Menulis Buku

0
105
Trias Kuncahyono dengan buku barunya, Kredensial. —Foto: Facebook Harian Kompas.

Hari ini, 11 Juni 2018, seorang teman saya berulang tahun. Pada ulang tahunnya tersebut diadakan sebuah acara kecil di kantor sekaligus pelepasan beliau karena sudah memasuki usia pensiun, 60 tahun. Selain dua acara itu, pada kesempatan yang sama juga, ada sesuatu yang istimewa, yakni teman saya ini meluncurkan bukunya yang ke-13 dan dibagikan gratis bersamaan antre makan buka puasa bersama.

Teman saya itu adalah Trias Kuncahyono. Di Kompas kami memanggilnya Mas Trias. Tulisan-tulisannya di Kompas, terutama di kolom Kredensial, sangat bernas. Sebanyak 130 kisah di kolom Kredensial yang terbit setiap hari Minggu itu dibukukan. Saya beruntung, bisa hadir di kantor, karena sebenarnya masih cuti, sehingga akhirnya saya bisa mendapatkan buku itu. Tentu, yang menggembirakan lagi, dapat tanda tangan penulisnya. Semua yang hadir di kantor, di Menara Kompas, Palmerah, Senin, itu mendapatkan buku setebal 448 halaman itu.

Ada hal yang menarik yang perlu saya tulis di sini, yakni ucapan Wakil Pemimpin Umum Kompas Rikard Bagun saat melepas Mas Trias yang memasuki usia pensiun. Mengutip Jakob Oetama, pendiri Kompas, Rikard Bagun mengatakan, menulis buku adalah mahkota bagi seorang wartawan. Menjadi jurnalis akan sempurna ketika menulis buku.

Kami dari Kompas cetak, KompasTV, dan Kompas.com berfoto bersama dengan Trias Kuncahyono (tengah berjaket hijau) saat acara HUT ke-60-nya serta acara perpisahan memasuki masa pensiun. —Foto: Luki Aulia Mochtar

Trias Kuncahyono, penulis buku terlaris Jerusalem, Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir, yang telah dicetak ulang hingga 20 kali; dan baru-baru ini meluncurkan bukunya, Turki Revolusi Tak Pernah Henti, menyempurnakan kewartawawannya dengan mahkota tadi. Ia telah menulis 13 buku. Suatu pencapaian yang luar biasa.

Setiap berkunjung di suatu tempat, terutama di luar negeri, Mas Trias Kuncahyono menghasilkan tulisan menjadi buku. Menjalankan tugas di negara-negara Timur Tengah, Trias menghasilkan sejumlah buku tentang negara-negara itu. Jadilah kita bisa menyelami seluk-beluk di negara Timur Tengah yang ia tulis. Hasil kunjungannya itu pun mewarnai kolom rubrik Kredensial di harian Kompas.

Alumnus Jurusan Hubungan Internasional Fisip Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini mengatakan, “Saat mengunjungi suatu tempat, pasti banyak yang dilihat, banyak yang bisa ditulis. Selain dimuat di Kompas, juga menjadi bahan untuk buku.” Ia menyemangati semua orang untuk bisa menulis buku. Semangat itu pun melanda saya. Ada kobaran untuk menuliskan pengalaman lewat tulisan dan syukur-syukur bisa menjadi buku.

Rikard Bagun mengatakan, “Semua orang bisa berkata-kata. Semua orang bisa berpidato panjang lebar, tetapi kata-kata itu akan lenyap tak berbekas jika tidak dituliskan. Trias sudah mengabadikan ide dan pikirannya sehingga bisa menjadi warisan kepada generasi ke depan dan mencerdaskan bangsa ini.” Kalimat ini pun menyadarkan saya bahwa membiasakan diri untuk mencatat apa yang dirasakan, apa yang dilakukan, apa yang diucapkan, apa yang dilihat, apa yang didengar, sangat penting dilakukan.

Menulis buku adalah mahkota bagi seseorang. Trias, dalam buku Kredensial-130 Kisah tentang Manusia dan Peradaban, selain menuturkan apa yang ia rasakan, ia juga membandingkannya dengan berbagai literatur yang ia baca. Pengalaman-pengalamannya baik hasil kunjungannya maupun dari pengalamannya dalam membaca berbagai literatur disajikan kepada pembaca dengan begitu dalam dan mencerahkan.

Semangat untuk menuliskan pengalaman dipadukan dengan hasil bacaan perlu terus dilakukan. Mas Trias telah melakukan bagiannya untuk memberi kepada sesama. Memberi tidak harus selalu identik dengan menyerahkan benda, tetapi ide dan pengalamannya yang dibagikan telah menjadi inspirasi bagi bangsa ini, terutama dalam menciptakan perdamaian, menghormati kemanusiaan, menerima perbedaan, saling menghargai, serta bekerja sama.

Saya menyampaikan apresiasi dan rasa hormat yang tinggi bagi mereka yang telah menulis buku. Mungkin Anda—yang sedang membaca tulisan ini—menjadi salah seorang yang akan menulis buku atau telah menulis buku, saya hormat kepada Anda. Teruslah menulis. Berbagi nilai sehingga lewat tulisan kita bisa mengubah cara lama kita dalam bersikap, berpikir, dan berujar. Mari menulis, sobat!

Berita Terkait

Perkamusi Usulkan KBBI Daring Diintegrasikan dengan Bahasa D... JAKARTA, KABARNIAS — Untuk menjaga dan melestarikan bahasa daerah yang ada di seluruh Nusantara, dari Aceh hingga Papua, Badan Pengembangan dan Pembin...
Saya Bukanlah Seorang Penulis, Hanya Ingin Berbagi… Oleh Adrianus Aroziduhu Gulö Kalimat dalam judul di atas saya ucapkan saat saya menyampaikan kata sambutan pada peluncuran kedua buku dan ketiga sa...
AA Gulö Tulis Buku “Lima Tahun yang Menantang” ONOLIMBU, KABAR NIAS — Setelah meluncurkan buku autobiografi Adrianus Aroziduhu Gulö, Anak Desa Terpencil yang Jadi Bupati pada 8 September 2015 lalu,...