NARKOTIKA

BNN: Pulau Nias Rawan Pengedaran Narkoba

0
1388
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Gunungsitoli AKBP. Faduhusi Zendrato, SH, MH. BNN Gunungsitoli dibentuk (31/7/2015) dan memulai bekerja (7/1/2016) di Jl Yossudarno No 63 arah Moawa Kota Gunungsitoli. Foto Kabar Nias/Onlyhu Ndraha.

GUNUNGSITOLI, KABAR NIAS — Pulau Nias yang dikelilingi laut sangat rawan dengan pengedaran narkotika jenis sabu, ganja, dan ekstasi. Upaya yang dilakukan pencegahan dan rehabilitasi. Diperlukan gerakan sosial untuk peduli dan melakukan perang terhadap penyalahgunaan narkoba.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Gunungsitoli AKBP Faduhusi Zendratö, SH, MH, kepada Kabar Nias di ruang kerjanya di Jalan Yos Sudarso No 63 arah Mo’awö atau di eks Kantor PLN Cabang Nias Kota Gunungsitoli, Senin (18/1/2016).

“Jumlah pengguna narkoba di Pulau Nias masih proses pendataan. Walau demikian, dipastikan Pulau Nias cukup rawan pengedaran, terutama melalui laut. Bahkan, ada yang melakukan transaksi di tengah laut dan membongkarnya melalui dermaga tikus di Nias,” ujar lelaki yang dilantik sebagai kepala BNN Gunungsitoli pada 4 November 2015 yang lalu.

Menurut mantan Wakil Kepala Polres Nias itu, selain Kota Gunungsitoli, wilayah kerja BNN juga mencakup Nias, Nias Selatan, Nias Barat, dan Nias Utara. Program utama BNN pada pencegahan dan rehabilitasi pengguna narkoba. Sewaktu-waktu akan melakukan tes urine di semua instansi yang ada. “Kami akan melibatkan personel Polres dan TNI saat melakukan tes urine,” ujarnya.

Narkoba yang beredar di Pulau Nias itu, menurut Faduhusi, terutama melalui Pelabuhan Angin Gunungsitoli, dan disinyalir berasal dari Sibolga dan Aceh Singkil.

“Kita juga pastikan adanya traksaksi di tengah laut yang nantinya dibongkar melalui tepi pantai. Sedangkan melalui Bandara Binaka Gunungsitoli tidak signifikan. Motif para pengedar narkoba ini adalah untuk memperkaya diri,” ujarnya.

Masih Minim

Untuk diketahui, BNN Gunungsitoli mulai beroperasi pada 7 Januari 2016. Diakui Faduhusi, kantor yang ditempatinya masih minim fasilitas dan kekurangan personel. Namun, BNN tetap berupaya bergerak cepat.  “Pegawai baru 25 orang. “Kebutuhan pegawai PNS harusnya 55 orang dan polisi sebanyak 22 orang,” ujarnya.

Sembari membenahi kantor, pihaknya akan melakukan sosialisasi di masyarakat, di sekolah dan juga di tempat ibadah. Selain itu, BNN Gunungsitoli juga menjalin kerja sama di RSUD Gunungsitoli dan RSUD Lukas di Nias Selatan dan dalam waktu dekat akan dibentuk tim asesmen terpadu (TAT) yang melibatkan polisi, dokter, dan jaksa.

Dijelaskan Faduhusi, program utama BNN lebih pada penyelamatan jiwa. Pengguna akan direhabilitasi, sedangkan pengedar akan diserahkan kepada polisi untuk menjalani proses hukum yang berlaku. “Jika ada warga yang membawa keluarga sebagai pengguna akan direhabilitasi psikologinya dan diberi pencerahan agama,” katanya.

Terkait pecengahan, BNN Gunungsitoli akan melibatkan semua elemen masyarakat sebagai relawan Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Pengedaran Narkoba (P4GN).

Untuk informasi penyebaran dan pengguna narkoba, warga dapat memberi mengirimkan SMS ke nomor 0823-6550-8080. “Harap dimaklumi, relawan ini tidak memiliki insentif,” ujarnya.

Diharapkan Faduhusi, kehadiran BNN di Pulau Nias sebagai solusi penanganan dan pencegahan maraknya pengedaran narkoba. Orangtua bertanggung jawab penuh mendidik anaknya, terutama yang melanjutkan studi di luar daerah. [knc02w]