Pariwisata di Kepulauan Nias mulai lagi menggeliat. Festival Ya’ahowu Nias 2018 yang dihelat pada 16-20 November 2018 kini menjadi perbincangan masyarakat. Hingga editorial ini ditulis (Selasa, 6/11/2018) dilaporkan bahwa okupansi hotel dan tempat-tempat penginapan, khususnya di Telukdalam dan sekitarnya, sudah terisi penuh. Para pengunjung festival ini didorong untuk memesan hotel di Gunungsitoli. Pengunjung bisa berangkat pada pagi hari ke Telukdalam dan sore harinya bisa menikmati kota Gunungsitoli sekitarnya.

Ada hal yang menarik yang perlu kita sampaikan. Cita-cita kita semua agar Kepulauan Nias menjadi tujuan wisata utama Indonesia memerlukan kerja keras dan komitmen serius dari semua pemangku kepentingan. Tidak serta merta sukses penyelenggaraan Festival Ya’ahowu Nias akan menjamin, tetapi ini bisa menjadi modal sukses ke depan. Yang perlu diingat bahwa pariwisata adalah sesuatu yang kontennya lokal dikelola menjadi konsumsi global. Content locally for globally consumption. Artinya, standar pariwisata kita harus berstandar internasional.

Kita mendorong agar siapa pun kita, terutama pemangku kepentingan yang ada di dalam pemerintahan, sebagai pengambil kebijakan, perlu melakukan persiapan-persiapan untuk menuju tujuan besar ini. Kita garis bawahi soal perencanaan.

Peran perencanaan sangat menentukan seperti apa hasil yang dicapai kelak. Mumpung belum terjadi, mumpung baru mulai, lebih baik dilakukan perencanaan matang serta berorientasi jangka panjang. Contoh kecil saja, untuk membuah akses jalan menuju daerah tujuan wisata (DTW). Jika selama ini membuat jalan dengan lebar seadanya, itu perlu diubah dengan membuat jalan yang lebar seperti daerah-daerah wisata di tempat lain. Apa yang dicontohkan Bupati Nias Barat periode 2011-2016 Adrianus Aroziduhu Gulö perlu dilanjutkan. Ia membangun jalan dengan lebar 16 meter. Kita membutuhkan jalan yang lebar sehingga pengunjung menjadi nyaman. Tak masalah jika suatu proyek dikerjakan lewat tahun jamak daripada dipaksakan selesai dalam satu tahun anggaran tetapi kualitasnya tidak memuaskan. Jika demikian, dipastikan hanyalah penyesalan yang kita dapatkan pada masa mendatang.

Kita memberi apresiasi pada pelaksanaan forum group discussion (FGD) Pariwisata yang diinisiasi oleh diaspora Nias bekerja sama dengan Forum Kepala Daerah Kepulauan Nias dan Badan Persiapan Pembentukan Provinsi Kepualauan Nias dan didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Nias Selatan melalui Dinas Pariwisata Nias Selatan. FGD yang digelar di sela-sela berlangsungnya Festival Ya’ahowu Nias ini merupakan sesuatu yang sangat baik. Harapan kita dari FGD ini, kita bisa mendapatkan kesamaan presepsi dan kesamaan visi untuk membawa pariwisata Kepulauan Nias lewat sebuah peta jalan yang disepakati bersama.

Peta jalan pariwisata kepulauan Nias perlu kita miliki untuk memberikan arah dan pedoman pengelolaan dan pengembangan pariwisata di Kepulauan Nias. Kita tahu setiap daerah di Kepulauan Nias memiliki kekhasan dengan karakter masing-masing. Karena itu, setiap daerah penting menentukan DTW prioritas yang menjadi unggulan. Dari daftar DTW unggulan itu perlu dilakukan pemeringkatan sehingga kita setidaknya mendapatkan lima DTW unggulan pada lima tahun pertama. Kelima DTW ini digenjot sedemikian rupa menjadi daerah wisatawan dengan standar internasional yang benar-benar mendatangkan manfaat berlipat bagi masyarakat.

Bagaimana ini bisa dilakukan? Bisa dilakukan apabila ada pola pemikiran sama pada semua pemangku kepentingan. Sudah saatnya setiap pemangku kepentingan setiap daerah di Kepulauan Nias tidak berpikir secara sektoral lagi. Namun, benar-benar pariwisata menjadi tanggung jawab bersama lewat sebuah peta jalan yang disepakati bersama. Kerangka berpikirnya harus sudah lima dalam satu (5 in 1).

FGD yang sudah dimulai ini tidak boleh berhenti di situ saja. Perlu FGD-FGD berikutnya dengan komitmen serius dan dilandasi dengan niat yang baik. Apa pun yang dilakukan dengan niat baik, hasilnya pun dipastikan akan baik.

Berita Terkait

Produsen “Tuo Nifarö” Bentuk Asosiasi, Pemda Did... GUNUNGSITOLI, KABAR NIAS — Guna percepatan adanya Peraturan Daerah Kota Gunungsitoli yang mengatur tentang hak paten tuo nifarö (arak putih Nias), mas...
Belajar dari Kegagalan OTT di Nias Selatan Tindakan pungutan liar hingga pidana korupsi terus terjadi di negeri ini. Tak salah jika Presiden Joko Widodo membentuk Satgas Saber Pungli, mulai dar...
Turis Asing Alami Perlakuan Kurang Menyenangkan di Pulau Asu... GUNUNGSITOLI, KABAR NIAS — Seorang turis asing asal Brasil, Gilberto Bezerra De Abreu (35), mengalami perlakuan kurang simpatik dari seorang warga Pul...
Stop Penggalian Pasir di Pantai Sorake dan Lagundri! TELUKDALAM, KABAR NIAS — Penggalian pasir secara ilegal di Pantai Sorake dan Lagundri di Nias Selatan makin menjadi-jadi. Tempat wisata yang telah men...
Empat Langkah Sukses Pemda Menarik Investor ke Pulau Nias Oleh Opy Eka Arman Zendratö Secara umum Pulau Nias masih belum tergolong sebagai daerah tujuan investasi, baik penanaman modal dalam negeri (PMDN) ...