Oleh Sirus Laia

Setelah selama setahun bergelut bersama teman-teman seperjuangan mendokumentasikan bahasa Nias, satu hal menjadi semakin fokus dalam perenungan saya. Saya membagikannya di sini, siapa tahu menjadi inspirasi bagi sesama pemerhati bahasa Nias lainnya, entah dia tinggal di Pulau Nias atau di luar Nias.

Sejak awal usaha ini, saya memang selalu menghadapkan diri saya pada pertanyaan ini: untuk apa kita melestarikan atau lebih tepat untuk apa kita mengembangkan bahasa Nias? Ada beberapa jawaban dan pilihan kita terhadap salah satu jawaban akan sangat menentukan strategi kita mendokumentasikan bahasa Nias.

Jawaban pertama: sekadar dokumentasi. Kita mengumpulkan kosa kata bahasa Nias supaya tidak hilang (jadi identik dengan buat kamus). Sama seperti kita mengumpulkan benda-benda seputar budaya di museum. Hal ini bagus untuk menjadi tontonan bagi pengunjung, mengagumi masa lalu yang telah lama hilang.

Logo kamus Nias

Dalam perspektif ini usaha melestarikan bahasa Nias terbatas pada dokumentasi berbagai kata yang ada, entah itu yang masih aktif digunakan masyarakat, ataupun yang telah lama hilang. Ini adalah usaha yang paling mudah dari berbagai kemungkinan yang akan disebut di sini.

Jawaban kedua: bukan hanya dokumentasi, tetapi juga mengembangkannya. Kita harus membuat bahasa Nias seksi, sehingga para penutur bahasa Nias merasa tertarik menggunakannya dan bukan hanya sekadar merupakan sisipan dalam percakapan bahasa Indonesia.

Kalau kita menempuh jalan ini, tantangannya adalah kita sudah terbiasa berpikir dalam bahasa Indonesia dan ada banyak kata serta ungkapan, yang tak ada padanannya dalam bahasa Nias. Karena itu, mereka yang berbicara dalam bahasa Nias harus menyisipkan sedemikian banyak kata dan istilah dari bahasa Indonesia.

Mau tidak mau sekadar “melestarikan” tidak memadai lagi. Dalam pilihan ini kita juga harus mulai mencari padanan kata dan istilah tersebut di atas baik dengan menggali kosa kata lama, yang telah “hilang” ataupun menciptakan kosa kata dan istilah baru. Jadi, selain dokumentasi bahasa, di sini perlu “dapur bahasa“. Dengan demikian fokus usaha kita  sedikit bergeser, kita bukan hanya “melestarikan”, melainkan juga dan harus “mengembangkan” bahasa Nias.

Jawaban ketiga: bukan hanya sekadar mengembangkan, melainkan mengembangkannya untuk kelompok tertentu. Apakah kita mengembangkan bahasa Nias untuk generasi kakek/nenek kita? Kakek dan nenek kita, yang tidak bisa membayangkan apa itu internet, tidak dapat mengerti dan juga tidak peduli apa itu atom, DNA, proses pembuatan vaksin, wahana ruang angkasa yang bisa terbang ke Bulan atau ke Mars, dan lain sebagainya?

Dalam konteks ini pertanyaan kita adalah apakah kita harus me-lidah-Nias-kan nama-nama dan istilah seperti Venus menjadi Fenu, Saturnus menjadi Saturönu, New Zealand menjadi Nuzölandrö, dan seterusnya? Apakah nama seperti Pangeran William menjadi Pangera Wilia, Johannes Gutenberg menjadi Yohane Gutöbörö dan atom quarks menjadi ato kuakö?

Dari beberapa contoh di atas menjadi jelas bahwa me-lidah-Nias-kan nama-nama dan istilah justru kontra-produktif. Pertama, teks yang akan kita tulis di zaman digital ini toh tidak akan menjadi konsumsi generasi kakek kita (jadi mereka tidak akan pernah punya keinginan membaca tulisan generasi masa kini). Dan kedua berbagai nama dan istilah tersebut di atas justru membingungkan buat target pembaca kita, yang notabene generasi masa kini alias generasi digital.

Kita harus fokus pada pengembangan bahasa Nias di dan untuk generasi digital masa kini.

Singkatnya, bila kita memilih jawaban ketiga sebagai orientasi kita dalam mengembangkan bahasa Nias, dan saya sangat mendukung menempuh jalan ini, kita harus melepaskan diri dari orientasi ke masa lalu dan fokus pada pengembangan bahasa Nias di generasi digital masa kini. Ini harus menjadi fokus dalam usaha kita mengembangkan bahasa Nias.

Konskuensi dari pilihan ini adalah bahwa

  1. Kita sebaiknya mempertahankan nama orang dari bahasa asalnya. Jadi Sundermann bukan Sundömanö, Xi Jinping bukan Kisi Pini, Martin Luther bukan Marati Lute. Kita juga pasti tidak mau kalau orang Inggris menulis nama Sökhi’atulö menjadi Sukee atoole.
  2. Hal yang sama berlaku pada istilah-istilah yang telah mendunia seperti internet, email, pandemi, dan lain sebagainya. Kita tak perlu me-lidah-Nias-kan istilah-istilah tersebut. Kita cukup mengambil seluruhnya secara utuh. Generasi masa kini mampu mengucapkan berbagai nama dan istilah itu dengan fasih (satu hal yang generasi nenek kita tidak mampu buat).
  3. Mengingat cara penulisan bahasa Nias yang kita kenal sampai sekarang tidak pernah mengalami pembaruan (bandingkan itu dengan ejaan bahasa Indonesia yang telah mengalami beberapa kali pembaruan) dan generasi digital hanya mendapatkan pendidikan dalam bahasa Indonesia, cara penulisan bahasa Nias seyogianya mengikuti bahasa Indonesia. Cara penulisan bahasa Nias yang kita kenal sekarang, yang diintroduksi oleh Sundermann lebih seratus tahun lalu, merupakan pilihan zaman itu, yakni mengikuti bahasa Belanda. Kini kita menggunakan bahasa Indonesia, seyogianya kita tidak perlu mempertahankan lagi cara yang dulu dibuat dengan berorientasi pada bahasa Belanda, kendati itulah yang sampai kepada kita melalui Kitab Suci bahasa Nias.
  4. Untuk mengembangkan kosa kata bahasa Nias, perlu “dapur bahasa” yang berusaha memperkenalkan kata-kata baru, entah itu dengan menggali berbagai kata lama, yang sudah tidak dipakai lagi, atau dengan membentuk kata baru. Sebagai contoh, dua tahun lalu kata manspreading menjadi populer di Inggris. Seandainya tren tersebut sampai ke Indonesia pasti orang langsung memakai kata maspreading juga termasuk orang Nias. Tetapi tahukah Anda bahwa dalam bahasa Nias ada kata tua untuk itu? Ya ada: fagega (cari kata itu di kamus Nias di nia.wiktionary.org). Maka “dapur bahasa” Nias misalnya bisa memopulerkan kembali kata fagega.Contoh lainnya kata masker, yang jadi populer selama pandemi. Dalam bahasa Inggris disebut face covering. Kita akan melihat pesan “Please wear face covering” di mana-mana di Inggris sejak pandemi covid-19 mulai. Dapur bahasa Nias langsung membentuk kata lumbawa, yang merupakan singkatan dari balu-balu mbawa dan sangat tepat untuk ini.

Namun, usaha mengembangkan bahasa Nias tidak terbatas di situ. Seharusnya usaha kita ini menyasar tujuan yang lebih besar lagi. Kita bukan hanya mendorong penggunaan bahasa Nias dalam percakapan sehari-hari dan berbagai media sosial, melainkan kita juga harus mendorong pengembangan buku dan sastra Nias (berbagai tulisan/buku/cerita/opini dalam bahasa Nias)

Kita bukan hanya mendorong penggunaan bahasa Nias dalam percakapan sehari-hari dan berbagai media sosial, melainkan kita juga harus mendorong pengembangan buku dan sastra Nias

Untuk saat ini kelompok pemerhati bahasa Nias telah mencanangkan program lima tahun (2020-2025) pengembangan bahasa Nias di era digital. Dan sampai sekarang program itu telah berjalan melebihi harapan. Untuk itu kelompok mamanfaatkan layanan gratis dari Wikimedia, yang sangat mementingkan proyek kolaboratif. Semua proyek di Wikimedia merupakan usaha urung daya (si falulu halöŵö). Setiap orang bisa menyumbang isi kamus/ensiklopedia/buku/cerita dan lain sebagainya, sama seperti juga setiap orang bisa memperbaikinya menambah, mengubah, dan menyempurnakannya.

Saat ini kamus Nias terdapat di Kamus Li Niha, ensiklopedia di Ensiklopedia Li Niha, buku/cerita/nyanyian dlsb dalam bahasa Nias di WikiBuku, kumpulan kutipan/kata-kata bijak dalam bahasa Nias di WikiNiŵaö, dan berita mingguan dalam bahasa Nias di WikiTuria.

Seperti bahasa-bahasa lainnya, bahasa Nias juga harus berkembang mengikuti zaman. Berbagai bahasa daerah di Indonesia seperti bahasa Jawa, Bali, Minang, Sunda dan sebagainya sedang giat-giatnya mengembangkan bahasa mereka dengan menggunakan fasilitas Wikimedia di atas. Sebelum terlambat orang Nias harus mulai melestarikan dan mengembangkan bahasa Nias untuk digunakan oleh generasi digital masa kini dan masa depan. Semoga.

(Sirus Laia,16 Februari 2021)