Wali Kota Gunungsitoli: Batalkan Kerja Sama dengan UT

PROGRAM 100 HARI

0
4360
Wali Kota Gunungsitoli Lakhömizaro Zebua dan Ketua STIE Pembnas Nias Fatolosa Hulu sepakat menjalin kerja sama dalam meningaktkan SMD dan ekonomi masyarakat. —Foto Kabarnias.com/Onlyhu Ndraha

GUNUNGSITOLI, KABAR NIAS — Dinilai tidak sesuai dengan Program 100 Hari Wali Kota dan Wakil Wali Kota, kerja sama Pemerintah Kota Gunungsitoli dengan Universitas Terbuka (UT) dibatalkan. Belum tersedianya fasilitas jaringan internet yang memadai di wilayah Kota Gunungsitoli menjadi pertimbangan utama. Pemkot Gunungsitoli memilih menjalin kerja sama di bidang peningkatan sumber daya manusia tersebut dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pembangunan Nasional Nias.

Keputusan tersebut diambil Wali Kota Gunungsitoli Lakhömizaro Zebua saat menerima audiensi Ketua STIE Pembnas beserta jajarannya dalam rangka menjalin kerja sama di ruang rapat wali kota, Jl Pancasila Desa Mudik Kota Gunungsitoli, Selasa (3/5/2016).

“Kami sudah putuskan penempatan eselon II di Kota Gunungsitoli akan melibatkan akademisi, praktisi, dan pemerintahan dalam tes kemampuan sebelum ditempatkan,” kata Lakhömizaro.

Saat pertemuan tersebut Kepala Bidang PTK Disdik Kota Gunungsitoli Duhuzatulö Zebua melaporkan bahwa sebelumnya telah ada kerja sama dengan pihak UT terkait pengembangan SDM ini.

“Saya laporkan Pak, besarnya dana yang tertampung pada APBD 2016 untuk peningkatan SDM pegawai sebesar Rp 800 juta. Kami (Disdik Kota Gunungsitoli) telah menjalin kerja sama dengan UT dan akan segera dimulai,” ujar Duhuzatulö pada rapat itu.

Mendengar hal itu, seketika Lakhömizaro marah dan meminta kerja sama itu dibatalkan. “Saya minta, batalkan kerja sama itu. Siapa yang sudah memberi izin kepada kalian. Seharusnya kalian sudah memahami Program 100 Hari yang sedang berlangsung ini? Kalau Disdik ngotot, saya tidak mengeluarkan izin belajar. Bekerja sama dengan UT, bagaikan APBD dibuang ke laut,” ujar Lakhömizaro dengan nada sedikit meninggi.

Penolakan kerja sama dengan UT bukan tanpa alasan. Lakhömizaro menilai kredibilitas dan disiplin mahasiswa cukup diragukan jika belajar di UT. “Proses kuliah itu hanya cocok di daerah yang sudah akses internetnya membaik, sedangkan di Kota Gunungsitoli fasilitas untuk itu masih minim. Kemudian, belum ada izin prinsip yang dikeluarkan wali kota,” ujarnya.

Jalin Kerja Sama

Dalam rangka kerja sama dengan STIE Pembnas, Wali Kota meminta Disdik segera membuat laporan program apa yang bisa difasilitasi di dunia pendidikan itu.

Pada pertemuan yang berlangsung sekitar 60 menit itu, Wali Kota yang akrab disapa Ama Marta itu menyatakan akan merealisasikan beasiswa prestasi kepada mahasiswa yang memiliki indeks prestasi (IP) tinggi dengan kriteria, penduduk Kota Gunungsitoli, bukan pegawai negeri sipil, bukan anggota DPRD.

Selain itu, semua alumni yang sudah mendapat izin belajar wali kota segera disesuaikan penggunaan gelar.

“Selain itu, beberapa bulan ke depan akan dilakukan seleksi penempatan eselon II dan melibatkan STIE Pembnas sebagai pihak akademisi menyeleksi calon,” kata Lakhömizaro.

Beberapa pertimbangan Pemerintah Kota Gunungsitoli bekerja sama dengan STIE Pembnas Nias, yakni Jurusan Manajemen dengan akreditasi B dinilai cukup layak untuk peningkatan SDM pegawai.

“Dengan izin belajar di STIE Pembnas Nias, pegawai yang bersangkutan dapat bekerja pelayani publik pada pagi hari dan sorenya kuliah. Kemudian, karena kampusnya dekat dan ada secara fisik, mudah kita dikontrol. Jika tidak mampu, izin belajar dicabut,” kata Lakhömizaro.

Wakil Ketua DPRD Kota Gunungsitoli Hadirat Gea, yang turut hadir pada pertemuan itu, menyarankan wali kota untuk berkoordinasi dengan Bupati Nias dan Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Nias, di mana kampus yang sedang dipimpin Fatolosa Hulu itu alumninya sudah banyak memberi kontribusi untuk membangun Kota Gunungsitoli.

“SDM pegawai di Kota banyak, tetapi belum dimanfaatkan, misalnya Dr. Fa’aso Ndraha, M.Pd, pegawai BKD Kota Gunungsitoli. Semestinya beliau dijadikan dosen tetap dan beberapa lainnya. Perlu diingat, kampus STIE ini berada di wilayah Kota Gunungsitoli. Saat diskusi dengan Ketua Yaperti Firman Yanus Larosa, izin prinsip sudah ada. Namun, ada beberapa pribadi pegawai yayasan yang tidak setuju,” kata Hadirat.

Seusai pertemuan itu, Ketua STIE Pembnas Fatolosa Hulu kepada Kabar Nias mengatakan siap menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan Pemkot Gunungsitoli. “SDM di STIE sudah tidak diragukan lagi. Tentu permintaan untuk melibatkan dalam penentuan penempatan eselon dan peningkatan ekonomi masyarakat kami siap,” kata Fatolosa. [knc02w]