WAWANCARA

Esther GN Telaumbanua: Nias Pro dan Festival Nias Ya’ahowu Momentum Kebangkitan Pariwisata Nias

0
35
Dua peselancar dari luar negeri berfoto di pantai Sorake dengan papan selancar mereka. —Foto: Situs World Surf League

Nias Pro 2018 sedang berlangsung. World League Qualifying Series: Nias Pro 2018 dimulai tanggal 24 sampai 27 Agustus 2018 di Pantai Sorake, Kabupaten Nias Selatan. Nias Pro diikuti seratusan peselancar dunia dengan kualifikasi tertentu dari 20 negara. Sudah pasti perhelatan ini menjadi perhatian masyarakat Nias, demikian juga masyarakat internasional. Melalui website dan perangkat penyiaran WSL sebagai lembaga dunia, kegiatan ini disiarkan secara langsung dan ditonton masyarakat internasional.

Nias Pro 2018 yang membanggakan ini tentunya membonceng harapan bagi masyarakat Nias. Terkait itu Kabar Nias mengadakan wawancara dengan Esther GN Telaumbanua, tokoh perempuan Nias, pegiat pelestarian pusaka dan pemerhati pariwisata Nias.

Bagaimana Anda melihat acara ini?

Esther Glorian Telaumbanua (Dok. Pribadi)

Pertama, saya mengapresiasi semua pihak yang telah menginisiasi acara internasional ini di Nias. Ini program WSL yang pertama di Nias. Bukan sekadar event dengan peserta peselancar asing, tetapi juga kerja sama dengan WSL, dengan standar internasional.

Kita tahu Nias sebenarnya telah dikenal oleh peselancar dunia sebagai kawasan yang menarik untuk olahraga surfing (berselancar). Nias dulu pernah mengalami booming kunjungan wisata sekitar tahun 80-an sampai awal 90-an. Kepariwisataan Sumatera Utara juga ikut terdongkrak. Tidak dapat dimungkiri peran peselancar dunia yang datang ke Nias tahun 70-an sangat sentral. Jejaring peselancar ini membahanakan Sorake dan pantai-pantai di Nias sebagai kawasan yang menantang untuk berselancar. Saya kurang mengerti bagaimana menjelaskan, tetapi dari berbagai kesaksian dan berita para peselancar mengatakan ombak Nias itu yang terbaik. Salah satu yang terbaik di dunia.

Beberapa peselancar pernah menjelaskan kepada saya, selain gulungan ombaknya, tinggi dan panjangnya sangat menantang. Panjang ombaknya bisa mencapai 200-300 meter. Ini disukai karena bisa mendorong peselancar menari di atas air lebih lama. Menariknya lagi, sepanjang tahun bisa berselancar di Nias, walau ada bulan-bulan tertentu sebagai puncak. Biasanya bulan Juni–September ombak tinggi, bisa mencapai 10-15 m. Sorake yang lokasinya di Teluk Lagundri memiliki kekhasan tertentu karena posisinya. Sorake memiliki gulungan ombak berulang selaras bisa sampai 7-10 kali sebelum pecah di pantai. Ombaknya bergerak dari kanan ke kiri baru pecah.

Surfing competition berskala internasional (2000) pun pernah diselenggarakan di Sorake. Dulu Sorake cukup ramai. Puluhan homestay ada di area ini. Mayoritas diinapi oleh wisatawan luar negeri, ya, para peselancar itu. Kunjungan demi kunjungan meningkat mulanya untuk berselancar kemudian meluas kunjungan ke berbagai wilayah Nias yang kaya peninggalan budaya megalitik. Ke desa-desa adat dan kawasan lainnya. Maka, kita kemudian mencatat kerapnya kapal-kapal pesiar merapat di Nias Selatan. Sebut saja salah satunya, Prinsendam. Bisa di-browsing internet berapa kali Prinsendam berkunjung ke Nias Selatan. Setelah terjadi tsunami (2004) dan gempa (2005), kawasan Sorake dan Teluk Lagundri sunyi senyap. Tiga bulan setelah gempa, saya ke Sorake dan melihat dengan sedih kehancuran di sana. Lebih lima tahun kawasan itu terpuruk tanpa napas kehidupan. Hotel berbintang Sorake Beach pun ikut padam. Kepariwisataan Nias terdampak, ikut mati suri. Ini fakta.

Perlahan ada kunjungan. Siapa? Ya para peselancar lagi. Mereka datang lagi memenuhi kerinduan mereka akan ombak Nias. Jadi, Sorake itu punya potensi dan daya tarik. Tidak dapat disangkal, mereka ikut berperan menghidupkan kembali Sorake. Jadi, saya menyambut dan mengapresiasi pelaksanaan Nias Pro ini. Saya melihat ada kemajuan dalam teknis penyelenggaraan. Sebagai orang Nias, saya merasa bangga.

Bisa dijelaskan mengapa Anda bangga?

Banyak alasan untuk bangga. Begini. Kalau orang belum pernah berkunjung ke Sorake dan mengunjunginya saat ini akan menemukan Sorake yang sudah hidup. Sisa bencana alam dulu, tanda kehancuran itu sudah tidak tersisa. Jika kini bisa diselenggarakan sebuah event WSL berstandard internasional, ini kan semacam pengakuan resmi Sorake sudah dinilai tepat untuk itu, sudah memenuhi syarat. Kita bangga dong, Pantai Sorake tercatat sebagai venue resmi internasional. Sorake dikukuhkan menjadi spot surfing unggulan internasional. Ini sekaligus memposisikan Nias di peta global selancar.

Kita tahu ada upaya-upaya telah dilakukan untuk mendongkrak kepariwistaan Nias. Secara strategis, di antaranya melalui penyelenggaraan Pesta Ya’ahowu yang diikuti dengan kompetisi seperti Nias Open. Kalau tidak salah ada dua kali Nias Open, tahun 2016 dan 2017. Walaupun peserta mayoritasnya peselancar asing, tetapi belum berstandar. Lebih bersifat ekshibisi, turnamen terbuka. Penyelenggaraan dan promosi juga masih terbatas. Sudah pasti target tidak mencapai sesuai harapan. Dengan Nias Pro, acara ini menjadi agenda resmi WSL dan pemerintah pusat. Sorake-Nias dipromosikan luas. Penyiaran WSL ditonton jutaan netizen (warganet).

Apa harapan Anda dari Nias Pro ini?

Jadikan ini momentum kebangkitan pariwisata Nias. Ini harapan saya. Kita mendengar sama-sama apa yang disampaikan Menteri Pariwisata saat peluncuran bulan Juni yang lalu. Pemerintah pusat ingin mendongkrak kepariwisataan Nias dengan target. Jadi ada target juga. Didukung dengan dua penyelenggaraan acara besar Nias Pro dan Festival Nias Ya’ahowu pada November 2018, Nias diharapkan menarik kunjungan 50.000 wisatawan tahun 2018 ini. Tahun 2019, ditargetkan 100.000. Ini bagian dari target mencapai 20 juta kunjungan ke Indonesia. Jadi, Nias Pro tidak hanya harus sukses dalam penyelenggaraan kompetisi, tetapi harus bisa menyumbang kunjungan wisatawan. Ini bagian yang tidak boleh diabaikan. Pemda dan panitia harus kerja keras. Promosi WSL ke jaringan peselancar sudah pasti ada dan cukup luas. Dengan kategori wisata minat atau olaharga wisata (sport tourism), segmennya jelas tetapi terbatas. Katakanlah peserta dan penggemar surfing bisa didatangkan untuk event ini 10.000 orang.

Selain itu, harapan kita bahwa ada pengembangan bakat peselancar Nias sejak dini. Umumnya peselancar Nias otodidak atau belajar ikut-ikut pesurfer asing yang main ke Nias. Bagaimana pesurfer muda Nias bisa dibina, dididik secara profesional punya sertifikasi, perlu dipikirkan. Jadi ini juga menjadi cabang olahraga bagi orang Nias yang diminati. Jadi tidak hanya sebagai tempat atau ajang pertunjukan. Dari sisi venue yang diakui internasional, penyelenggaraan Nias Pro menjadi perhelatan kepariwisataan dengan memperkenalkan Sorake sebagai desinasi, kampung peselancar.

“Di sisi lain, berselancar harus jadi cabang olahraga yang diminati oleh kaum muda Nias. Event ini harus mendorong pemda dan elite masyarakat Nias melahirkan atlet-atlet nasional Nias untuk cabang selancar,” demikian disampaikan Esther, yang pernah mendapatkan penghargaan tingkat nasional Nugra Darmajasa Pustakaloka 2012 untuk bukunya ‘Nias Bangkit: Langkah-langkah awal’

Bagaimana menutupi kekurangannya?

Menurut saya, di bagian ini perlu konsep yang menyatu dengan event. Konsepnya tidak hanya terpaku kompetisi, tetapi menjual Nias secara keseluruhan. Dengan bahasa kepariwisataan yang tepat, dipromosikan keuntungan lain dari menyaksikan Nias Pro. Jadi jangan lupa, untuk menyajikan program-program yang menarik selama penyelenggaraannya. Jangan abaikan itu, karena itu disasarkan pada wisatawan umum.

Dua kegiatan besar ini kebetulan pula jatuhnya bukan pada musim liburan, jadi wisatawan memang perlu perencanaan dan alasan yang kuat untuk datang.

Untuk mencapai target, apa yang harus disikapi segera?

Peluang ini harus diseriusi. Selama ini kan tanpa target kuantitatif. Ini waktunya untuk mengonsolidasi dan mengerahkan semua pemangku kepentingan kepariwisataan untuk berpartisipasi maksimal agar banyak yang datang, dan pulang dengan membawa kesan dan kepuasan. Inti kepariwisataan kan di situ. Memuaskan wisatawan, menciptakan kunjungan berulang dan panjang, mendatangkan manfaat dan sejahtera bagi destinasi. Barometernya di Nias Pro.

Kegiatan Nias Pro ini saya harapkan sekaligus mengembangkan kawasan Pantai Sorake sebagai sebuah destinasi wisata unggulan. Sama seperti Bawömataluo dan hombo-batunya, Sorake akan menjadi ikon baru. Di kawasan ini wisatawan dapat menikmati Nias mini dengan fokus surfing dan wisata bahari. Kampung peselancar! Kawasan Sorake harus segera ditata baik, menjadi sentra berdaya tarik, unik, lengkap dengan lingkungan yang sehat dan nyaman. Di sini ada homestay yang menarik, resto-resto, toko suvenir peralatan surfing dan aktivitas bahari. Lebih dari itu, harus pula ada klub olahraga surfing, sekolah surfing yang menyediakan pelatihan reguler bagi pemula dan orang muda. Orang datang ke Nias bisa untuk belajar berselancar, snorkeling dan diving. Belajar beselancar ke Nias, tidak menunggu event. Kerja sama dengan WSL sebaiknya ditindaklanjuti dengan program bersama melahirkan peselancar-peselancar unggulan. Dari Sorake, akan dilahirkan peselancar Nias, Indonesia, dan dunia. Sorake kelak akan dikunjungi banyak wisatawan minat, dan wisatawan umum. Kita sudah punya peselancar kelas internasional seperti Bonne Gea, Justin Bu’ulolo, Lusinda Wau dan lain-lain. Mereka bisa diberdayakan menjadi pelatih resmi. Saatnya juga menghargai mereka yang telah berprestasi. Bahkan bisa jadi duta selancar Sorake dan pariwisata bahari Nias. Kenapa tidak?

Satu hal lagi, khusus kondisi pantai. Kebersihan mesti harus jadi perhatian. Saya pernah ke Sanur, Bali. Di sana, para wisatawan tak hanya beselancar, tetapi mereka itu juga berjemur. Kondisi pantai Sorake yang kini sudah makin menjorok ke laut sebaiknya direklamasi. Pasir-pasir yang ada di pulau-pulau kosong di Nias didatangkan. Niscaya, pantai Sorake akan makin luas. Ombak kecil pun tak masalah. Para wisatawan mancanegara bisa berjemur.

Bagaimana dengan Festival Ya’ahowu Nias ?

Kreativitas dan inovasi perlu untuk menciptakan event ini punya daya tarik dan mendongkrak pengunjung dengan target 40.000-50.000. Selama ini, banyak kegiatan festival berujung klimaks pada selebrasi acara pembukaan. Setelah pembukaan, biasa-biasa saja. Nanti agak ramai lagi, saat penutupan. Tamu undangan datang pada pembukaan, lalu pulang. Wisatawan umum (murni) tidak terurus, mencari tahu sendiri ke mana tujuan tidak pasti. Mungkin kali ini bisa diubah. Selain kegiatan dikemas menarik, menyatukan tiga hal, yaitu keunggulan Nias, selera wisatawan, dan pengemasannya. Didukung promosi yang efektif, semua dikemas baik meliputi 4 destination mix, yaitu attractions, accessibility, amenity, dan juga ancillary atau jasa pendukung kepariwisataan lainnya.

Pelaksanaan acara dipusatkan di destinasi-destinasi. Klimaksnya di semua mata kegiatan, dan di destinasi wisata dan situs budaya. Beberapa daerah lain menggunakan strategi mengemas kegiatan berbentuk kolosal, atau melibatkan partisipasi banyak orang dan kelompok-kelompok minat dari luar Nias. Jadi mulai sekarang, kegiatan dirancang dan destinasi dibenahi. Seluruh stakeholders kepariwisataan Nias harus diajak kerja sama. Ini tidak bisa hanya dikerjakan oleh pemda.

Saya yakin, penyelenggara akan melakukan yang terbaik dengan konsep lebih menarik, belajar dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Yang penting juga, promosi jangan terlambat dengan susunan acara yang jelas. Ada pusat informasinya, itu perlu. Calon wisatawan perlu tahu ke mana mencari informasi yang dibutuhkan. Nias itu relatif jauh, jadwal bukan pada musim liburan, jadi perlu strategi khusus untuk menjualnya. Sekali ini, ada tambahan destinasi toh… Sorake Surfing Village! Kalau portal Nias Heritage Museum menjadi pintu masuk informasi kebudayaan Nias, Sorake menjadi pintu masuk pariwisata bahari. Semoga sukses membangkitkan kepariwisataan Nias!