketika disekolah, seorang guru Bimbingan dan Penyuluhan dapat membuat sesi diskusi selama satu atau dua jam sepulang sekolah dengan anak anak secara teratur.  Dalam keluarga, orang tua dapat mendiskusikan topik ini dalam suasana santai namun dengan informasi yang jelas kepada anak, hindari jawaban seperti “jangan Tanya itu, pantang!!” atau malah membiarkan anak mencari tahu sendiri dari berbagai media seperti internet dan media sosial. Jika dalam proses diskusi orang tua atau guru tidak menguasai pertanyaan, maka kita dapat memberikan jawaban “baik, ibu/bapak akan mencari tahu jawabannya dan kita diskusikan besok lagi ya”.

Peran Media.

Tidak dapat dipungkiri perkembangan zaman dan teknologi sekarang ini menuntut semua orang termasuk anak untuk selalu update dalam menguasai informasi, termasuk penggunaan internet dan akses terhadap berbagai media sosial. Penggunaan internet ini ibarat dua mata pisau, dimana dengan mengakses informasi dari internet, maka banyak hal baru yang akan didapat oleh remaja, sedangkan tanpa penyaring dan pengawasan dari orang tua atau orang dewasa, maka remaja dapat terjebak dalam prilaku menyimpang sebagai akibat dari penyerapan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dari internet tersebut. Dan situasi yang dilihat oleh PKPA di pulau Nias, orang tua sangat ketinggalan  jauh dengan anak mereka dalam hal penguasaan gadget dan internet. Hal ini sangat membahayakan karena itu artinya tidak ada kontrol dan pengawasan dari orangtua dalam hal penggunaan internet melalui gadget oleh anaknya. Dan seringkali kesadaran akan adanya masalah muncul ketika anak sudah terlibat dalam sebuah masalah atau situasi yang membahayakan dirinya.

Pendekatan Multi-dimensi.

Melihat kompleksnya permasalahan yang dihadapi anak dan remaja, khususnya mengenai isu seksualitas, maka sangat penting bagi para orangtua dan guru disekolah, dan pembimbing remaja untuk memahami karakter dan melakukan pendekatan kepada anak. Mendekatkan diri dan mengajak anak untuk rajin beribadah merupakan salah satu metode yang baik untuk menanamkan nilai takut akan dosa kepada anak, namun tidak serta merta rasa ingin tahu anak akan hilang, justru mereka akan makin penasaran. Maka disinilah pentingnya komunikasi dan kepercayaan antara anak dan orangtua/guru dan penbimbing, dengan rasa nyaman dan saling terbuka, diharapkan hal yang tadinya tabu dan pantang untuk dibicarakan sehingga berkembang menjadi mitos dapat diluruskan dan anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan usia mereka dan menjadi penerus bangsa.