Menggugah Kesungguhan Mengajar Para Guru di Nias

1
1198

JW-iconOleh Fransiskus, Email: fransiskustrisudielilahagu@gmail.com
Pekerjaan: Mahasiswa


KECAMATAN LÖLÖFITU MOI — Pada Senin, 18 April 2016, kita dihebohkan dengan aksi demo yang dilakukan oleh peserta didik Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Lölöfitu Moi, Kabupaten Nias Barat.

Para siswa SMA Negeri 2 Lölöfitu Moi ini melakukan aksi bukan sering kali kelas mereka kosong saat mereka sudah di lingkungan sekolah. Dari informasi yang didapat dari media sosial (Facebook) di grup Forum Nias Barat, guru-guru sering kali menggunakan jam mengajar dengan ngerumpi bersama guru di kantor, di pondokan atau kantin sekolah, dan ada juga yang asyik mainkan gawai (gadget) sendiri.

Ini tenu menjadi tamparan keras bagi dunia Pendidikan di Kepulauan Nias, khususnya bagi Pemerintah Kabupaten Nias Barat, terkait kejadian ini. Peserta didik dalam melakukan aksinya menuangkan kekesalannya dengan menulis di kertas manila (#Tolong ajari kami hal-hal baik, Jangan hancurkan masa depan kami!!! Kami mau belajar, kapan kita belajar… #waktu adalah ilmu, sekolah tempat aku belajar bukan tempat istirahat).

Lagi-lagi jika mempertanyakan dalam hati, siapakah yang salah dalam hal ini? Siapakah yang bertanggung jawab? Semua hanya bisa mengelus dada dan mengatakan: Guru dan Pemerintah.

Guru adalah harapan satu-satunya peserta didik dalam memperoleh ilmu di Pulau Nias. Hal ini karena keterbatasan dalam sarana-prasarana di sekolah dan akses internet yang masih minim. Sangat jelas bahwa peraran guru sangat diperlukan oleh peserta didik. Guru menyampaikan materi pelajaran dan siswa menyimak dan mengembangkankan sesuai pemahamannya sendiri.

Sebagai seorang guru haruslah punya kesadaran akan profesi yang dimilikinya saat ini. Tidak ada maksud menggurui atau menasihati, tetapi jika hal ini disadari alangkah mulianya dan sudah pasti pendidikan di sekolah tersebut akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Akan tetapi, mustahil jika hal ini bisa terjadi, kenapa? Mari kita simak beberapa fakta yang masih terjadi di dalam dunia pendidikan di Pulau Nias.

Pertama, guru sering kali hanya menitip buku pelajaran di kelas lalu pergi. Meskipun ini tidak semua guru. Artinya, siswa hanya memindahkan kalimat yang ada di buku guru ke buku catatan mereka.

Kedua, jam masuk siswa dengan guru sangatlah berbeda. Siswa sering kali dipaksa untuk on time (tepat waktu), sedangka guru tidak (suka-suka mau datang jam berapa). Terlihat kejanggalan dalam hal ini.

Ketiga, guru sering kali kebablasan ngerumpi, padahal jam sudah menunjukkan waktunya untuk mengajar di kelas.

Keempat, siswa yang bermasalah sering kali dihukum dengan fisik bukan dengan membangun karakter.

Kelima, masih banyak guru yang tidak menyiapkan RPP. RPP hanya pelengkap berkas kalau ada yang memeriksa. RPP adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, sudah jelas sebelum proses pembelajaran di kelas sudah selesai (RPP), tetapi faktanya tidak demikian. Sehingga hal ini berakibat fatal pada materi yang tidak tercapai.

Keenam, guru mengajar hanya karena uang bukan karena ada niat untuk mengajar dan mengabdi. Guru sering kali tidak peduli dengan perkembangan belajar dari peserta didiknya.

Ketujuh, guru pilih kasih (atau ada rekayasa) dalam pemberian nilai akhir pada rapor siswa. Selain itu, kurangnya pemerataan perhatian kepada siswa. Siswa yang pandai itu terus yang selalu diperhatikan, tetapi yang masih kurang tidak diperhatikan. Bisa dikatakan, guru sering kali masa bodoh terhadap perkembangan siswanya, tetapi bukan berarti semua guru demikian).

Sekolahku bagaikan sekolah mati merupakan kekecewaan dari semua yang terjadi. Mati karena tidak adanya kepedulian dan upaya pemerintah membangun sekolah. Mati karena guru hanya mengharapkan uang, bukan karena ada niat untuk menjadi pembimbing bagi peserta didik.

Aku mati bukan karena orang lain, tetapi karena diriku sendiri. Pendidikan kita semakin tertinggal bukan karena adanya oknum lain, tetapi kita sendiri. Maka, tak ada yang bisa membangun daerah kita selain kita sendiri. Namun, jikalau Anda tidak bisa membangun, paling tidak jangan rusak yang sudah ada.


Substansi tulisan di Jurnalisme Warga adalah tanggung jawab penuh si penulis. Ketentuannya di Penyangkalan Jurnalisme Warga. Jika Anda ingin menulis silakan Klik disini