Oleh Apolonius Lase

Dampak pandemi Covid-19 menghadirkan kebiasaan baru di masyarakat. Jika dulu tak harus memakai masker, sekarang ke mana-mana harus menggunakan masker. Bahkan, sekarang penutup wajah dari plastik transparan telah menjadi normal baru.

Jika dulu, tidak peduli dengan pentingnya cuci tangan dengan sabun menggunakan air mengalir, sekarang telah menjadi kebiasaan. Begitu juga saat bertemu, gaya bersalaman pun mulai tidak dengan salaman biasa, tetapi dengan saling membenturkan siku tangan misalnya. Tak lain agar tidak saling menularkan virus.

Baca juga: Salam Khas Nias

Sebenarnya, fenomena ini bukanlah hal baru. Berkaca pada kondisi Nias, kehadiran kenormalan baru sudah bisa kita lihat pada setiap massa. Misalnya, setelah listrik masuk, ada normal baru, masyarakat tak lagi menggunakan lampu petromaks (lampu gas/fandu gasi). Begitu juga ketika jeriken datang, asoa (potongan bambu besar dengan menyisakan satu pembatas di ujung bawah untuk dipakai sebagai wadah mengambil air di sumur untuk kebutuhan minum dan memasak di rumah) sudah tidak lagi digunakan. Apalagi? Yang sangat terlihat sekarang, misalnya setiap acara pernikahan kehadiran keyboard dengan semua pendukungnya, seperti penyanyi dan tata suara, sudah menjadi “keharusan”. Acara pernikahan tanpa keyboar seperti “hambar”.

Mengapa kata normal baru ini barus sekarang jadi perhatian? Karena virus SARA CoV-2 atau Covid-19 ini sangat berdampak besar dan pemberitaannya sangat luas saat ini, adalah masuk akal jika kita baru mencoba mencari apa padanan kenormalan baru atau normal baru itu yang pas di li Niha.

Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), normal berkelas kata sifat. Normal baru (kata sifat vs kata sifat). Seyogianya, normal itu dibuat dulu nominanya, yakni kenormalan.

Baik, kita kembali pada topiknya, apa padanan yang cocok dalam bahasa Nias untuk kenormalan baru ini.

Mari merujuk pada beberapa kata berikut ini:

  • tahun baru = dófi sibohou
  • baju baru = baru sibohou
  • sepeda baru = kureta sibohou
  • rumah baru = omo sibohou

Dari beberapa contoh ini, artinya, kata baru dalam bahasa Nias selalu diartikan sibohou. Namun, sebernanya ada juga variasi lain yang sering kita gunakan, yaitu sawena. Kata sawena ini sering dipakai, misalnya, pada kalimat:

(1) pesawat yang baru datang; köfa sihombo sawena tohare;
(2) tamu yang baru datang: tome sawena tohare

Dari contoh (1) dan (2) kata ini biasanya cocok dipakai untuk penegasan bahwa sesuatu itu baru saja terjadi, saat diucapkan. Meskipun demikian, tidak salah kita gunakan sebagai variasi untuk memperkaya bahasa kita.

Saya mencatat beberapa padanan kata normal dalam bahasa kita yang selama ini kita pakai:

  • sito’ölö (nomina) = yang biasa –> to’ölö (adjektiva)
  • sasese (nomina) = yang sering –> asese (adjektiva)

Jadi, ada yang mengartikan kenormalan baru sebagai sito’ölö sibohou atau juga sasese sibohou. Jika melihat polanya memang bisa berterima. Akan tetapi, penominaan kata sifat menggunakan ‘yang’ dalam bahasa kita lebih dianjurkan jika pembentukannya menggunakan afiksasi ke-an.

Kita coba cari pola penominaan to’ölö ini yang menggunakan ke-an. Kata to’ölö bisa kita bentuk menjadi to’ölöa dan asese menjadi asesewa.

Pola seperti ini bisa kita lihat pada beberapa kata, seperti:

(1) okafu (dingin) –> kafutö (kedinginan, keadaan dingin)
(2) khawai (hitam) –> khawaitö (keadaan hitam, ngeblank)
(3) elungu (sesat) –> elungua (keadaan sesat, kesesatan)
(4) obou (busuk) –> oboula (keadaan busuk)
(5) alóló –> alölöa (ampas)

Dan masih banyak lagi contoh yang bisa jadikan dasar pembentukan kata serupa. Nah, untuk kenormalan baru, menurut saya, lebih tepat kita menggunakan to’ölöa sibohou alih-alih sito’ölö sibohou. Namun, ingat, bahasa adalah kesepakatan pemakainya. Bahasa itu dinamis, selalu berkembang mengikuti perkembangan populasi penggunanya.

Tabe, Apose

***