Profesor Suahasil Nazara, salah satu putra kebanggaan orang Nias dan bangsa ini, yang kini menjadi Kepala Badan Kebijakan Fiskal, menyampaikan pesan kepada masyarakat Nias, khususnya generasi muda Nias, agar terus menjaga integritas. Bagi dia, tokoh-tokoh senior Nias yang sangat berdedikasi di bidang yang mereka geluti menjadi inspirasi bagi dirinya untuk berkarya.

Pesan ini disampaikan dalam grup elite para diaspora Nias grup WA Orahua Tötönafö. Berikut pesan yang khusus disampaikan beliau.

Yaahowu!
Selamat pagi semuanya.

Saya baru baca beberapa doa untuk saya di grup ini kemarin. Terima kasih untuk seluruh doanya.

Kita semua bangga dengan para senior orang Nias yang sedang atau pernah duduk di jabatan tinggi Republik ini. Ada menteri, eselon 1, anggota DPR/MPR, gubernur, pangdam, dll. Juga ada yang membaktikan diri di dunia akademik meraih gelar Doktor, bahkan sampai dengan Guru Besar.

Pagi ini, saya ingin menyampaikan sedikit mengenai dua orang yang dekat dengan bidang kerja saya sekarang ini. Kebetulan keduanya sudah almarhum. Moga-moga ini bisa menjadi pengingat bagi seluruh generasi penerus.

Di tempat saya bekerja sekarang, Kementerian Keuangan, senior kita, Pak Hekinus Manaö, meskipun telah lebih dulu meninggalkan kita, tetapi masih tetap sangat dihormati sampai saat ini. Memang beliau sering dikatakan terakhir sebagai mantan Direktur Eksekutif Bank Dunia. Namun, buat saya (dan juga Kemenkeu) yang sangat mencuat sampai saat ini ialah Pak Hekinus dihormati sebagai Inspektur Jenderal Kemenkeu yang teguh menjaga tata kelola kementerian. Beliau dihormati sebagai akuntan pemerintah yang andal dan berperan luar biasa dalam modernisasi keuangan/akuntansi negara sejak dikeluarkannya UU Keuangan Negara 2003 dan UU Perbendaharaan 2004.

Jangan lupa, UU tahun 2003 dan 2004 itu dibuat setelah krisis 1998. Saat itu sistem kita baru mau dibenahi sepeninggal Orde Baru, dan inilah awal modernisasi sistem keuangan dan perbendaharaan negara sampai dgn saat ini. Pak Hekinus adalah salah seorang arsiteknya.

Hekinus Manaö —Foto: http://www.feb.ub.ac.id/

Di salah satu puncak karier Pak Hekinus sebagai Inspektur Jenderal Kemenkeu, beliau menjaga kepatuhan terhadap seluruh sistem yang ada. Saat ini ada banyak orang Nias di Kementerian Keuangan, kebetulan saya salah satunya. Setiap ada acara Kemenkeu dan ada yang memperkenalkan diri ke saya sebagai “Saya dari Nias juga, Pak”, saya selalu merasa senang mendengarnya.

Yang kedua adalah di bidang akademik karena saya juga dosen. Sebagai dosen muda, dari awalnya saya bercita-cita menjadi Guru Besar. Ayah saya selalu menyebut profesor pertama orang Nias adalah Profesor Taliziduhu Ndraha. Beliau berdua ayah saya praktis seangkatan, sama-sama lahir tahun 1935. Meskipun tidak pernah bekerja bersama secara langsung, saya tahun persis, ayah saya menyimpan hormat luar biasa kepada Prof. Talizi—begitu ia biasa disapa. Akhirnya, saya yang berkesempatan bekerja bersama dengan Prof. Talizi. Saya masih dosen muda, baru pulang sekolah, kami sama-sama mengerjakan satu kegiatan. Di situ saya mengenal Prof. Talizi.

Nyentrik, memang. Sisa rambut yang di belakang kepala dibiarkan panjang dan dikuncir. Lebih nyentrik lagi kalau melihat beliau menulis dengan tangan kanan dan tangan kiri bersamaan (bukan sendiri-sendiri). Ia juga hobi bermain tenis meja.

Profesor Taliziduhu Ndraha, Bapak Kybernologi Indonesia

Dalam bekerja, saya merasa beliau memiliki logika yang sangat kuat, khususnya di bidang Ilmu Pemerintahan. Beliau menelurkan publikasi yang luar biasa banyaknya. Beliau punya mahasiswa yang tak terhitung di banyak universitas. Beliau mengharumkan nama orang Nias.

Saat ini ada beberapa profesor orang Nias. Saya rasa sudah lebih banyak lagi yang memiliki gelar Doktor dari dalam dan luar negeri.

Apa pembelajaran dari beliau berdua? Buat saya, yang saya kenang adalah bahwa keduanya teguh dan sangat berkomitmen di pekerjaan mereka masing-masing. Dengan terus menjaga integritas, terus berupaya dan berkomitmen maksimum dalam tugas yang dipegang, mereka memuliakan Tuhan dan memberi kontribusi luar biasa pada Indonesia.

Itu yang perlu kita doakan satu sama lain. Saya sekali lagi berterima kasih untuk semua doa yang disampaikan kepada saya. Namun, buat saya yang rasanya lebih penting, dan idealnya ini menjadi doa kita bersama satu sama lain adalah agar di mana pun kita ditaruh, jabatan atau tugas apa pun diberikan, kita terus mampu menjaga integritas, berkomitmen berupaya penuh, menjadikan Indonesia yang lebih baik, mendorong kemanusiaan yang mendunia. Semoga kita dimampukan untuk itu dan semoga dengan itu nama Tuhan terus dimuliakan.

Selamat hari Minggu yang cerah. Tuhan memberkati kita semua. Amin 🙏

Berita Terkait

Isi Waktu, Adrianus Aroziduhu Gulö Bermain dengan Cucu dan M... Apa kabarnya Bupati Nias Barat periode 2011-2016 Adrianus Aroziduhu Gulö (63)((Adrianus Aroziduhu Gulö lahir pada 5 Januari 1954 di sebuah desa kecil ...
Otniel Lizaro Waruwu: Kota Gunungsitoli Perlu Dirancang Menj... Meskipun berada di tempat yang jauh, setiap diaspora Nias tak pernah lupa kampung halaman. Tak bisa dimungkiri, jauh di dalam hati yang terdalam, mere...
Majukan Pariwisata Nias dengan Membangun Ciri Khas Mskipun sederet titel tersematkan di depan dan belakang namanya, Dr Yeremia Mendröfa, ST, MM, MBA, PMP, anggota DPRD Provinsi Banten Fraksi PDI-P ...