“Quo Vadis” Pendidikan di Nias Selatan?

24
7059

Menyedihkan

Setelah menyimak paparan di atas, kita tentu berpikir, begini amat, ya, potret pendidikan di daerah pinggiran seperti daerah Pulau Nias? Benarkah praktik ini berlangsung selama bertahun-tahun tanpa ada yang peduli? Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu kecuali mereka yang menjalani sendiri dan merasakan sendiri.

Saya teringat dengan janji Presiden Joko Widodo bahwa pembangunan saatnya dimulai dari pinggir. Seyogianya, Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan melaksanakan janji Jokowi itu dengan memulai pembenahan di daerah pinggiran seperti Nias Selatan, dan seluruh kepulauan Nias pada umumnya.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi pelaksanaan pendidikan di sekolah-sekolah yang ada di Pulau-Pulau Batu, seperti Pulau Tello dan sekitarnya, yang jauh dan terisolasi karena transportasi laut yang kurang memadai. Bisa saja lebih miris dan memprihatinkan.

Sepakat bahwa kondisi seperti yang dialami oleh Gadis juga terjadi di daerah lain di negeri ini. Akan tetapi, apakah kita harus terus diam dengan kondisi ini? Apakah kita pasrah dengan sistem yang dikondisikan oleh orang-orang yang seyogianya membangun bangsa dengan mencerdaskan para muridnya?

Jika kondisi pembocoran kunci jawaban kepada para peserta UN berlangsung masif di seluruh Nias Selatan atau bahkan di daerah lain juga di bagian Pulau Nias, ini sangat menyedihkan. Akan di bawah ke mana (quo vadis) pendidikan di Pulau Nias?

Hemat saya, siswa-siswi di sekolah perlu diberi berbagai masukan dan dibuka wawasannya bahwa tujuan bersekolah bukan sekadar hanya mendapatkan selembar ijazah. Tidak dimungkiri bahwa di kepala setiap siswa di Pulau Nias, tujuan mereka bersekolah adalah yang penting memegang selembar ijazah serta pekerjaan yang mereka idam-idamkan adalah pegawai negeri sipil.

Padahal, di luar sana ada banyak profesi yang bisa dilakukan selain PNS, seperti menjadi editor naskah, editor video, penulis, juru kamera, ahli mesin, dan lain-lain. Profesi-profesi itu tidak terlalu mensyaratkan ijazah, tetapi cukup dengan syarat kemahiran yang dimiliki. Bidang-bidang kreatif seperti ini harus ditanamkan di pikiran para anak didik di sekolah di Pulau Nias, khususnya di Nias Selatan. Biarlah mereka punya mimpi tidak hanya menjadi PNS belaka.

Saatnya lembaga sekolah harus difungsikan sebagai ruang belajar, ruang mengisi otak para murid dengan hal-hal yang baik, tentang ilmu, tentang etika, tentang nilai-nilai yang kelak dibutuhkan untuk masa depan para murid. Hentikanlah pemanfaatan sekolah menjadi tempat untuk memperkaya diri dan pembodohan.

Saya yakin Pemerintah Kabupaten Nias Selatan sudah mendengar hal ini. Ataupun jika belum mendengar, usul saya, hendaknya kasus luar biasa ini hendaknya diusut. Siapa yang bertanggung jawab pada pelaksanan kebijakan yang memalukan itu harus diberi sanksi dan dibeberkan secara transparan kepada publik.

Sekali lagi, saya mengimbau kepada siapa pun, termasuk para orangtua, adalah tanggung jawab kita semua untuk mengantarkan anak-anak kita mendapatkan pendidikan yang baik. Semoga Bapak-Ibu tetap mengikuti perkembangan anak-anak ibu. Orangtua berhak bertanya kepada pihak sekolah tentang perkembangan anak-anak Bapak-Ibu.

Perhatian Menteri Pendidikan

Lewat tulisan sederhana ini, saya rasa perlulah Menteri Pendidikan Anies Baswedan meluangkan sedikit waktu untuk memperhatikan kondisi pendidikan di Pulau Nias. Saya memang tak punya akses kepada beliau secara langsung agar mau membaca tulisan ini, tetapi saya percaya, pada saatnya tulisan ini ia baca dan ingin membenahi pendidikan di Pulau Nias.

Apa yang terjadi ini, biarlah menjadi pembelajaran bagi kita semua, termasuk pemangku kepentingan di bidang pendidikan di Nias Selatan dan di seluruh Pulau Nias. Mata kita kini terbuka tentang fakta yang ada. Bayangkan, produk sistem pendidikan seperti ini, ke depan jadinya seperti apa.

Saya setuju dengan analisis sederhana dari Pak Kum. Bayangkan, ketika nanti ada program penerimaan guru bantu daerah (GBD), lulusan SMA seperti Gadis berpotensi menjadi GBD. Lalu, kualitas seperti apa yang akan diharapkan untuk generasi Nias Selatan ke depan kala murid-murid diajar oleh lulusan SMA seperti Gadis, misalnya? Mari #jangandiam, ayo #turuntangan benahi pendidikan di Pulau Nias.