Surat Edaran Pemkot Diduga Buat Warga Makin Panik

MITIGASI BENCANA

0
2312

GUNUNGSITOLI, SABTU — Isu terjadinya gempa besar yang berpotensi tsunami telah membuat warga Kota Gunungsitoli panik dan khawatir berlebihan, padahal lembaga yang berkompeten, seperti BMKG terkait isu bencana itu belum mengeluarkan pernyataan resmi.

Entah siapa yang memulai, diisukan, gempa besar disertai tsunami akan terjadi pada tanggal 28 Agustus 2015. Penyebaran surat edaran dari Pemerintah Kota diduga semakin memicu kepanikan dari warga Kota Gunungsitoli.

Sejumlah warga Kota Gunungsitoli kepada Kabar Nias, melalui telepon seluler dan juga di media sosial Facebook, mempertanyakan kebenaran dari informasi tentang gempa itu.

“Orang kampung kita, terutama yang ada di pinggir pantai, pada pindah dan mengungsi ke kampung di Hiligodu. Apakah benar ada gempa besar itu? Sebab ada juga surat edaran dari Pemkot yang meminta warga siap siaga dan waspada. Ada pengumuman di gereja-gereja juga,” ujar Nover Lase, warga Desa Hiligodu, Kecamatan Gunungsitoli Selatan.

Surat Edaran

Pemerintah Kota Gunungsitoli lewat Sekretariat Daerah menyebarkan surat edaran berisi imbauan untuk siap siaga dan waspada.

Dalam surat edaran yang bertanggal 5 Agustus 2015 dan ditujukan kepada staf ahli Wali Kota Gunungsitoli, Para Asisten Sekda, Kepala SKPD, Kepala Bagian Setda, Camat, dan Lurah Se-Kota Gunungsitoli, Pemkot menjelaskan adanya isu gempa dengan mengutip media sosial MEDANSATU.com.

Dalam surat itu, Pemkot Gunungsitoli mengharapkan agar masyarakat tidak percaya dan panik. Akan tetapi, di sisi lain masyarakat diminta siap siaga dan waspada menghadapi isu ini. Kata siap siaga dan waspada dicetak tebal.

Entah terjadi distorsi penyampaian pesan, edaran ini justru menjadi pembenaran bahwa isu adanya gempa benar-benar akan terjadi di masyarakat. Ini terbukti dengan adanya kepanikan di tengah masyarakat.

Keumala Dewi, warga Kota Gunungsitoli, mengaku kecewa dengan penanganan isu gempa ini. “Di mana BPBD kok diam saja. Seharusnya berita seperti ini diiringi dengan upaya untuk menenangkan masyarakat.”

Harap diingat, masyarakat itu tidak sama semua dalam merespons pesan. Penulisan kata hubung “dan” pada kalimat “… dan diharapkan untuk tetap siap siaga dan waspada dalam menghadapinya …” ditambah dengan mencetak tebal kata siap siaga dan waspada membuat masyarakat tambah melakukan justifikasi.

“Harusnya dalam membuat  surat edaran Pemkot harus berhati-hati serta memperhatikan dampak psikologis di masyarakat akibat surat edaran itu,” ujar salah seorang warga Kota Gunungsitoli yang tidak ingin disebutkan namanya.

Sebaiknya Pemkot Gunungsitoli harus lebih bijak. Pemkot sebaiknya memberikan ketenangan dan meyakinkan masyarakat bahwa isu itu belum dibuktikan kebenaranya. “Pemkot baiknya melakukan check dan recheck dulu kepada BMKG atau kepada pihak pusat agar bisa memberikan kepastian kepada masyarakat. Dalam surat edaran tersebut terlihat pemkot tidak yakin dan seakan memercayai isu yang belum bisa dipastikan keontetikannya,” ujar sumber Kabar Nias.

Fotarisman Zaluchu, warga Nias di Medan, meminta masyarakat tidak serta-merta memercayai informasi di media sosial yang belum dipastikan kebenarannya.

“Setidaknya sebulan terakhir Pulau Nias memang dilanda isu gempa disertai tanggal kejadiannya. Pemerintah daerah bukannya meluruskan irasionalitas yg muncul akibat trauma gempa di tahun 2005, malah ikut ikutan menyebarluaskan kepanikan. Sekolah malah diliburkan pula. Kepanikan ini membuat warga semakin sulit tidur. Dear friends, Anda boleh panik tapi nalar harus tetap menuntun. Sekali nalar diangkat, hidup pun tak lagi nikmat,” tulis Fotarisman dalam statusnya di FB.

Fotarisman meminta agar semua media serta lembaga keagamaan agar bisa memberikan ketenangan kepada masyarakat.

Kabar Nias masih belum bisa menghubungi pihak Pemkot terkait isu gempa ini dan apa latar belakang penyebaran surat edaran yang buat masyarakat semakin panik itu. [knc01r]

Berikut petikan Surat Edaran dari Pemkot Gunungsitoli:

Surat Edaran Pemkot kepada warga

Sehubungan dengan beredarnya informasi di media sosial Medansatu.com tentang prediksi akan terjadinya gempa berkekuatan 9 skala richter (SR) di Pantai Barat Sumatera yaitu tepatnya di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, dan kepulauan Nias, Sumatera Utara, serta sesuai hasil penelitisan LIPI bersama Prancis dan Singapura yang disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB oleh Bapak Sutopo Purwo Nugroho memperikirakan masih ada dua wilayah di Indonesia yang menyimpan potensi ggempa tsunami dengan energi besar hingga mencapai 9 Skala Richter (SR) yaitu di Mentawai bagian Barat Pulau Sumatera dan Pulau Panaitan di utara Ujung Kulon, Jawa Barat. Bila gempa itu terjadi lanjutnya, maka dalam waktu 5 menit langsung diikuti tsunami setinggi 10 meter dan menjangkau daratan hingga 2 km, dan di sungai tsunami akan merambah sejauh 5 km.

Oleh karena itu, Pemerintah Kota Gunungsitoli mengimbau kepada seluruh masyarakat Kota Gunungsitoli untuk tidak panik dan takut pada informasi tersebut dan diharapkan untuk tetap siap siaga dan waspada  dalam menghadapinya. Berkenaan dengan itu, diharapkan kepada camat dan lurah untuk segera menyampaikan himbauan ini kepada seluruh warga masyarakat.

Demikian disampaikan atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

A.n. Wali Kota Gunungsitoli

Sekretaris Daerah

Drs. Edison Ziliwu, MM, MSi