Cita-cita tak pernah hanya didominasi oleh orang besar dan kaya. Siapa pun, dan profesi apa pun, latar belakang ekonomi-sosial apa pun, semua bisa memiliki cita-cita. Ini dibuktikan juga oleh calon anggota legislatif Sentosa Harita. Ia ingin mengabdikan memberikan sumbangsih kepada daerahnya dengan menjadi calon anggota legislatif. Kali ini ia diusung oleh Partai Nasdem di Dapil I Nias Selatan.

Masa kecil yang cukup keras dan pelik menempanya menjadi pribadi yang bersyukur atas apa yang ia peroleh dalam hidup. Intinya, ia tak pernah menyerah, tetapi ia terus berserah. Dirinya juga tak mau hidup dalam suasana penuh komplain. “Jika hari ini Tuhan memberi kami cukup makan dua kali, ya, kami bersyukur saja,” begitu Sentosa menggambarkan soal moto hidupnya.

Hidup penuh tantangan dialami anak ketujuh dari 9 bersaudara ini kala kedua orangtuanya tak bisa lagi bekerja menghidupi keluarganya. Ayahnya memboyong keluarganya Hilimondregeraya ke Telukdalam. Di Telukdalam ini jugalah dia mencoba meminta dukungan masyarakat agar memberinya suara pada 17 April 2019. Sentosa adalah caleg dari Nasdem nomor urut 5 di daerah pemilihan (dapil) I, yang meliputi empat kecamatan, yaitu Telukdalam, Luahagundre, Fanayama, dan Onolalu.

Setelah pindah ke Telukdalam, Sentosa memulai perjuangan hidup. “Tidak gampang, bang,” suaranya bagai tercekat. Matanya berkaca-kaca. “Saya belajar menjadi montir. Tidur di bengkel. Terus saya belajar menyetir mobil,” ujarnya kepada Kabarnias.com, pertengahan Desember 2018.

Sentosa yang sehari-harinya menjadi sopir orang nomor satu di Nias Selatan tak sungkan menceritakan perjalanan hidupnya. Namun, kini setelah resmi terdaftar dalam calon tetap caleg Kabupaten Nias Selatan 2019-2024, Sentosa memilih berhenti menjadi sopir Bupati Nias Selatan.

“Ini untuk menghindari berbagai suara sumbang di masyarakat, takut nanti ada dugaan politisasi. Saya memilih berhenti menjadi sopir Pak Bupati,” kata ayah dari  Adelio Orlando Harita (10), Yelsi Sepmidini (7), dan Alverna Anora Harita (1) tersebut.

Pekerja Keras

Terbiasa bekerja keras menjadi modal Sentosa dalam menghadapi hari-hari yang juga penuh tantangan. Bagaimana dia harus membagi waktunya untuk mengikuti perkuliahan di STIH Telukdalam juga bagian dari kerja keras itu. “Saya memutuskan untuk kuliah agar saya bisa bertambah pengetahuan dan bisa menjadi berkah bagi orang lain juga. Waktu menjadi sopir, saya memang merasakan kesulitan membagi waktu,” ujar pria kelahiran 23 Juni 1981 itu.

Istrinya, Oktviana Zebua, yang telah memberinya tiga anak, juga mendorongnya untuk kuliah. “Istri saya duluan saya dorong untuk kuliah. Lalu dia kini sambil bekerja sebagai tenaga honorer. Kini dia sudah diwisuda,” kata Sentosa.

Setelah istrinya selesai kuliah, giliran dia yang didorong untuk mengecap pendidikan sarjana. Bagi Sentosa, pendidikan sangat penting. Masyarakat kita, khususnya di Telukdalam, Nias Selatan, sangat tertinggal karena tingkat pendidikan yang minim. “Saya harus juga meningkatkan diri dengan kuliah,” ujarnya.

Bagaimana mencukupi kebutuhan sehari-hari? “Ya, kami terus hidup dalam kesederhanaan. Apalagi jika sudah bulan tua. Terkadang, harus berutang ke tetangga dan segera dibayarkan saat mendapatkan honor,” ujarnya.

Selain itu, dari hasil menabung selama ini, lewat arisan, Sentosa pelan-pelan membeli alat-alat untuk sound system, seperti keyboad dan peralatan sound system. Ditambah sedikit keterampilan bisa memainkan alat musik keyboard, ia banyak diminta untuk menghibur masyarakat yang memiliki acara seperti pernikahan atau ulang tahun anak.

“Kadang juga mereka hanya menyewa alat-alat saya. Honor dari situlah sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” kata Sentosa, anak dari Folawa Harita alias Ama Bani Harita (78) dan Fositi Wau (66) asal Bawömataluo itu.

Menjadi calon anggota legislatif, bagi Sentosa, adalah sebagai wujud cita-cita sebab dari dulu ia sangat menyukai dunia politik. Ilmu yang sedang diembannya sekarang di Program Studi Ilmu Hukum di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Nias Selatan—kini dia sudah memasuki semester V—menjadi bekalnya kelak jika terpilih.

“Saya masuk politik karena dunia saya selama ini adalah politik. Saya banyak belajar dari keseharian bergaul dengan para politisi. Saya tahu bahwa untuk bisa berbuat yang berdampak bagi masyarakat banyak adalah lewat masuk dalam sistem,” ujarnya.

Apa harapanmu kepada para calon pemilihmu?

“Saya tak neko-neko, Bang. Tak ada janji apa-apa untuk bisa diberikan kepada calon pemilih saya. Saya ini tak mungkin bisa bagi-bagi uang. Saya harus bisa memperjuangkan daerah pemilihan saya agar lebih maju dan mendapatkan hak-hak yang seyogianya milik mereka. Saya mengerti betul tugas anggota DPRD, yakni penganggaran, pengawasan, dan pembuatan perda-perda. Saya siap menjalankan fungsi itu sebaik-baiknya kelak jika saya diberi kepercayaan. Saya mohon doa restu. Saya ada di Facebook, bisa diberi masukan di akun Sentosa Harita. ” ujarnya.

Selamat berjuang Sentosa.