Inilah Rincian Hukum Adat yang Dibayarkan Yanto

6
9303
Rincian sanksi adat yang dibebankan kepada Yanto. —Foto: Iman Jaya Lase

GUNUNGSITOLI, KABAR NIAS – Ada 12 penerima ogauta (sanksi adat) yang diserahkan Sugiyanto Kosasi alias Kadali alias Yanto, pelaku dugaan penghinaan terhadap karyawannya, MW, yang dikonversi dalam uang sebesar Rp 22.500.000 dan diserahkan pada prosesi hukum adat yang dilaksanakan di halaman Kantor Wali Kota Gunungsitoli di Jalan Pancasila, Desa Mudik, Kota Gunungsitoli, Senin (19/10/2015). (Baca: Dinilai Menghina Perempuan, Yanto Bayar Sanksi Adat Rp 22,5 Juta)

Dari informasi yang diterima Kabar Nias Sekretaris Lembaga Budaya Nias (LBN) Kota Gunungsitoli Fatisökhi Gea, pembagian ogauta tersebut adalah untuk korban penghinaan, MW, sebesar 1 balaki dikonversi menjadi Rp 5.000.000. Sumange zatua (orangtua korban) 2 x 6 alisi = Rp 3.000.000, talifusö (saudara korban) 2 x 6 alisi = Rp 1.500.000, banua (desa) 1 x 6 alisi = Rp 1.500.000, uwu (paman korban) 1 x 6 alisi = Rp 1.500.000.

Selain itu, fondrara dödö dua (untuk kakek) 1 x 4 alisi = Rp 1.000.000, fondrara dödö nonomatua 1 x 4 alisi = Rp 1.000.000, aya gawe 1 x 4 alisi = Rp 1.000.000, fangombakha ba nono alawe (pemberitahuan kepada perempuan) 1 x 4 alisi = Rp 1.000.000. Lalu möli-möli wehede dana wobanua 1 x 6 alisi = Rp 1.500.000, fanöngöni 1 x 6 alisi Rp 3.000.000 dan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) 1 x 6 alisi = Rp 1.500.000 yang diterima Wali Kota Gunungsitoli Martinus Lase dan Wakil Bupati Nias Arosökhi Waruwu.

Pada saat tersebut, Yanto juga diwajibkan menyediakan simbi sebanyak 15 buah. Lima dari 15 simbi itu diberikan kepada kelima kepala daerah di Pulau Nias. Satu simbi juga diberikan kepada tokoh pemuda yang diterima oleh wakil dari Pemuda Pancasila. Selebihnya ditujukan kepada keluarga korban dan tokoh adat. Kepala daerah yang tidak hadir diterimakan kepada pegawai di kantor Wali Kota Gunungsitoli.

Denda lain, Yanto diwajibkan memberi makan orang yang hadir pada pertemuan itu. Khusus untuk warga Muslim disediakan nasi kuning beserta daging ayam sebanyak 6 buah. Pantauan Kabar Nias, acara itu dihadiri lebih kurang 500 orang.

Penentuan jumlah ogauta ini, menurut LBN Kota Gunungsitoli, berdasarkan putusan bersama keluarga, tokoh masyarakat, LBN Kota Gunungsitoli, Pemerintah Kota Gunungsitoli dan Kabupaten Nias (Baca: Masyarakat Kecam Perbuatan Yanto)

Menurut Ketua LBN Kota Gunungsitoli Benyamin Harefa kepada Kabar Nias, ketentuan sanksi adat ini telah disepakati sejak tahun 1627 di Gunungsitoli oleh rumpun Nias, Tionghoa, Minangkabau, dan Aceh. Namun, pada pemberian hukum adat kepada Yanto telah dikonversi ke jumlah rupiah.

“Beberapa hari yang lalu dan terakhir hari Sabtu (17/10/2015) di Kantor Wali Kota, baik orangtua MW dan keluarga Yanto serta tokoh adat dan pemerintah telah sepakat diberi sanksi adat kepada Yanto yang dikonversi dalam rupiah,” ujar Benyamin.

Saat Kabar Nias menghampiri Yanto seusai pemberian sanksi tersebut, Senin siang, yang bersangkutan tidak banyak bicara dan memilih untuk segera keluar dari kantor wali kota Gunungsitoli. “Maaf, saya terlalu capek, jadi saya ingin segera pulang dan istirahat,” ujar Yanto sambil mengangkat kedua tangannya dan berlalu.

Seperti diketahui, Yanto telah menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf terhadap korban MW, keluarga, dan masyarakat yang tersinggung atas perbuatan yang dilakukannya pada Kamis (15/10/2015) siang dan ia berjanji tidak mengulanginya lagi (Baca: Sampaikan Permintaan Maaf, Yanto Tetap Diproses secara Hukum).

Saat acara pemberian sanksi adat itu, hadir juga keluarga besar Yanto. Wakil Bupati Nias Arosökhi Waruwu juga tampak hadir. [knc02w]