7 Desa di Kecamatan Mazinö Terdampak Banjir

CUACA BURUK

0
1429
Warga bekerja sama dengan petugas TNI dan Polri untuk mengangkat dan menyingkirkan sampah dari badan jalan akibat banjir Sungai Mezaya.

TELUKDALAM, KABAR NIAS — Akibat luapan Sungai Mezaya 7 desa di Kecamatan Mazinö, Nias Selatan, dilanda banjir, Minggu (13/9/2015). Dibutuhkan tembok penahan untuk melindungi Kecamatan Mazinö dari ancaman banjir Sungai Mezaya.

Menurut penuturan salah seorang warga Desa Hilizalo’otanö, Kecamatan Mazinö, Waldus Talunohi, peristiwa banjir tersebut terjadi Minggu dini hari sekitar pukul 02.30. Hujan deras turun disertai petir. Karena hujan terlalu deras, Sungai Mezaya pun meluap.

“Akibat banjir ini, kami sempat mengungsi di gunung karena arus air sangat deras serta tinggi. Setelah hujan reda dan air surut, kami baru pulang ke rumah masing-masing,” ujarnya.

Pantauan Kabar Nias, dampak banjir yang tingginya mencapai sekitar 1 meter itu, sejumlah areal persawahan dan kebun warga rusak dan dipenuhi sampah yang terbawa arus sungai. Area pekarangan rumah warga di Desa Hilizalo’otanö juga dipenuhi lumpur bekas banjir tersebut.

Menurut Waldus, peristiwa banjir pada Minggu adalah pertama kali terjadi di desa mereka. “Sebelumnya tak pernah terjadi banjir sebesar ini. Kemungkinan karena hujan terlalu deras dan lama. Kemudian kondisi areal hutan di sekitar sungai yang juga sudah mulai rusak bisa jadi penyebabnya,” ujarnya.

Waldus berharap, Pemerintah Kabupaten Nias Selatan bisa memberikan perhatian khusus kepada penduduk yang terkena dampak banjir tersebut. “Kami minta Pemkab Nias Selatan membangun tembok penahan di tepi sungai tersebut untuk mengantisipasi hal yang sama tidak terjadi pada masa mendatang,” ujarnya.

Untuk diketahui, ketujuh desa yang terdampak banjir itu adalah Desa Hilizalo’otanö, Desa Hilizalo’otanö Larono, Hilizalo’otanö Laowö, Hililaza, Hilifondrege Hilizoroilawa, Hilinawalö, Hilizoroilawa.

Saat Kabar Nias menyambangi desa ini pascabanjir, Senin, warga dibantu petugas kepolisian dan TNI tampak sibuk bergotong royong mengangkat dan menyingkirkan sampah-sampah yang terbawa arus sungai dan memenuhi badan jalan. Warga juga tampak membersihkan rumah mereka dari sampah dan lumpur.