Sekolah Mirip Kandang Itu Segera Direnovasi

0
307

Oleh Anoverlis Hulu

Tiga tahun beroperasi, SMA Negeri 1 Somambawa kecamatan Somambawa Kabupaten Nias Selatan ini sempat menjadi perbincangan setelah dua televisi swasta nasional terkemuka di Indonesia meliput keberadaannya. Kondisi bangunan yang sangat memprihatinkan bahkan membuat sekolah ini disebut salah satu televisi tersebut serupa seperti ‘kandang’.

Menyandang sebutan seperti itu tentunya bukan sesuatu yang menyenangkan. Tapi memang begitu keadaannya. Kondisi bangunan sangat memprihatinkan. Dinding bangunan terbuat dari papan, berlantai tanah dan beratap rumbia, bangku dan meja seadanya, bahkan kantor guru lebih serupa gubuk tempat berteduh yang terbuka bebas karena tidak dilengkapi dinding atau setidaknya kain penutup. Para siswa juga harus menahan rasa tidak nyaman saat cuaca panas menembus dinding papan yang bercelah lebar atau sebaliknya becek-becekan saat hujan datang.

Tapi, kini sekolah akhirnya bisa sedikit bernafas lega. Sekitar sebulan lagi akan ada tiga ruang kelas permanen siap dibangun. Ini berkat bantuan Indosiar, televisi swasta nasional yang memang punya program membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam hal pendidikan. Bantuan yang diberikan tidak tanggung-tanggung, mulai dari penyediaan bahan, penyediaan tenaga kerja hingga pengerjaan pembangunan. Pihak sekolahpun hanya akan ‘terima bersih’.

Kantor guru juga lebih layak karena sudah berdinding (walaupun masih dari papan) dan sudah berlantai semen. Bahkan sudah ada aula mini dilengkapi toilet. Baik kantor guru maupun aula dan toilet merupakan sumbangan dari Kepala Kejaksaan Negeri Nias Selatan Riyono SH, MH dan sudah diresmikan pada 3 Maret 2017 lalu. Bupati Nias Selatan, Hilarius Duha, yang turut hadir pada peresmian bangunan sumbangan Kajari Nias Selatan tersebut juga menyampaikan bahwa Gubernur Sumatera Utara berjanji akan memperhatikan sekolah itu karena saat ini penanganan SMA/SMK sudah diambil alih oleh Provinsi.

Memudahkan anak bersekolah

‘Terlalu dipaksakan’ mungkin itulah tanggapan sebagian orang ketika SMA ini didirikan. Ada yang berpendapat seharusnya tidak perlu membangun sekolah kalau tidak ada biayanya. Ada juga yang mengatakan pemerintah daerah seharusnya memberi perhatian terhadap pembangunan sekolah tersebut dan tidak membiarkan kondisinya hanya berupa bangunan darurat. Lalu apa sebenarnya alasan berdirinya sekolah ini?

“Untuk memudahkan anak-anak di desa ini bersekolah!” begitu ungkap Kepala SMA Negeri 1 Somambawa, Apraisman Nduru.

Ia menuturkan, pendirian sekolah ini didasarkan atas usulan masyarakat setempat yang merasa terbeban karena harus menyekolahkan anak-anak mereka ke SMA yang lokasinya sangat jauh. SMA terdekat di desa mereka berlokasi berjarak 5 kilometer yang ditempuh dengan berjalan kaki. Hal ini tentunya merugikan secara waktu dan materi. Karena jika terpaksa, anak-anak harus naik ojek atau memiliki sepeda agar tidak terlambat ke sekolah.

Oleh karena itulah, masyarakat kemudian bertekad untuk mendirikan SMA di desa mereka. Dibentuklah panitia pengusulan SMA Negeri 1 Somambawa yang disebut SMA Negeri 1 Persiapan Somambawa. Setelah usulan disampaikan, pada 21 Mei 2014 Surat Izin dikeluarkan, lalu pembangunan dimulai 7 Juli 2014 dan bulan Oktober 2014 sekolah itu mulai beroperasi. Tidak lama kemudian, kata ‘SMA Persiapan’ resmi menjadi SMA Negeri 1 Somambawa.

SMA Negeri 1 Somambawa kini memiliki 213 siswa (Kelas 10 sampai 12) dengan 30 Guru yang terdiri dari 3 Guru bersatus PNS, 9 Guru berstatus GBD sementara 18 orang lainnya bersatus GTT dan Pegawai Tata Usaha. Selain ruang kelas, juga terdapat tempat parkir dan lapangan voli. Setiap kelas diisi antara 21-30 siswa.

Jam masuk sekolah dimulai pukul 07.15 WIB yang diawali apel pagi. Lalu belajar dimulai pukul 07.30 WIB dan diakhiri pukul 13.15 WIB pada hari Senin-Kamis, sementara hari Jumat belajar dilaksanakan sampai pukul 12.15 WIB dan pada hari Sabtu lebih awal lagi yakni pukul 11.30 WIB. Dengan demikian, total kegiatan belajar mengajar 39 jam per minggu dengan menggunakan kurikulum KTSP.

“Pembelajaran berjalan dengan baik tanpa ada hambatan walau masih banyak kekurangan dari segi fasilitas. Namun itu tidak menjadi penghalang,” kata Apraisman.

Kehadiran SMA Negeri 1 Somambawa sesuai dengan tujuan awalnya memang dirasakan sangat bermanfaat bagi masyarakat setempat. Seperti diungkapkan orangtua siswa, Arozisõkhi Nduru. Ia mengaku bangga karena anak-anak di daerah itu bisa bersekolah. Tidak hanya berasal dari desa itu, namun juga dari desa disekitarnya.

“Kami jadi ramai disini dan juga bisa membuka lapangan pekerjaan baru karena ada kedai disini,” ujarnya sambil tersenyum.

Arozisõkhi Nduru mengemukakan untuk hal yang berkaitan dengan pembangunan akan didukung penuh oleh masyarakat. Pasalnya masyarakat setempat menyadari bahwa untuk mengubah masa depan menjadi lebih baik adalah lewat pendidikan. Sehingga jika sudah maju, sudah profesional, sudah pengalaman pasti yang dibawa adalah kemajuan.

Dukungan Penuh Masyarakat

Ada hal yang cukup menarik di balik berdirinya sekolah ini, yakni sikap rela berkorban. Bagaimana tidak? Tanah seluas satu hektar dimana sekolah ini dibangun dihibahkan masyarakat dan sudah disertifikatkan atas nama sekolah. Lalu pembersihan lokasi mulai dari penebangan pohon hingga pemerataan tanah juga dilakukan oleh masyarakat. Termasuk penyediaan bahan bangunan hingga pembangunan pun semuanya dilakukan secara swadaya.
Dukungan masyarakat lainnya diungkapkan Duhu’atulõ Nduru. Menurut dia, hal ini sudah menjadi keinginan masyarakat sejak lama sehingga proses penghibahan tanah hingga pembangunan gedung dikerjakan secara sukarela.

“Kami tidak menuntut ganti rugi. Kami mendukung, termasuk menyediakan peralatan seperti beko dan begitu juga dengan pekerjaan meratakan,” ujarnya.

Hal senada juga dikemukakan Sõkhi’atulõ Nduru. Menurut dia, masyarakat sangat membantu dalam hal pembangunan sekolah misalnya dengan memberikan sumbangan secara materi dan fisik sehingga proses pendirian SMA ini terbilang cepat, hanya setahun.

“Mungkin secara fisik dan materi kami merasa tidak mampu kalau semua yang mengerjakannya hanyalah kami. Apalagi tidak semua mau berkorban, ada batasannya terutama dalam hal materi. Dengan adanya SMA ini masyarakat sangat mendukung karena lokasinya strategis dan lebih ramai karena ada tiga desa yang menghubungkan lokasi ini,” ungkapnya.

Ia sendiri nyaris kehilangan nyawa saat proses pembersihan lokasi tersebut. Waktu itu sebuah pohon langsat tiba-tiba tumbang dan menimpa susunan papan yang berjarak hanya satu meter dari tempat ia berdiri. Ia berhasil menghindar setelah mendengar teriakan dari teman-temannya.

Masih butuh dukungan

Meski baru berdiri, beberapa prestasi sudah diraih sekolah ini. Diantaranya menjadi salah satu anggota Paskibraka Kabupaten Nias Selatan tahun 2015, Juara 1 lomba Maena tingkat kecamatan, serta juara bidang olahraga berupa voli dan futsal. Tahun ini pihaknya berharap bisa ikut sebagai peserta OSN.

“Saat peresmian ruang kelas baru itu nanti, akan diundang berbagai pihak termasuk dari pemerintah daerah. Ini juga sebagai upaya untuk menarik simpati yang lebih luas sehingga siapa tahu masih ada nanti yang berkenan untuk menyumbang lagi,” ujar PKS Kesiswaan, Herman Jaya Zendratõ

Masih banyak yang harus disediakan untuk menunjang proses belajar mengajar disana. Sebut saja tambahan ruang kelas permanen, penyediaan meubileur mulai dari meja, kursi atau papan tulis maupun komputer. Belum lagi dengan aliran listrik yang juga harus diperhatikan agar menunjang kegiatan belajar para guru. Tahun ini pun, SMA Negeri 1 Somambawa masih melaksanakan Ujian Nasional berbasis Kertas dan Pensil (UNKP).
Hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah pembangunan tembok penahan atau dam disekeliling area sekolah. Pasalnya kondisi tanah dilokasi tersebut cukup labil sehingga sangat membahayakan dan tentu akan merugikan secara materi. Tentunya ini membutuhkan biaya yang sangat besar sehingga wajar bila sekolah masih mengharapkan bantuan dari para pemerhati pendidikan lainnya.

Tidak lupa, peningkatan kesejahteraan guru terutama guru GTT juga merupakan dukungan lainnya yang terus diperjuangkan. Bayangkan saja honor yang diberikan sangat minim bahkan sangat tidak wajar yang hanya mencapai 100 ribuan per bulannya.

Semoga saja, dengan mulai terpenuhinya fasilitas di SMA Negeri 1 Somambawa satu demi satu, istilah ‘sekolah kandang’ akan terhapus seiring waktu. Walaupun kita tidak tahu bisa jadi masih banyak sekolah bernasib sama tidak hanya di Nias Selatan namun juga di daerah lainnya di Indonesia yang bernasib sama seperti ‘kandang’. Semoga juga akan semakin banyak hati yang tergerak untuk mengulurkan tangan dalam mencerahkan masa depan anak-anak di Nias Selatan khususnya melalui pendidikan. Seperti kata Plato “Arah yang diberikan pendidikan adalah untuk mengawali hidup seseorang yang akan menentukan masa depannya.”