Siswi SMA Moro’ö Itu Tewas Mengenaskan, Polisi Buru Pelaku

KRIMINALITAS

0
7108
Korban ditandu setelah diangkat dari lubang tempat ia dikubur, Jumat (15/4/2016). —Foto: Humas Polres Nias

GUNUNGSITOLI, KABAR NIAS — Siswi SMA Negeri 1 Moro’ö, Abdiana Waruwu (16), yang juga warga Dusun I Dangagari, Desa Sitölubanua Fadoro, Kecamatan Moro’ö, Nias Barat, ditemukan tewas terkubur di kebun, Jumat (15/4/2016). Korban diduga dianiaya pelaku sebelum dibunuh kemudian dikubur. Polisi kini sedang memburu pelaku pembunuhan ini.

Dari rilis pers yang diterima redaksi Kabar Nias dari Humas Polres Nias, Sabtu (16/4/2016), pembunuhan terhadap Abdiana diduga terjadi pada Kamis (14/4/2016) saat berangkat dari rumah menuju sekolah.

“Dari keterangan yang dikumpulkan polisi dari keluarga korban dan saksi-saksi, pada Kamis pagi korban berangkat ke sekolah seperti biasa. Namun, hingga pukul 14.30, korban tak kunjung pulang ke rumah. Keluarga korban pun resah dan menanyakan kepada pihak sekolah tentang keberadaan Abdiana. Ternyata pihak sekolah mengatakan bahwa Abdiana Waruwu tidak hadir ke sekolah pada hari itu,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Nias AKP SK Harefa dalam rilis persnya.

Setelah itu, keluarga pun melakukan pencarian ke berbagai tempat, termasuk di jalan setapak yang biasa dilalui korban saat pergi ke sekolah. Pada Jumat sekitar pukul 06.30, pihak keluarga korban menemukan lokasi galian tanah yang di sekitarnya terdapat bercak darah.

Karena curiga, keluarga korban melaporkan temuan itu ke Polsek Mandrehe. Kapolsek Mandrehe AKP Supendi bersama personel dan gabungan dari Polres Nias, yang dipimpin oleh Kaur Bin Ops Sat Reskrim Iptu Freddy Siagian, langsung menuju lokasi. Dibantu tenaga medis dari Puskesmas Moro’ö, personel gabungan dari Polres Nias dan Polsek Mandrehe bersama keluarga melakukan pembongkaran galian tersebut.

Beberapa saat setelah melakukan penggalian, dengan kedalaman sekitar 50 cm, ditemukan sesosok tubuh yang diyakini oleh pihak keluarga sebagai Abdiana, dari jam tangan kiri korban. Selanjutnya korban dibawa ke Puskesmas Moro’ö untuk divisum, tetapi karena keterbatasan peralatan di puskesmas, korban selanjutnya dibawa ke RSU Gunungsitoli.

Kapolres Nias AKBP Bazawatö Zebua, ketika dikonfirmasi tentang kejadian tersebut, membenarkan adanya temuan mayat itu. Menurut Bazawatö, di tubuh korban didapatkan beberapa luka bekas benda tajam.

Ketika ditanyakan soal pelaku, Bazawatö mengatakan bahwa pemeriksaan saksi-saksi sedang berlangsung dan diharapkan dari hasil pemeriksaan saksi-saksi tersebut penyidik mendapatkan petunjuk  kemungkinan siapa pelaku. Kapolres juga berpesan jika ada informasi terkait kejadian tersebut, Kapolres menitipkan nomor WA atau SMS ke 085277412732. “Mohon doanya semoga Pelaku cepat tertangkap,” kata Kapolres.

Dari informasi yang dikumpulkan Kabar Nias, rumah korban berada sekitar 6 kilometer dari sekolah. Rumah korban berada di kebun (halama) yang berjarak sekitar dua kilometer dari jalan raya di Dusun Dangagari. Lokasi kejadian berada di antara Kampung Dangagari Dusun I Desa Sitölubanua Fadoro dengan kampung Lölö’ana’a Daso (Desa Hilifadölö). Di daerah ini sepi dan tidak ada rumah.

Ayah korban, Buloni Waruwu alias Ama Sinu Waruwu, hanyalah seorang petani karet dan sawah. Dia seorang penyandang buta huruf. Sejak ditinggal meninggal istrinya, ia menikah lagi sambil membesarkan dan menyekolahkan kedua anaknya. Abdiana adalah anak kedua Ama Sinu Waruwu.

Tambah Jumlah Personel Polisi

Sementara itu, pastor Postinus Gulö, yang juga berasal di Moro’ö, dari Roma Italia, menyatakan keprihatinannya atas kejadian naas yang menimpa warga Moro’ö itu.

“Saya cukup mengenal keluarga korban. Kita berharap polisi benar-benar serius dalam mengungkap siapa pelakunya. Pada tahun 2014, kejadian yang sama pernah terjadi juga di Moro’ö. Modusnya sama dengan melakukan pemerkosaan kemudian dibunuh. Saya berharap, para orangtua harus mengantar-jemput anak mereka jika berangkat ke sekolah,” kata Pastor Postinus.

Pastor Postinus meminta pihak Polres Nias pengaktifan pos polisi di pusat Kecamatan Moro’ö dengan menempatkan personel di sana. Kalau perlu didirikan Kantor Polsek Kecamatan Moro’ö yang hingga kini belum ada. “Kita meminta juga kalau perlu pihak kepolisian membentuk Polres Nias Barat.

Menurut Postinus, daerah ini masih sangat terisolasi. Kendaraan bisa melewati sebagian besar jalan raya karena pembangunan jalan dari NGO Acted-Caritas sebagai bagian untuk rehabilitasi Nias pascatsunami.

“Saya sangat setuju Pemkab ke depan memperhatikan pembangunan jalan agar jalan setapak tidak menjadi jalur perjalanan anak-anak sekolah untuk pergi dan pulang sekolah,” kata Postinus. [*/knc01r]