Oleh Samuel Novelman Wa’u

Pendahuluan

Membahas sejarah dan warisan budaya suku Nias khususnya kelompok masyarakat di ujung Selatan pulau Nias yang terdiri dari klan Maniamölö, Onolalu, To’ene, dan Mazinö selalu menyisakan kejutan. Ada banyak karya besar dan hal-hal heroik yang pernah terjadi di wilayah ini. Salah satunya adalah sejarah perjuangan mereka melawan kolonial Belanda yang berusaha mengusik kemapanan tatanan sosial lokal. Dalam lembaran sejarah ini muncul sejumlah nama di antaranya Kanölö, Wa’aduha, Faudueho, Solagöniha, Lahelu’u, Laowö dan Saönigeho.

Betapa menariknya bila kisah-kisah heroik dari nama-nama tersebut dapat ditulis lalu dipublikasikan menjadi memori kolektif tentang perjuangan suku Nias. Namun, harus diakui itu tidak mudah karena susahnya menghimpun informasi yang berceceran di mana-mana—kecuali para ‘pemilik’ potongan-potongan data yang masih tersisa (lisan dan tulisan) mau duduk bersama dan saling berbagi. Dalam keterbatasan informasi ini, saya mencoba mengajak pembaca melihat potongan kecil sejarah perjuangan suku Nias yang terselip dalam istilah de Verdrijver der Hollanders. Berharap tulisan ini menjadi pemantik munculnya informasi lain yang bisa memperkaya, mengoreksi, bahkan mungkin menyajikan pemikiran baru terkait de Verdrijver der Hollanders.

Renaisans Nias

Raja dari desa Orahili. Photo: Joachim von Brenner-Felsach, “Kunsthistorisches Museum Wien”, Austria.”

Kira-kira 500 tahun yang lalu, tepatnya antara abad 15 dan 16 di Eropa lahir satu gerakan yang dinamakan Renaisans. Gerakan ini mengampanyekan penggalian kembali budaya klasik Yunani-Romawi yang sekian lama diabaikan. Lima abad kemudian setelah renaisans Eropa, di belahan bumi lain hal yang mirip terjadi di kalangan generasi muda suku Nias. Beberapa tahun belakangan ini tidak sedikit anak-anak muda Nias yang memberi perhatian serius terhadap sejarah dan kekayaan budaya warisan leluhurnya. Sekalipun mereka bukan sejarahwan dan bukan pula budayawan, tetapi semangat mereka patut diapresiasi. Usaha-usaha pencarian yang mereka lakukan telah menyibak banyak hal yang belum diketahui selama ini.

Bangkitnya spirit ‘renaisans’ di antara orang Nias didukung oleh kemajuan tekhnologi informasi saat ini. Situs-situs internet menyajikan ratusan (atau ribuan) foto Nias tempo dulu dan banyak literatur kuno yang ditulis oleh para penulis asing, seperti Schöder, Elio Modigliani, dan Eduard Fries, yang pernah datang ke Pulau Nias. Keberadaan dokumen digital itu telah mendorong orang Nias melakukan pencarian lebih jauh tentang ‘apa’, ‘siapa’, ‘kenapa’, ‘di mana’, dan ‘bagaimana’ di balik semuanya itu. Kemudian media sosial ikut mempertemukan orang-orang yang punya minat yang sama terhadap budaya dan sejarah Nias sehingga mereka bisa saling berbagi informasi baik tradisi lisan maupun dokumen tertulis.

Semangat ‘renaisans’ orang Nias tidak hanya sebatas diskusi di dunia maya. Di lapangan sejumlah aksi nyata dilakukan seperti misi mengeksplor tempat-tempat bersejarah di antaranya permukiman lama Hiliamaigila dan Bawömaenamölö. Selain itu desa-desa adat di wilayah Nias Selatan berlomba-lomba membentuk (kembali) sanggar budaya masing-masing. Beberapa desa adat yang cukup serius melakukan ini adalah Orahili, Hilinawalö, Hilisimaetanö, dan juga Bawömataluo. Keberadaan banyak sanggar ini baik sekali dalam menciptakan semangat kompetisi yang sehat untuk menghasilkan atraksi-atraksi berkualitas. Ini senada dengan ucapan si’ulu Laowö saat menjawab realitas kompetisi di antara orang Nias: “Haega ya vforomaö gosi fakhenia, haega gö vforomaö guli mbawimö?”

Satu lagi yang menjadi bagian dari ‘renaisans’ suku Nias ini adalah kesadaran mereka menggali sejarah tokoh-tokoh legendarisnya yang pernah terlibat dalam perjuangan melawan kolonial Belanda. Penggalian sejarah perjuangan ini dari sejumlah dokumen ditemukan satu istilah menarik, yaitu de Verdrijver der Hollanders, yang akhir-akhir ini sering diperbincangkan oleh netizen Nias.

De Verdrijver Der Hollanders

Istilah de Verdrijver der Hollanders pertama kali muncul dalam laporan Kapten de Vos seusai ia memimpin ekspedisi militer kedua Belanda ke Nias bagian Selatan yang berakhir dengan kegagalan. Pada 29 Desember 1855, rombongan kapal ekspedisi bertolak dari Pelabuhan Sibolga dan tiba di Teluk Lagundri, Nias bagian Selatan, pada 2 Januari 1856. Misi mereka ialah menghukum orang-orang lokal sebagai rentetan beberapa peristiwa yang terjadi di Teluk Lagundri beberapa tahun sebelumnya. Tanggal 6 Januari, pasukan Belanda merangsek ke Orahili. Namun, mereka dapat dipukul mundur oleh aliansi beberapa banua yang dipimpin oleh Si’ulu Orahili. De Vos melaporkan bahwa pemimpin aliansi itu menjuluki dirinya sebagai de Verdrijver der Hollanders yang artinya pengusir orang-orang Belanda. Ini sedikit berbeda dengan informasi lain yang mengatakan bahwa julukan itu justru diberikan oleh orang Belanda. Mana yang benar? Dijuluki atau menjuluki dirinya?
Barangkali kemungkinan ketiga yang lebih masuk akal, yaitu orang-orang Nias-lah (si’ila dan rakyat) yang menjuluki pemimpinnya sebagai ‘Sanabo Hulandro’ (de Verdrijver der Hollanders/pengusir orang-orang Belanda). Biasanya kepada orang Nias disematkan gelar khusus yang sepadan dengan kapasitasnya atau berdasarkan apa yang telah diperbuatnya.

Jadi, sekalipun ini masih sebatas dugaan, mungkin saja pada saat pasukannya de Vos melarikan diri, seketika aliansi orang-orang Nias memekikkan yel-yel yang istilah lokalnya fehugö demikian: ‘Tari humöhö amada sanabo Hulandro.’ Yel-yel seperti ini lazim dilakukan oleh orang Nias. Dan bila ini benar maka sejak saat itu julukan sanabo Hulandro atau de Verdrijver der Hollanders melekat pada diri pemimpin Orahili.

Siapakah de Verdrijver der Hollanders itu? Dan siapakah pemimpin Orahili dimaksud? Untuk menjawab ini, perlu diketahui nama si’ulu utama di Orahili pada tahun 1856? Dari tradisi lisan diketahui bahwa Si’ulu Lahelu’u menduduki posisi balöji’ulu Orahili pada masa-masa ekspedisi Belanda (1846, 1855, 1856, 1861)—bahkan konon ia masih sempat eksodus dan bermukim di Hilifanayama (Bawömataluo) pasca-Orahili lama dibakar oleh Belanda pada tahun 1863. Informasi ini menjadi dasar untuk menghubungakan julukan de Verdrijver der Hollanders dengan nama Lahelu’u.

Namun, keraguan segera timbul bila dibuka beberapa catatan lain. Wolfgang R. Schimidt menuliskan bahwa si’ulu Laowö-lah, kemenakannya Lahelu’u, yang mengonsolidasi kekuatan Orahili dan sekutu mereka saat menghadapi Belanda pada 1856. Jadi, laporan de Vos yang menyebut julukan de Verdrijver der Hollanders kemungkinan besar merujuk pada Laowö. Hubungan laporan de Vos dengan catatan Schimidt dikuatkan oleh data lainnya. Dua puluh lima tahun setelah ekspedisi militer kedua Belanda, tepatnya tahun 1881, misionaris J.W. Thomas menuliskan kunjungannya bersama J.A. Fehr ke Bawömataluo dengan menyebut Laowö sebagai de Vertreiber der Holländer (Jerman) yang artinya sama dengan de Verdrijver der Hollanders. Joachim von Brenner-Felsach ikut mendeskripsikan profil Laowö sebagai sosok yang begitu anti-Belanda. Dan catatan yang paling muda di antara semuanya itu adalah tulisan Johannes M. Hämmerle (1996). Hämmerle mengatakan, Laowö adalah penguasa Orahili pada saat konfrontasi dengan Belanda pada tahun 1856.

Bagaimana menjelaskan semuanya ini? Siapakah de Verdrijver der Hollanders yang sebenarnya? Lahelu’u atau Laowö? Kita harus bisa menerima kenyataan bahwa hampir tidak ada catatan mana pun yang menuliskan nama Lahelu’u apalagi menggelarinya sebagai de Verdrijver der Hollanders. Sementara di pihak lain tulisan-tulisan yang menghubungkan nama Laowö dengan de Verdrijver der Hollanders (Belanda) atau de Vertreiber der Holländer (Jerman) cukup banyak. Dengan demikian, tidak ada pilihan lain kecuali mengakui bahwa sanabo Hulandro itu adalah Laowö.

Lalu bagaimanakah posisi Lahelu’u pada masa itu, khususnya saat ekspedisi militer Belanda yang kedua? Adakah Laowö lebih besar dari balöji’ulu Lahelu’u? Kenapa nama Laowö yang lebih dikenal oleh Belanda sementara Lahelu’u hampir tidak disebut? Tradisi lisan akan menolong sekali untuk menjelaskan kerumitan ini. Kepada keturunan sidaöfa mo’ama (empat orang leluhur si’ulu Orahili dan Bawömataluo, yaitu Lahelu’u, Tuhegeho, Fonaoli’ö dan Boföna), diceritakan bahwa ketika balöji’ulu Lahelu’u tak kunjungi dikarunia keturunan laki-laki ia mengadopsi kemenakannya, anak Tuhegeho, yaitu Laowö muda, menjadi anak angkatnya lalu mempersiapkan si’ulu muda itu menjadi suksesornya di kemudian hari.

Setelah Laowö cukup matang untuk menjadi pemimpin berikutnya ternyata Lahelu’u memperanakkan beberapa anak laki-laki. Walaupun demikian, posisi Laowö tidak digeser. Dari sini dapat dimengerti kenapa Laowö cukup berpengaruh di Orahili sekalipun balöji’ulu Lahelu’u masih hidup, dan ia diberi kepercayaan untuk memimpin pergerakkan aliansi prajurit Nias, terutama pada awal tahun 1856, di mana istilah de Verdrijver der Hollanders tercetus. Absennya nama Lahelu’u dalam perang melawan pasukan de Vos kemungkinan besar karena balöji’ulu Orahili itu telah memasuki usia sepuh. Jadi sekalipun secar hukum Lahelu’u masih balöji’ulu, tetapi pelaksana kepemimpinan di lapangan dijalankan oleh suksesornya, yaitu Laowö.

Semangat perjuangan Laowö ini diteruskan oleh putranya, Saönigeho, yang namanya juga sudah disebut-sebut semenjak mereka masih bermukim di Orahili. Dalam kontaknya dengan Belanda, Saönigeho menunjukkan perlawanan yang signifikan. Maka, tidak heran bila kapten Kruisheer menjulukinya sebagai ”de Overwinnar van de Compeni” atau penakluk kompeni (Belanda). Satu julukan yang senada dengan de Verdrijver der Hollanders yang diberikan kepada ayahnya.

Penutup

Terlepas dari semuanya itu, apabila kita melihat secara utuh sejarah perjuangan masyarakat Nias khususnya mereka yang ada di bagian Selatan, akan ditemukan bahwa perjuangan ini tidak berdiri sendiri. Perjuangan ini bagaikan satu mata rantai panjang dan banyak nama besar yang pernah ambil bagian di dalamnya sehingga selayaknya mereka pun patut dijuluki sebagai de Verdrijver der Hollanders (sanabo Hulandro) atau de Overwinnar van de Compeni (samofo Hulandro). Keterlibatan Wa’aduha dalam kontak senjata saat pasukan Letnan Donlenben membuat topograpische opname di pantai Lagundri pada 1846, dan tindakan Faudueho yang menyerang pos-pos Belanda tidak bisa dianggap sepi dari perjuangan masyarakat Nias. Mereka semua adalah pejuang dari Nias yang mana perjuangan mereka sekalipun zaman dulu dilakukan dalam semangat kedaerahan (fabanuasa). Namun, itu telah memberi kontribusi langsung atau tidak langsung dalam mengakhiri penjajahan Belanda atas negeri. (Samuel Novelman Wa’u, Tinggal di Jakarta)