JAKARTA, KABAR NIAS — Pergelaran Seni Budaya dan Kuliner Kepulauan Nias 2018 yang digelar oleh Pemuda Peduli Nias di hari bebas kendaraan bermotor di Jalan Sudirman, Jakarta, disaksikan puluhan ribu warga Ibu Kota, termasuk warga Nias diaspora, Minggu (4/3/2018).

Sejumlah tokoh Nias juga tampak hadir dalam acara itu dan berbaur dengan warga. Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf juga hadir dan memberikan sambuatan dalam acara yang terselenggara berkat kerja sama dan gotong royong semua elemen masyarakat Nias, terutama Nias diaspora.

Acara yang didukung oleh Sanggar Pemanis, Sanggar Tolögu, dan Owo Voice menampilkan berbagai atraksi, yakni lompat batu, maena, tari Perang, tari tatuwu, famadaya harimo. Adapun sejumlah kuliner khas Nias, seperti tamböyö (ketupat ketan), köfö-köfö, godo-godo, misop, saku nibinögö (sagu pepes Nias), gowi nihandro atau gowi nifufu. Bahkan, hasil laut Nias berupa gi’a nirino (ikan godok), gi’a ni’unagö (ikan asap), yang didatangkan langsung dari Nias Utara diserbu oleh pengunjung.

Candra, warga Bendungan Hilir, Jakarta, mengaku baru mencicipi ketupat ketan Nias yang dimakan bersamaan dengan pisang goreng. “Saya sengaja datang pas lewat dan melihat ada pergelaran budaya Nias dan juga kulinernya. Saya sekalian mencoba kuliner Nias ini,” kata Candra yang sekaligus membeli ikan asap produk dari Nias Utara tersebut.

Sabar Jaya Telaumbanua, Kepala Dinas Perikanan Nias Utara, yang datang langsung membantu menjajakan produk para nelayan binaan dari Nias Utara, mengatakan animo masyarakat sangat tinggi untuk membeli hasil perikanan yang diproduksi para nelayannya. “Kami hanya bawa 200 kg untuk promosi saja. Ternyata langsung habis. Kami sisakan saja ini untuk dipajang selama acara ini. Jika kami bawa 500 kilogram pun rasanya bisa langsung habis,” kata Sabar.

Kepala Dinas Pertanian Nias Utara Sabar Jaya Telaumbanua (kanan) langsung turun tangan membantu menjajakan produk para nelayan binaan daerahnya, Minggu (4/3/2018).

Pak Harefa yang datang dari Tangerang bersama keluarganya sangat senang bisa menyaksikan acara daerah leluhurnya serta ia pun membeli ikan asap satu pak. “Senang bisa langsung mendapatkan ikan asap dari Nias langsung,” ujarnya dengan bahasa Nias.

Fenueli Zalukhu dan Otniel Waruwu, diaspora Nias yang pengusaha, tinggal di Jakarta, terlihat menikmati misop dan juga saku pepes. “Mumpung masih ada, ayo kita nostalgia makan misop dan sagu nibinögö,” kata Otniel kepada Kabar Nias .

“Jika ke Nias, saya tidak pernah melewatkan makan misop. Setiap pulang kampung ke Nias Utara, di Tumula, Alasa, saya harus mampir Kota Gunungsitoli dulu untuk makan misop,” kata Fenueli yang diamini oleh Agus Peterson Sarumaha, seorang diaspora yang berprofesi sebagai konsultan di Jakarta.

Seorang turis asal Belgia, Mark (50), menikmati setiap suguhan atraksi seni budaya Nias. Bule bertubuh tinggi ini tampak tak kesulitan dengan para penonton lain yang berdesakan di depannya. Ia bergeming sambil sekali-sekali mengabadikan atraksi itu dengan telepon seluler pintarnya. “It’s amazing,” kata Mark saat Kabar Nias menanyakan pendapatnya terkait acara tersebut. Mark mengaku sudah tinggal di Jakarta sebulan terakhir dan berjanji akan merencanakan perjalanan liburan ke Pulau Nias dalam waktu mendatang. Saat ditanya, kapan? “Will see,” ujarnya sambil menaikkan kedua alisnya dan tersenyum.

Sorakan pengunjung bergemuruh saat para pelompat berhasil melewati replika batu setinggi 210 sentimeter. Apalagi saat lompatan dilakukan secara konvoi tanpa sela oleh setiap pelompat. Beberapa lompatan dilakukan dengan meminta relawan dari antara pengunjung untuk tidur di atas batu lompatan dengan posisi tidur. Penonton semakin terlihat degdegan khawatir pelompat tersangkut karena batu yang bertambah tinggi. “Aduh, jangan sampai nyangkut bisa cedera tuh kaki,” ujar Nilla, asal Lamongan, Jawa Timur.

Lompatan Pembuka

Untuk membuka atraksi lompat batu, panitia meminta para tokoh Nias yang hadir melakukan lompatan pembuka. Bupati Nias Sökhi’atulö Laoli, Ketua BPP-PKN Christian Zebua, Firman Jaya Daeli, Fönali Lahagu, Profesor Fakhili Gulö, srikandi Nias Ester Telaumbanua secara bergantian pun melakukan tugasnya dengan melakukan ancang-ancang dan melompat. Para tokoh Nias ini pun melaksanakan tugasnya melompat secara simbolis.

Christian Zebua bersiap melakukan lompatan pembuka

Panitia penyelenggara Pergelaran Seni Budaya dan Kuliner Nias kali ini diketuai Evan Zebua, Sekretaris Waoli Lase dan Bendahara Nofedin Waruwu mendapat apresiasi dari masyarakat karena kesuksesan acara yang bertujuan mempromosikan pariwisata tersebut.

Banner yang memuat berbagai logo pendukung acara yang diinisiasi oleh Pemuda Peduli Nias, Minggu (4/3/2018). Foto: Esther Gloria Telaumbanua

Acara ini terlaksana atas dukungan banyak pihak. “Kami berterima kasih kepada semua donatur yang telah membantu terselenggaranya acara ini,” ujar Fao Wau, salah seorang panitia. Hal yang sama disampaikan Mesra Gea, panitia lainnya. “Amanah dari para donatur kami bayar tuntas hari ini. Terima kasih para senior,” ujar Mesra yang didampingi Reni Sarumaha, Icha Zebua, dan lainnya.

Firman Jaya Daeli yang hadir dengan kostum serba hitam dipadu topi hitam mengaku sangat senang dan mengapresiasi terselenggaranya acara ini dengan sukses. Christian Zebua mengharapkan semua pemuda Nias bisa terus bersemangat untuk melaksanakan acara ini. “Jika semua bersatu, ya terbukti, acaranya pun sangat meriah. Mari tetap jaga persatuan,” ujarnya.

Ilham Zebua, diaspora Nias yang juga CEO media daring Rilis.id memberikan apresiasi kepada panitia dengan membuat video khusus dan dikirimkan kepada panitia. “Salut kepada PPN,” ujar Ilham, yang pernah menjadi calon wakil wali kota Gunungsitoli itu.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf mengpresiasi acara yang digelar oleh para pemuda Nias. “Kita berharap agar hal ini tidak hanya merupakan rutinis, melainkan juga dapat mengangkat ekonomi masyarakat Nias. Kita berharap berbagai budaya, kuliner, tempat wisata, yang dimiliki oleh Nias dapat menarik perhatian masyarakat Indonesia secara khusus dan masyarakat  dunia secara umum,” ujarnya.

Pergelaran ini diakhiri dengan flashmob dengan maena yang liriknya diciptakan oleh seniman musik Nias yang juga salah seorang pendiri Owo Voice, Constant Giawa. “Lirik lagu maena ini sebagai bentuk ungkapan bahwa kami masyarakat Nias sangat bersuka cita jika daerah kami yang masih tergolong 3T bisa segera dijadikan satu provinsi, Provinsi Kepulauan Nias,” kata Constant, yang juga Direktur Mohili Project itu.

Kepada Kabar Nias, Ketua Panitia, mengungkapkan kegembiraannya. “Semoga pelaksanaan tahun depan lebih meriah. Kami mendapatkan apresiasi. Terima kasih semua apresiasinya. Kami masih belajar. Apa yang kami lakukan bukanlah yang sempurna. Kami mohon maaf juga jika ada yang kurang-kurang. Kami menerima masukan untuk evaluasi,” ujar Evan.