Apolonius Lase dan Kisah di Balik Penerbitan “Kamus Li Niha”

0
451

Liku-liku Kamus

Menerbitkan kamus Li Niha menunjukkan proses pembelajaran bagi siapa saja yang ingin melakukan hal yang sama. Penulisan buku, dilanjutkan dengan penerbitan buku memerlukan proses panjang. Menerbitkan buku harus terlebih dahulu memiliki pasar yang jelas!

Berbekal pengetahuan ala kadarnya tentang penerbitan dan pencetakan buku, Apollo mendatangi sebuah penerbitan dan menunjukkan draf kamus Nias-Indonesia. Di luar dugaan, perusahaan penerbitan tersebut menjawab bahwa pencetakan dilakukan kalau pembeli sudah ada yang siap membeli dalam jumlah tertentu. Cukup berat. Saran mereka adalah penjajakan kerja sama dengan pemerintah daerah Nias.

Dengan penuh harap ia jalankan saran itu hingga ayah dari Nicolash Jeremy Onoma Lase dan Nikita Putri Aurelia Lase ini menawarkan kerja sama dengan pemerintah daerah di Nias dengan menemui para pejabat di sana. Secercah harapan terbayang di mata pria bertinggi badan 164 sentimeter ini saat mereka bertemu. Sayangnya, berkali-kali Apollo menghubungi orang yang memberinya harapan, sebanyak itu pula ketidakpastian diterimanya.

Apollo akhirnya berkesimpulan, kemungkinan kerja sama menerbitkan kamusnya dengan pemda tidak mungkin lagi. “Saya menghubunginya berpuluh kali. Pulsa habis, hasilnya nol besar,” katanya.

Gagal menjajaki kerja sama dengan pemda, Apollo dan temannya berniat  mencetaknya sendiri. Ide itu ditanggalkannya mengingat besarnya dana dan khawatir tidak mampu mendistribusikannya.

Sampai suatu ketika muncul kesempatan yang memang tidak terduga sebelumnya. Suatu ketika, Donny Iswandono, teman Apollo, seorang dosen di sebuah universitas di Jakarta, dan juga temannya diskusi, meminta contoh fotokopi kamus Li Niha yang sudah dijilid ala kadarnya.

Setelah mempelajari contoh tersebut, sekitar Mei 2010, Donny mengabarkan kepada Apollo bahwa seseorang ingin bertemu dengannya untuk membicarakan soal bahasa Nias. Besoknya, sesuai dengan pesan Donny, Apollo datang ke sebuah gedung di Jalan Sudirman, Jakarta, dan bertemu dengan Tony F. Jans, salah seorang pimpinan Posko Delasiga (sekarang Yayasan Delasiga).

Pucuk dicinta ulam tiba! Harapan bersemi kembali. Mereka bersepakat kamus itu akan disajikan sebagai salah satu menu dalam situs www.nias-bangkit.com. Tak cuma itu, Delasiga siap mendukung pencetakan Kamus Li Niha. Untuk itu Apollo bertugas memeriksa kembali naskahnya.

Yayasan Delasiga Siap Membeli

Singkat cerita, Yayasan Delasiga sanggup  membeli sebagian kamus. Penerbitan pertama sebanyak 6.000 eksemplar membuat Apollo merasa lega dan cukup puas. “Setidaknya, saya berhasil mewujudkan cita-cita saya selama bertahun-tahun,” ujarnya.

Dia berharap agar kehadiran kamus yang ditulisnya menjadi pelengkap bagi kamus yang sudah terbit sebelumnya, serta menjadi pegangan bagi sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi.

“Tak ada gading yang tak retak” demikian Apollo mengungkapkan keterbatasan yang dimilikinya dalam kata pengantar buku itu. Pria yang menikah dengan Danaria pada 2000 itu kemudian melanjutkan, ada banyak kata yang belum terekam; kemungkinan juga ada penulisan yang terlewat. Apollo mengajak para pembaca secara bersama-sama terus memperbaiki Kamus Li Niha: Nias-Indonesia itu. “Saya masih merencanakan penyempurnaan untuk penerbitan berikutnya,” ujarnya.

Menulis dan menerbitkan Kamus Li Niha memang melalui jalan berliku. Pernahkan Apollo frustrasi? “Rasa lelah sih sebenarnya tidak terlalu menjadi pertimbangan sebab saya melakukannya tanpa beban, meski ditolak saya tidak terlalu merasa kecewa,” ujarnya mengenang liku-liku proses penerbitan buku pertamanya itu.