Puisi: Anak Senja

2
276

Oleh Reliusman Dachi

Senja di sore
Seorang bayi hendak melihat dunia
di lebat keringat ibunya
yang dihujani kelelahan

Sang ibu terus berjuang
Berharap anaknya bisa lahir
Lahir sebagai pejuang
-anak pejuang-pemikir

Sang bayi mungil
Perlahan Kepalanya mulai keluar
     Matanya terbuka
dilihatnya sekelilingnya : cemar
     Telinganya mendengar
mendengar longlongan kebohongan
     Hidungnya mencium
mencium rapi bau busuk di antara manusia
yang terjalin pada benang-benang safari

Dia menangis
   Dia menjerit
      Dia malu
Malu melihat manusia rakus di kerontang lumbung negeri ini
-malu melihat manusia yang berdua rupa
seperti buas dan tamak. Amboy

Dia enggan
    enggan merayap di kulit jangat bumi
yang dierami selimut kemunafikan
    enggan melihat mekar kebun penindasan
-enggan kepada rakus

Dia bersedih
matanya gemercik kabut
Dia malu
matanya terkatup

Perlahan
Dia sebut-sebut nama ibunya
dengan irama ampunan
Dia tidak mau melihat manusia
-manusia dua rupa
seperti S’rigala dan Kucing hutan
di lukisan bendera yang luntur

Akhirnya
Pada gelegar pecah sawah
di urat-urat wajahnya
yang meneteskan getah sedih air pancur
dan  muak racun lumpur
Dia kembali ke rahim ibunya
di antara daun-daun yang hanyut
terpaut reranting


Reliusman DachiMahasiswa Fisika Fakultas MIPA UGM Angkatan 2013. Lahir di Hiliaurifa, Hilisimaetanö, Kecamatan Maniamölö, Kabupaten Nias Selatan, 17 September 1994. Tinggal di Sendowo G67 RT 014, RW 056 Sinduadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta


Redaksi Kabarnias.com akan memuat puisi, cerpen, cerita bersambung, atau esai yang memiliki latar terkait dengan tradisi, budaya, atau geografis di Pulau Nias. Terima kasih