AA Gulö Tulis Buku “Lima Tahun yang Menantang”

LITERASI

0
1529
Sampul buku "Lima Tahun yang Menantang—Catatan AAG"

ONOLIMBU, KABAR NIAS — Setelah meluncurkan buku autobiografi Adrianus Aroziduhu Gulö, Anak Desa Terpencil yang Jadi Bupati pada 8 September 2015 lalu, Adrianus Aroziduhu Gulö, dalam waktu dekat ini, akan segera memperkenalkan buku barunya, Lima Tahun yang Menantang, Catatan AA Gulö (Bupati Nias Barat 2011-2016).

“Buku ini merupakan catatan saya selama menjadi bupati Nias Barat. Berbagai peristiwa penting selama menjadi bupati saya catat dalam buku ini. Saya beberkan dengan lugas dan apa adanya. Ini menjadi kenangan dan bahan pembelajaran ke depan, terutama bagi saya pribadi dan bagi siapa pun yang membaca buku ini,” ujarnya kepada Kabar Nias beberapa waktu lalu di Jakarta.

Dari salinan softcopy Lima Tahun yang Menantang Catatan AA Gulö (Bupati Nias Barat 2011-2016) yang diterima Kabar Nias diketahui, Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi menuliskan Kata Sambutan sementara Majelis Tinggi Partai Demokrat drh Jhony Allen Marbun, MM didaulat menuliskan Kata Pengantar buku ini.

Dalam sambutannya, Tengku Erry Nuradi menyambut baik dan memberikan apresiasi yang tinggi atas karya AA Gulö yang menuliskan buku tentang perjalanannya selama mengemban tugas sebagai Bupati Nias Barat.

“Dalam mengemban amanat rakyat, diperlukan niat lurus kerja keras, kerja cerdas, semangat mengabdi, dan keikhlasan untuk bertindak dengan mengutamakan rakyat banyak,” tulis Tengku Erry.

Plt Gubernur Sumatera Utara itu mengharapkan buku  Lima Tahun yang Menantang Catatan AA Gulö (Bupati Nias Barat 2011-2016) ini bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi warga Kabupaten Nias Barat untuk mengetahui arti pentingnya sebuah perjuangan dan kerja keras dalam memikul tanggung jawab yang diamanahkan oleh rakyat banyak.

“Kesuksesan tidak datang dengan sendirinya, tetapi diraih melalui sebuah perjuangan, pengorbanan, dan kerja keras,” kata Tengku Erry.

Dalam Kata Pengantar, Jhon Allen Marbun menyampaikan tidak mudah menjadi pemimpin definitif pertama sebuah kabupaten, utamanya Kabupaten Nias Barat.

“Di samping keterbatasan sumber daya manusia, infrastruktur, dan fasilitas umum lainnya, merangkul rival politik pasca-pemilu juga bukanlah hal yang bisa dianggap remeh,” kata Jhon Allen.

Jhon Allen mengangapresiasi ketangguhan AA Gulö yang mampu mengubah semua tantangan dan ujian yang dihadapi menjadi energi positif dalam memimpin Nias Barat.

Rintisan Positif

Sementara itu, pendiri Yayasan Delasiga yang juga tokoh Nias Barat Fönaziduhu Marundrury mengaku gembira dengan kebiasaan positif yang mulai dilakukan oleh AA Gulö. “Menurut hemat saya tidak banyak kepala daerah yang bersedia meluangkan waktu untuk membuat catatan ringan dalam sebuah buku ini selama menjadi pejabat publik. Selain karena kesibukan, umumnya mereka memiliki budaya literasi, menuliskan pengalaman, tantangan, serta penyelesaian masalah sebuah publikasi yang bisa baca masyarakat luas,” kata Ama Dela, panggilan Fönaziduhu di kalangan orang Nias.

Fönaziduhu Marundrury
Fönaziduhu Marundrury

Ama Dela sangat mengapresiasi semangat yang dilakukan AA Gulö, terutama dalam hal transparansi selama menjadi pejabat publik.

“AA Gulö secara telanjang membuka kepada publik ‘dapur’ pemerintahannya, termasuk hal-hal yang bersifat privat, seperti kondisi keluarga, dan hubungannya dengan orang-orang terdekatnya. Di era keterbukaan informasi dewasa ini, apa yang dilakukan AA Gulö adalah sebuah rintisan positif, menyampaikan informasi secara terang benderang dengan dilanjutkan kejujuran atas apa yang terjadi selama pemerintahannya,” tulis Ama Dela dalam Kata Sambutannya.

Menurut Ama Dela, hanya pribadi yang memiliki kejujuran, kerendahhatian, sekaligus ketegasan yang mampu menjadi pemimpin di era sekarang ini.

“Hanyak sosok yang bisa ‘melampaui’ dirinya sendirilah atau yang sudah selesai dengan problem-problem pribadilah yang mampu menjadi pemimpin di zaman abnormal yang sedang kita alami kini,” ujarnya.

Meskipun belum sepenuhnya berhasil, dalam pandangan Ama Dela, AA Gulö telah melampaui dirinya sendiri.

“Saya melihat AA Gulö memberikan harapan kepada masyarakatnya bahwa ada secercah cahaya di lorong kegelapan yang sedang kita tapaki bersama ini. Semoga,” tulis Fönaziduhu Marundrury.

Buku setebal 198 halaman dan diterbitkan oleh Yayasan Delasiga ini akan menambah khazanah informasi tentang Pulau Nias, khususnya tentang Nias Barat, di bidang pelaksanaan pemerintahan. AA Gulö menceritakan secara gamblang bagaimana awal-awal dia menjabat sebagai bupati. Ia juga membeberkan seputar komunikasi politiknya yang kurang harmonis dengan DPRD di awal-awal pemerintahannya, terutama kisruh di dalam tubuh internal partainya sendiri. Bahkan, ia tidak sungkan menuliskan soal berbagai SMS ancaman yang ia terima.

Akan tetapi, AA Gulö mengaku tidak pernah goyah dengan berbagai ancaman dan tantangan yang ia hadapi. Ia menyatakan bahwa selama konten SMS itu tidak terbukti, dirinya tidak pernah merasa takut dan bimbang untuk melakukan yang terbaik bagi Nias Barat.

“Saya ingin agar masyarakat Nias Barat bisa mendapatkan pencerahan tentang kondisi Nias Barat sesungguhnya. Catatan kecil saya ini mudah-mudahan menjadi sebuah sejarah yang bisa terus dikenang. Saya dan siapa pun bisa menjadikan ini menjadi bahan pertimbangan ketika memegang jabatan publik. Belajar dari kesalahan dan terus melanjutkan yang baik,” ujar AA Gulö.