Perawakannya kecil. Kulitnya coklat. Bisa dipastikan itu akibat terpapar sinar matahari yang terus-menerus. Saat bertemu dengan Kabar Nias, 27 Desember 2018, pria bernama Iwan Setiawan Aceh, warga Pulau Wunga, Kabupaten Nias Utara dengan semangat menceritakan mainan barunya, yakni “beternak” rumput laut.

“Hidup saya, ya, di laut. Saya kini bersama 10 nelayan sedang melakukan pembudidayaan rumput laut. Kami bentuk Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Wunga Harapan Jaya yang beralamat di Pulau Wunga, Desa Afulu, Kecamatan Afulu Kabupaten Nias Utara,” katanya.

Kelompok petani pimpinan Iwan terbentuk pada 5 Oktober 2017 yang beranggotakan 7 orang ditambah pengurus 3 orang. Iwan dibantu oleh Sekretaris Ardin Lase dan Bendahara Sarif Rahman Aceh.

Ayah dua anak ini cukup lancar dan antusias menjelaskan bagaimana proses budidaya rumput laut yang sedang dijalankannya bersama nelayan lainnya. Menurut Iwan, program budidaya ini sepenuhnya didukung oleh Dinas Perikanan Nias Utara dan sudah dimulai sejak September 2018. Menurut perkiraan, bibit rumput laut yang disemai pada perairan seluas 1 hektar itu akan dipanen produksi setelah 60 hari. Sementara untuk dijadikan bibit lebih baik setelah 25 hari.

Penampakan Pulau Wunga, pulau terluar NKRI, yang termasuk wilayah Kabupaten Nias Utara. –Foto: Dokumentasi Dinas Perikanan Nias Utara

Seperti diketahui, Dinas Perikanan Nias Utara bekerja sama dengan sejumlah lembaga riset nasional, dan salah satu hasil rekomendasinya setelah dilakukan kajian, rumput laut sangat cocok dikembangkan di Pulau Wunga. Menurut rencana, Pulau Wunga dijadikan sebagai pusat pembibitan rumput laut.

Iwan Setiawan bersama 10 rekannya menjalankan program dari Dinas Perikanan ini. “Ini sebagai percontohan budidaya rumput laut. Jadi, panen yang diperkirakan mencapai 2,4 ton nanti 70 persennya akan kembali dijadikan bibit lagi untuk ditanam dengan areal yang lebih luas,” ujarnya.

Rumput laut jenis chotomy yang terlihat sedang bertumbuh dan siap dipanen. –Foto: Dokumen pribadi

Mengapa berani bertanam rumput laut?

Saat ditanya itu, Iwan mengatakan bahwa budidaya rumput laut termasuk mudah. Ia sudah sampai datang ke Pulau Jawa untuk belajar bagaimana prosesnya dan bertekad untuk segera menerapkannya. Ibarat gayut bersambut, Dinas Perikanan seakan mengetahui keinginan kuat Iwan Setiawan Aceh ini, program budidaya itu pun dimulai.

“Selain itu, kita hanya perlu sekali pada pagi hari dan sekali pada sore hari melakukan pemeliharaan, yakni memeriksa bibit rumput laut dari berbagai sampah dan berbagai bakteri yang menempel. Selebihnya, nelayan rumput laut bisa mencari penghasilan dari kegiatan lain, misalnya menangkap ikan,” ujarnya.

Jenis rumput laut yang sedang dibudidaya oleh Iwan dkk adalah rumput laut jenis chotony (Eucheuma cottonii). Bibit itu didatangkan dari  Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung.

“Bibit rumput laut yang ada di BBPBL Lampung ini adalah rumput laut kultur jaringan bukan rumput laut konvesional sehingga tingkat perkembangan pertumbuhannya minimal 6 kali lipat hingga 10 kali lipat dari jumlah bibit yang ditanam, tergantung dari lokasi dan metode yang digunakan untuk membudidayakannya. Kami memilih jenis cottoni karena, selain harga pasarnya tinggi, juga daya tahan terhadap hama dari rumput laut jenis ini juga tinggi,” ujarnya.

Iwan Setiawan sedang melakukan pembersihan pada rumput laut yang sedang dibudidayakannya bersama kelompoknya di Pulau Wunga.

Membudidaya rumput laut, dijelaskan Iwan, cukup mudah. Prosesnya dimulai dari pembibitan. Konstruksi yang dibutuhkan untuk pembibitan yaitu membentuk bingkai berupa tali dengan ukuran 25 meter x 50 meter. Pada konstruksi itu di setiap tali jalur ditempatkan benih rumput laut. Satu jalur itu ada 80 titik dengan berat satu bibit 60 gram. Tali jalur itu diikatkan pada tali bingkai konstruksi.

Setelah pembibitan berhasil dilakukan, tahapan berikutnya adalah pemeliharaan. Iwan dan kelompoknya berbagi tugas secara bergantian. Pada pagi hari satu orang bertugas membersihkan rumput laut, pada sore hari anggota kelompok lainnya giliran melakukannya.

Pengaturan ini menjadi efektif karena para anggota nelayan bisa memiliki rasa memiliki yang sama serta juga bisa lebih efektif untuk mengerjakan pekerjaan lainnya yang bisa menghasilkan uang. Jika anggota kelompok nelayan tidak bisa menangani, diputuskan untuk menyewa tenaga nelayan lain yang upahnya diambil dari uang kas.

Iwan juga mengaku sudah mengurus koperasi nelayan. “Nantinya pemasaran bisa terbantu lewat koperasi nelayan ini. Namun, untuk pemasaran sekarang sudah ada yang menampung, sebuah perusahaan besar di Surabaya.

Dijelaskan Iwan, rumput laut bisa digunakan untuk bahan membuat jus, agar-agar. “Bahkan, saya sekarang sedang uji coba terus bagaimana membuat keripik enak yang bahannya dari rumput laut. Ternyata, enak. Ini akan menjadi pilihan produksi olahan rumput laut,” ujar Iwan.