KEBINEKAAN

Alissa Wahid Ingatkan Anak Bangsa Bersatu Melawan Konservatisme

3
128

YOGYAKARTA, KABAR NIAS — Konservatisme dan radikalisme yang akhir-akhir ini mulai tumbuh dan mengganggu kebinekaan bangsa Indonesia perlu dilawan dengan bersatunya kelompok prokebinekaan. Kondisi Indonesia pada satu dasawarsa ke depan akan ditentukan oleh kerja sama yang erat semua pihak.

Demikian disampaikan Alissa Wahid, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian yang juga putri mantan Presiden Keempat RI Gus Dur yang diundang dalam acara reuni SMA Kolese de Britto, 27 Desember 2017, di Yogyakarta.

”Situasi Indonesia 10 tahun ke depan bergantung pada keberanian kita bersikap pada masa sekarang. Kelompok-kelompok prokebinekaan perlu untuk bekerja sama secara lebih erat,” ujar putri pertama Presiden Abdurrahman Wahid tersebut.

Alissa mengingatkan perlunya keberanian melawan setiap gerakan yang merongrong Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Komunitas alumni SMA Kolese de Britto menyambut baik seruan Alissa Wahid tersebut.

Reuni Informal

Seperti diketahui, ada kebiasaan unik di SMA Kolese de Britto. Setiap 27 Desember selalu diadakan reuni informal yang bernama Manuk Pulang Kandang (MPK). Acara ini dipakai sebagai ajang pertemuan bagi alumni yang sedang berlibur di Yogyakarta. Yang menjadi penyelenggara MPK adalah angkatan yang sudah lulus 25 tahun dari Kolese de Britto.

Agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, MPK 2017 kali ini mengambil tema “De Britto untuk Kebinekaan”. Tema ini diambil untuk merespons situasi aktual Indonesia di mana terjadi pengerasan dan formalisasi keyakinan di sebagian masyarakat. Hal ini bisa kita rasakan dalam situasi kehidupan sehari-hari.

Untuk mendukung tema itu, panitia MPK 2017 secara khusus mengundang Alissa Wahid untuk memberikan pandangannya soal kebinekaan di Indonesia.

Selain tema kebinekaan, MPK 2017 juga menampilkan pertunjukan kesenian yang dibalut dengan misa ekaristi. Misa kali ini dipimpin Romo In Nugroho SJ dan Universitas Sanata Dharma. Romo In mengingatkan perlunya semangat memberi alih-alih mengambil.

“Perjuangan pada kebinekaan tidak mungkin berjalan tanpa semangat memberi. Hal ini sangat penting ditekankan karena semangat dominan yang dimiliki masyarakat saat ini adalah mengambil, merampok, yang berorientasi pada pemenuhan ego semata,” kata Romo In.

Berbagai pertunjukan kesenian yang ditampilkan dalam MPK 2017 kali ini adalah Wayang Guru oleh dalang Triyanto Hapsoro, Gamelan Gangsa Kulila oleh murid SMA Kolese de Britto yang pernah menang dalam berbagai festival gamelan, band Cross Fire, dan kelompok vokal Mlenuk Voice yang menyanyikan lagu misa.