Oleh Apolonius Lase

Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai. Sekali tekad pulang membangun Nias dinyatakan, pantang berhenti sebelum kesampaian. Begitulah gambaran tekad mantan Panglima Kodam Cenderawasih XVII/Papua Mayjen TNI (Purn) Drs Christian Zebua, MM, putra terbaik Nias, yang menunaikan panggilan jiwanya untuk mengabdikan sisa hidupnya pulang dan berbuat sesuatu untuk tanah kelahirannya, Nias.

Siapa yang tidak kenal dengan Christian Zebua (CHZ). Ayah tiga anak yang biasa disapa dengan Ama Andani itu jauh sebelum pensiun pada 2014 telah meniatkan dan membulatkan tekad pulang kampung. Kuatnya tekad itu diuji dengan tawaran jabatan yang mampir kepadanya seperti menjadi duta besar yang ia tolak.

“Jika saya menjadi duta besar, artinya saya akan jauh dari Nias. Panggilan jiwa saya dan tekad bulat saya takkan pernah terjadi jika jabatan itu saya ambil. Saya menolak dan tidak mengambil tawaran itu,” begitu disampaikan CHZ saat bertemu penulis beberapa waktu lalu di Jakarta.

Di Kabar Nias, sebelumnya, CHZ juga pernah menyatakan bahwa pascapensiun dia akan sering-sering pulang ke Nias. Ia mendirikan usaha kecil-kecilan, yang bisa dibilang tidak semata-mata untuk mencari keuntungan, tetapi ia ingin membantu para nelayan yang sangat membutuhkan es batu agar hasil tangkapan mereka awet.

Baca juga: Christian Zebua: Banyak Waktu Pulang ke Nias

“Para nelayan kini merasa terbantu karena es dari pabrik es yang saya didirikan harganya jauh di bawah harga pabrik yang ada sebelumnya. Selain itu, paling tidak, pabrik kecil-kecilan ini juga menyediakan lapangan kerja bagi beberapa orang yang mengurus pabrik es tersebut,” ujar Ketua Yayasan Pendidikan BNKP ini.

Bagi CHZ, apa pun yang ia bisa akan dirinya lakukan untuk membangun dan membuat lebih baik kepulauan Nias. Kepercayaan yang diberikan kepada dirinya untuk menjadi Ketua Umum Badan Persiapan Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias (BPP-PKN), sejak 2017, pun ia jalankan dengan sebaik-baiknya. Ia tak segan-segan memanfaatkan jaringan yang dimilikinya dengan melakukan pendekatan dan membawa aspirasi masyarakat tentang pembentukan Provinsi Kepulauan Nias. Terakhir, sahabatnya, Tito Karnavian, Menteri Dalam Negeri, ia sambangi.

Begitu juga tanggung jawab yang kini terima dari lembaga gereja BNKP untuk menangani Yayasan Pendidikan BNKP. CHZ dipercaya menjadi ketua. “Lembaga pendidikan, baik sekolah dasar, pertama, menengah, maupun perguruan tinggi, adalah wadah yang harus menciptakan perubahan di Pulau Nias. Jika kualitas pendidikan ditingkatkan, SDM Kepulauan Nias tidak akan kalah dibandingkan dengan SDM di daerah lain.” Begitu dikatakan CHZ.

Kontestasi

Keputusan CHZ untuk ikut dalam kontestasi pemilihan kepala daerah 2020 di Kabupaten Nias adalah berita baik dan berkah bagi masyarakat, khususnya di Kabupaten Nias. Semua sudah mengetahui kiprah dan sepak terjangnya. Tak lagi diragukan segudang pengalaman yang ditenunnya ketika memegang sejumlah jabatan di kemiliteran. Kedisiplinan dan ketegasan yang telah membentuknya sangat dibutuhkan dalam mendorong perubahan dan di Kabupaten Nias.

Apalagi yang dipilih sebagai partnernya, sebagai calon wakil bupati, adalah AKBP (Purn) Anofuli Lase, SH, MH. Kepiawaian dalam hal kepemimpinan perwira polisi yang  akrab dipanggil Ama Sari ini sungguh tidak kalah. Tekad duet tokoh kebanggaan Kepulauan Nias ini untuk kembali kita apresiasi.

Ketegasan, kejujuran, bersih, teruji, religiositas tinggi, berpengalaman, dan memiliki panggilan moral untuk berbakti di daerah kelahirannya adalah modal utama yang dimiliki oleh pasangan Christian Zebua dan Anofuli Lase.

Kabupaten Nias dan juga daerah lain memiliki pemimpin yang bergerak cepat, peduli pada kepentingan masyarakat banyak, membuat terobosan-terobosan baru sehingga ketertinggalan dan keterpurukan di berbagai sektor bisa diatasi.

Pemimpin di Kepulauan Nias ke depan harus yang memiliki sensitivitas tinggi sehingga masyarakat merasakan kehadiran pemimpin mereka saat mereka membutuhkan. Fakta yang kini terjadi adalah rendahnya perekonomian masyarakat apalagi komoditas karet tidak lagi menguntungkan, jumlah penganggur yang makin banyak, jaringan transportasi yang belum sepenuhnya terkoneksi antarakecamatan sehingga distribusi sumber daya alam di setiap desa belum maksimal. Begitu juga dengan pelayanan kesehatan yang masih rendah. Dibutuhkan reaksi cepat pemerintah dalam pelayanan kesehatan. Penanganan kekurangan gizi (stunting) juga mendesak dilakukan.

Pada suatu kesempatan, beberapa waktu lalu, kepada penulis CHZ mengatakan, pembangunan ke depan di Kepulauan Nias harus dimulai dari desa. Desa-desa mesti menjadi pusat gerakan perubahan.

“Desa harus menjadi pusat gerakan pembaruan, perubahan, dan kebangkitan, terutama perekonomian. Bayangkan jika perekonomian setiap desa bertumbuh, setiap anak-anak bisa bersekolah dan mendapatkan asupan gizi yang cukup. Saya sangat yakin Nias akan bangkit dan berubah,” kata CHZ.

Selamat mengikuti kontestasi ini Pak Christian. Masyarakat Kabupaten Nias pasti sangat senang memiliki duet pemimpin yang siap melakukan terobosan-terobosan. Tuhan memberkati. (Apolonius Lase, Praktisi Media, Pemerhati Nias, Tinggal di Jakarta)