SOSIALISASI PILKADA

Ronal Zai: Tim Fa’atulö Tak Terlibat Kericuhan di Ulugawo

0
2003
Ronal Zai (tengah)

GUNUNGSITOLI, KABAR NIAS — Warga yang ribut dan bentrok dengan tim Saro di Desa Holi saat pengukuhan tim desa se-Kecamatan Ulugawo, Kamis (12/11/2015), dipastikan bukan pendukung atau anggota tim pemenangan pasangan calon bupati Nias-calon wakil bupati Faigi’asa Bawamenewi-Bezatulö Gulö (Fa’atulö). Kericuhan diduga dipicu karena warga tersinggung dengan pernyataan dari ketua tim Saro, Bethel Ndraha.

Hal ini dikatakan ketua tim pemenangan pasangan calon bupati Nias-calon wakil bupati Fa’atulö, Ronal Ronal Zai, kepada Kabar Nias seusai Debat Publik Tahap II calon bupati dan wakil bupati Nias tahun 2015, Sabtu (14/11/2015), di Aula Laverna, Gunungsitoli.

“Itu bukan tim atau pendukung Fa’atulö. Itu warga yang tersinggung dengan pernyataan ketua tim Saro,” ujar Ronal.

Anggota DPRD Nias dari Partai Nasdem itu mengaku, kejadian yang menimpa tim Saro saat mengukuhkan tim di Ulugawo baru diketahuinya setelah ada pemberitaan dari media massa dan media sosial. Ia langsung berkoordinasi dengan tim kecamatan semua tim dan pendukung mengaku tidak melakukan keributan.

Mantan Wakil Ketua DPRD Nias periode 2009-2014 itu mengatakan, dari informasi yang ia terima, kemarahan warga setempat karena tersinggung dengan pernyataan ketua tim Saro, Bethel Ndraha, saat pembekalan yang menyebut warga sebagai ‘ayam potong’ dan ‘pelacur politik’. “Yang ribut itu warga setempat karena mereka dituduh sebagai ‘ayam potong’ dan ‘pelacur politik'”, kata Ronal.

Ronal telah memesan kepada seluruh tim dan pendukung Fa’atulö untuk tidak melakukan kericuhan dan menjelek-jelekkan pasangan calon lain.

Di tempat yang berbeda, Bethel mengatakan kepada Kabar Nias bahwa pernyataannya saat pembekalan tidak pernah menuduh warga dengan kata-kata ‘ayam potong’ dan ‘pelacur politik’.

“Yang saya sampaikan itu, bagi pendukung Saro jangan mengharapkan uang yang hanya Rp 200.000. Itu hanya delapan kilogram ayam jumbo. Lalu jangan hari ini datang ke paslon urut 3, besok ke urut 2 dan lusa ke urut 1. Itu pelacur politik namanya,” kata Bethel. [knc02w]