Strategi Mengembangkan Bahasa Nias pada Era Digital

0
75

Oleh Sirus Laia, dari London, Inggris

Dalam tulisan sebelumnya (Melestarikan Bahasa Nias Untuk Siapa dan Bagaimana) saya telah berargumen bahwa untuk melestarikan bahasa Nias pada era digital, sekadar dokumentasi tidaklah cukup. Sebaliknya, para pegiat bahasa Nias harus juga 1) mengembangkan kosa kata melalui sebuah “dapur bahasa” dan 2) seyogianya mengembangkan bahasa Nias dengan fokus pada generasi digital dengan segala implikasinya.

Dalam tulisan ini, saya meneruskan refleksi saya setelah setahun bergelut dengan program lima tahun (2020-2025) pengembangan bahasa Nias pada era digital. Kita telah tahu fokus yang menjadi sasaran kita, tetapi strategi apa yang harus kita tempuh? Tanpa strategi yang tepat, segala usaha yang telah dimulai ini, bisa dipastikan, akan layu muda.

Ada beberapa strategi, tetapi supaya jangan terlalu panjang, dalam tulisan ini saya konsentrasi pada satu strategi saja. Strategi lainnya mungkin bisa jadi bagian dari tulisan tersendiri nanti di masa depan.

Sebelum saya menjelaskan salah satu strategi yang perlu kita tempuh untuk itu, baik dulu kita pertimbangkan faktor-faktor berikut. Sebab, hanya dengan menyadari kekuatan dan kelemahan kita sendiri, kita dapat memaksimalkan capaian kita.

Faktor yang harus kita turut pertimbangkan:

1. Sumber daya terbatas (tenaga dan waktu). Kegiatan melestarikan bahasa bukanlah sesuatu yang menarik minat banyak orang. Memiliki 7 sampai 8 kontributor tetap sudah lumayan. Namun, pada kenyataannya saat ini hanya ada 4 kontributor aktif dan konsisten. Selain itu, semua kontributor ini adalah para sukarelawan yang telah cukup sibuk dengan pekerjaan utama masing-masing. Mereka hanya menggunakan waktu luang untuk program ini. Karena itu, kemajuan kerja jauh lebih lambat daripada yang diharapkan.

2. Kreativitas dan bakat menulis. Setiap orang bisa memiliki banyak ide brilian, tetapi tidak setiap orang mampu menuangkannya ke dalam satu tulisan. Kendati seseorang bisa seharian bercerita ke sana kemari, belum tentu dia mampu memberikan struktur pada pemikirannya itu.

3. Mutu dan klasifikasi tulisan. Andaikan pun seseorang berhasil menerjemahkan berbagai idenya ke dalam bentuk tulisan, belum tentu tulisan tersebut bermutu atau dapat diklasifikasikan sebagai sebuah tulisan di ensiklopedia, misalnya.

3. Standar bahasa Nias. Bahasa Nias tidak memiliki aksara dan karena itu tidak ada aturan penulisan baku. Yang ada adalah terjemahan Kitab Suci (Sura Ni’amoni’ö) ke dalam bahasa Nias yang dilakukan oleh seorang misionaris lebih dari 100 tahun yang lalu. Sementara itu bahasa Nias telah berkembang dan berubah (bandingkan misalnya dengan bahasa Indonesia, yang telah beberapa kali mengalami pembaruan sejak zaman Siti Nurbaya, dari bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sekarang!). Karena itu, terdapat kesimpangsiuran entah itu dalam penulisan kata majemuk, penggunakan huruf ö dan ŵ atau bagaimana memperlakukan kosa kata dari berbagai dialek di Pulau Nias.

diagram tahap kerja

Dengan memperhatikan faktor di atas, strategi pertama, yang seyogianya ditempuh untuk mewujudkan program ini, adalah proses bertahap (lihat gambar diagram di atas). Secara garis besar proses ini bisa dilukiskan sebagai berikut.

Tahap 1: Pengumpulan. Dalam tahap ini fokus terletak pada hal mendokumentasikan sebanyak mungkin kata, tulisan atau buku. Secara konkretnya hal itu bisa dijabarkan sbb:

Untuk kamus:

  • Menulis sebanyak mungkin entri kata

Untuk ensiklopedia:

  • Menerjemahkan sebanyak mungkin berbagai tulisan pilihan di bidang biologi, geografi, hukum sejarah, seni dan sebagainya, yang bahannya bisa diambil dari Wikipedia bahasa Indonesia dan Inggris
  • Menulis sebanyak mungkin topik tentang bahasa, budaya dan sejarah Nias

Untuk buku:

  • Menulis sebanyak mungkin buku tentang berbagai hal yang menyangkut bahasa, budaya dan sejarah Nias
  • Menulis sebanyak mungkin buku pelajaran untuk anak umur 3-12 tahun

Tahap 2: Perbaikan. Dalam tahap ini fokus lebih pada memperbaiki tulisan/entri yang telah ada dengan menyetrika salah tulis dan hal lainnya yang berkaitan dengan tata bahasa serta memperbaiki tata letak. Harapan adalah bahwa ketika program mencapai tahap ini, komunitas pegiat bahasa Nias telah lebih kurang menyepakati standardisasi bahasa Nias. Itu berarti secara konkret:

Kamus:

  • Pemeriksaan salah tik, salah definisi, salah kategori dan lain sebagainya.

Ensiklopedia:

  • Pemeriksaan salah tik, salah kategori, salah referensi dan sebagainya.

Buku:

  • Pemeriksaan salah tik, salah konstruksi kalimat, salah klasifikasi dan sebagainya.

Tahap 3: Pengembangan. Dalam tahap ini tulisan/entri yang telah ada dikembangkan lagi. Itu berarti:

Kamus:

  • Melengkapi entri misalny dengan cara pengucapan, contoh gambar, mengambil contoh kalimat dari literatur yang tersedia (bukan sekadar frasa buatan)
  • Membuat tesaurus
  • Membuat pohon kata (kata-kata yang saling berhubungan membentuk satu pengertian)

Ensiklopedia

  • Melengkapi berbagai portal topik ilmu pengetahun
  • Menciptakan berbagai koneksi antartulisan, misalnya tanggal-tanggal bersejarah yang bisa digarap dari berbagai tulisan dan menjadikannya menjadi sebuah lini masa
  • Mengusahakan tulisan dari Wikipedia masuk ke Wikidata

Buku:

  • Mengidentifikasi buku-buku lainnya yang perlu, misalnya, di bidang pendidikan, kesehatan, bisnis

Tahap 4: Penerapan. Bila program sampai pada tahap ini itu berarti bahan yang telah ada sudah bisa digunakan untuk berbagai aplikasi integral, yang berguna dalam hidup sehari-hari. Itu berarti a.l.:

Kamus:

  • Menggunakan isi kamus (bersama isi ensiklopedia dan buku) untuk proyek-proyek berbasis kecerdasan buatan (artifical intelligence) dan pembelajaran mesin (machine learning)

Ensiklopedia:

  • Mengusahakan supaya Wikipedia menjadi referensi pertama masyarakat Nias untuk mencari informasi tentang berbagai hal dalam hidup sehari-hari, baik dengan cara menulis maupun dengan suara. Dengan demikian, komputer menjadi alat bantu sehari-hari untuk manusia dan bukan sebaliknya.

Buku:

  • Mengusahakan supaya buku-buku yang ada di Wikibuku dipakai oleh masyarakat Nias untuk meningkatkan pengetahun mereka tentang berbagai segi kehidupan, dari ilmu pasti ke sastra, dari politik ke sport, dst.

Catatan: jangka waktu setiap tahap bersikap plastis, artinya tidak koresponden dengan satu tahun atau dua tahun, melainkan mengacu pada dinamika capaian para pegiat program.

Demikian secara garis besar proses bertahap yang menurut hemat saya harus kita tempuh bila kita mempertimbangkan berbagai faktor di atas. Keberhasilan program kita untuk menyampaikan pengetahuan kepada generasi digital berikut penutur bahasa Nias sangatlah bergantung pada kemampuan kita memaksimalkan sumberdaya terbatas yang kita miliki. Akan tetapi, seperti digambarkan di atas, kendati segala keterbatasan tampaknya hal itu tidak mustahil untuk dicapai. Meminjam ungkapan dari bahasa Inggris, making impossible things possible. Tetapi hal itu hanya dengan sebuah strategi yang tepat. Semoga.

 

Rujukan program:

(Sirus Laia, 26 Februari 2021)