— Fangowai ba Fame’e Afo di Nias

Oleh Pdt. Dr. Tuhoni  Telaumbanua

Setiap suku memiliki ciri khas masing-masing, termasuk dalam tata krama dalam kehidupan bermasyarakat. Hingga kini, suku Nias masih mewarisi salam dan hormat kepada tamu dengan sapaan dan penyuguhan sekapur sirih. Bahkan, di Nias dikenal sirihsebagai adat sulung. Ini menyatakan bahwa penghormatan orang lain telah menjadi prioritas bagi Ono Niha.

Memang karena pengalaman ”perang antarkelompok” dan praktik ”penculikan” (orang diperjual-belikan di luar Nias), serta adanya ”emali sangai högö” (maling pemburu kepala)—pada masa lalu—membuat Ono Niha sangat hati-hati jika berjumpa dengan orang lain. Ada ungkapan: ”Emali niha fatua baewali (ba lala) so, ono luo na so yomo” (saat masih berada di halaman, seseorang dianggap asing dan bahkan sebagai seorang maling. Begitu masuk rumah, seseorang dianggap sebagai anak matahari, seorang tamu agung yang harus dihormati).  Jadi, orang lain (asing) dianggap ”maling” yang bisa mendatangkan malapetaka atau penghancur kehidupan. Dengan demikian tingkat kewaspadaan Ono Niha cukup tinggi. Bahkan, ada ungkapan: ”Mangelama lela ba mboha” (lidah perlu waspada pada geraham), maksudnya waspada tetap walau pada yang berdekatan. Itulah sebabnya dahulu tidak ada tradisi ”berjabat tangan” dalam memberi hormat. Kalau dalam keseharian, bila berpapasan dengan yang lain, sering terjadi: (1) diam saja, atau (2) dengan ungkapan: ”Ya’ugo/Ya’ami” dan dijawab ”Hee”. Apabila seseorang melewati di depan rumah dan hendak memberi salam pada penghuni rumah, sapaannya: ”Ya’ugö/ya’ami yomo”.

Namun, apabila sudah saling kenal dan sudah ada jalinan persaudaraan, orang lain/tamu menjadi ”Ono Luo” (kesayangan/dihormati), maka diberi penghormatan secara adat, yakni fangowai ba fame’e afo. Memang ada beberapa variasi ungkapan salam di Nias, antara lain:

No so ami tome… no so ami sangai niha… no so ami sangowalu (kalau pada pesta perkawinan) dan dijawab dengan Heeee… atau
Amagu balugu le no so’o, amagu salawa le no so’o dan dijawab Heeeee. Atau
Ya’ugö yawa…. Ya’ami yawa… dan tetap jawabannya Heeee.

Sesudah acara Fangowai, dilanjutkan dengan penyuguhan sirih yang diantarkan dengan sapaan dan pantun. Acaranya dimulai dengan meminta pihak sipangkalan atau tuan rumah untuk bersama-sama memberi sirih kepada tamu.

Kemudian penghormatan:
Mitema nafomi amagu salawa
Amagu balugu le, ya’e nafoda si lo fadozi… atau ya’e nafo awö mbago…..

Kemudian dikokohkan dengan ”höli-höli wanguhugö same’e afo si lö oya-oyaaaaaaa…. Hahaha… dan dijawab dengan Huuuuuu, dan perempuan melaksanakan liwaliwa: ”Hiiiiiiii…”. Lalu diikuti dengan pantun yang disebut dengan hendrihendri.

Menarik bahwa setelah penghormatan ada pantun yang disebut hendrihendri. Pihak si pangkalan merendahkan diri dan pihak tamu menyanjung si pangkalan.

Contohnya:

Sipangkalan (tuan rumah):

(1)

Duhu no mananö dawuo, si’ala gae…..
no mananö dawuo sini…………
ba lö fakhamö mogasi………….
no itörö si matua nangi………..
atata mbulu oköli……………….
ateu dalu gasi-gasi……………..
andö wa lö sumangemi…………
ya’ami tome sangondasi……….

Tamu:
(1)

Hiza no mananö dawuo, siala gae, …………
hiza mbanua ba zowatö, ………
no mananö dawuo sini, ………
ba no mowa’a molali, ………
no wo wanua mamalikhi, ………
nuwu gali mawa öri, ………
sumange dome sangondasi. ………

Sipangkalan
(2)

Andrö si’ai wa lö sumange
Andrö si’ai wa lö böwö.
Me no bohou föna andrö
Me tewu’a me mofanö
Ba waulu dalinga mbatö
Zo’aya uwu zarano.
Sumange zi tenga bö’ö
Ba oi balazi ndraugö
Ba na ebolo dödömö…..

Tamu:
(2)

Andrö si’ai wa so zumange
Andrö si’ai wa so mböwö
Me no tumaro ba mbatö
Zo’aya nuwu sarano
Sumange zi tenga bö’ö
Ba turiau höngö-höngö
Ba zilazi banua bö’ö.

Berbalas pantun ini bisa berlangsung hingga 9 kali, tetapi pihak tamu selalu di pihak yang merendah dan mengalah, sehingga menjadi 9:8.

Tradisi salam tersebut di atas masih hidup dalam upacara adat hingga sekarang dan telah dikreasikan dengan tarian kreasi baru dewasa ini. Namun, salam keseharian (Ya’ugö, Ya’ami, Ya’ugö/ya’ami yomo) secara lamban laun ditinggalkan karena digantikan dengan salam yang diperkenalkan oleh misionaris, yakni Ya’ahowu dan berjabat tangan. Salam ini sudah ratusan tahun digunakan serta menjadi tradisi dan unik. Namun, dari penjelasan di atas bahwa ternyata salam Nias itu ada yang lebih tua dan tidak salah untuk diingat serta dipergunakan.

Di tengah gempuran virus mematikan yang menyebar di seluruh dunia, Covid-19, kita Kembali mengingat salam keseharian. Mari kita pakai untuk sementara sehingga kebiasaan berjabat tangan boleh dihindari demi memutus rantai penyebaran wabah virus korona jenis baru, Covid-19).

Salam khas Nias: Ya’ugö…. Ya’ami…..Ya’ugö/Ya’ami Yomo……
(Boleh juga dengan bentuk lain, tetapi untuk sementara tidak dengan berjabat tangan)

Höli wanguhugö si sara tödö wolawa korona……. Huuuuuu