Nias Pulau Impian: “It is Too Good to be True(?)”

0
728
Seorang wisatawan berfoto di depan rumah adat di desa adat Bawömataluo, Fanayama, Telukdalam, Nias Selatan.

Oleh Memoriang Zebua

Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun. Tidak juga ingin memberikan vonis atau penghakiman bagi siapa pun yang ingin bermimpi, termasuk mimpi menjadikan Nias sebagai pulau impian. Siapa yang punya hak melarang orang bermimpi coba, he-he! Burung pungguk saja boleh memimpikan bulan, apalagi manusia. Sah-sah saja punya rindu, punya mimpi, punya cita-cita, punya khayalan. Obyek mimpi pun tentunya tidak terbatas. Semakin melambung justru semakin bagus. Wong namanya mimpi, apa saja boleh terjadi. Belum ada undang-undang yang melarang orang bermimpi bukan?

Terus, kalau demikian apa dong kira-kira tujuan dari tulisan ini? Sabar. Sebelum masuk ke tujuan penulisannya, mari berbincang sebentar tentang kondisi Pulau Nias kita tercinta saat ini. Nias, sebagai pulau yang berada di sebelah barat Pulau Sumatera, adalah sebuah pulau yang tidak bisa dikatakan kecil. Luas wilayahnya bahkan lebih besar daripada Pulau Madura yang berada di Jawa Timur. Sekalipun kalau di peta besarnya tidak lebih besar dari ukuran sebutir beras, tetapi pulau yang diberkati ini menyimpan banyak potensi yang sayangnya, hingga saat ini belum tergali, apalagi dikembangkan secara maksimal.

Nias ibaratnya putri tidur, meminjam tokoh dari cerita dongeng anak-anak karangan Charles Perrault, putri cantik ini masih menunggu pangeran tampan untuk datang, mencium dan membangunkan dirinya. Keelokan sang putri tidur masih tersimpan di bawah selimut yang menudungi tubuh eloknya. Belum banyak orang yang tahu bahwa putri tidur ini menyimpan banyak pesona yang, apabila disingkapkan, akan membuat banyak mata terbuai dan terbelalak. Belum bisa eksis karena belum melek, kira-kira seperti itu.

Namun, kecantikan sang putri tidur tidak dapat ditutup-tutupi lagi. Banyak mata mulai melirik, banyak mulut mulai membicarakannya, hingga akhirnya tersiar bahwa hanya pangeran yang tepatlah yang sanggup memberikan ciuman dan membangunkannya dari tidur yang panjang. Nias, putri yang sedang tertidur itu, saat ini sedang membutuhkan sentuhan dari tangan orang-orang yang tepat untuk membangunkannya dari tidur panjang di mana kemudian sang putri tidur ini akan bangkit dan siap menebarkan pesona kecantikannya kepada siapa saja.

Dalam tidur panjang yang dialaminya kini, Pulau Nias bermimpi akan kesejahteraan, kemakmuran, dan kecukupan untuk setiap warganya. Potensi alam yang ada dapat digarap baik di bidang pertanian, perkebunan, dan tidak ketinggalan potensi wisatanya. Pulau Nias bermimpi banyak wilayah yang akan menjadi destinasi di mana para wisatawan, baik domestik maupun internasional, dapat berbondong-bondong datang untuk sekadar menghabiskan waktu liburannya dan menikmati pesona alam yang ada.

Pulau Nias bermimpi pembangunan infrastruktur akan berlangsung secara masif, sistematis, dan terstruktur. Tidak ketinggalan banyak wartawan akan datang meliput, melakukan reportase dan akan mengambil begitu banyak gambar yang mereka butuhkan untuk peliputannya. Hal ini tentu saja akan membuat keinginan warga Nias untuk bisa eksis dapat terpenuhi. Semua media sosial akan dibanjiri foto dan kabar dari Nias sehingga orang-orang di seluruh dunia pun dapat mengetahuinya. Oohh… betapa indahnya semua mimpi itu. Pertanyaannya dapatkah itu terwujud jika melihat realita yang sedang terjadi di Pulau Nias sekarang ini?

Nias sebagai daerah kepulauan memiliki banyak kendala untuk memutar roda perekonomiannya. Padahal, roda perekonomian yang berputar dengan baik, menjadi salah satu indikasi kemajuan suatu daerah. Hal ini diperparah oleh kondisi infrastruktur, terutama di bidang transportasi, yang sangat memprihatinkan. Jalan raya sebagai penghubung antarwilayah di Nias banyak yang sudah rusak. Di beberapa daerah bahkan ada yang belum memiliki akses jalan sama sekali. Apabila ada, itu hanyalah berupa jalan setapak yang mustahil dilalui oleh kendaraan apa pun. Jembatan banyak yang dibiarkan rusak dan terbengkalai sehingga seringkali transportasi yang lewat harus memutar otak atau berusaha mencari rute alternatif agar bisa sampai ke tempat tujuan. Hal ini tentu saja memakan waktu yang lebih lama dari yang seharusnya.

Tidak ada swasembada pangan di kepulauan Nias sekalipun ada banyak lahan kosong yang dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya.  Hampir semua kebutuhan pokok dipasok dari luar Nias. UKM di Nias pun hampir tidak ada geliatnya. Mayoritas penduduk Nias lebih senang menjadi pegawai kantoran, minimal menjadi guru bantu dengan harapan sekali waktu nanti bisa diangkat menjadi PNS.

Namun, di sisi yang lain, bagaimana juga UKM bisa bergeliat dengan seksi apabila faktor pendukung utama yaitu tersedianya energi dan pasokan listrik yang cukup, saat ini justru sedang sekarat, koma dan hampir mati. Setiap hari masyarakat menjerit, bersumpah serapah akibat pemadaman listrik yang tidak kenal waktu.

Di bidang birokrasi, kita juga disuguhi kebobrokan dengan banyaknya kasus korupsi yang mendera beberapa pejabat daerah. Dana yang seharusnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat justru diembat dan raib dalam saku mereka sendiri. Tidak ada dana cadangan yang bisa diandalkan untuk menutupi kebocoran akibat perbuatan korupsi dari para pejabat. Jadilah pembangunan di Nias semakin terbengkalai. Sungguh tragis dan ironis.

Oleh sebab itu, sesungguhnya  dapat disimpulkan bahwa  Pulau Nias saat ini sebenarnya justru berada dalam kondisi yang babak belur dan memprihatinkan. Mungkin diperlukan sebuah hastag #savenias untuk memberikan kesadaran bahwa Nias saat ini sangat butuh pertolongan agar tidak kolaps dan semakin tertinggal.

Nah, dengan membaca realita yang ada dan membandingkannya dengan segala mimpi yang sudah dilambung demikian tinggi, kira-kira akankah semua hal tersebut dapat terwujud dalam waktu dekat dan tanpa usaha dan perhatian serius dari segenap lapisan masyarakat, mulai dari tingkat atas hingga ke tingkat bawah?

Saya ingat diskusi menarik dengan seorang kawan di sebuah grup media sosial, ia mengatakan, bahwa sekalipun dikebut mulai dari sekarang, tetap akan memakan waktu minimal 20 tahun lagi bagi Pulau Nias untuk berkembang dan menjadi pulau yang diimpikan oleh orang luar Nias untuk berbondong-bondong datang dan menikmati keindahannya.

Apalagi dengan irama pembangunan yang ada sekarang ini, sudah pasti dibutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Bisa jadi 50 atau 100 tahun lagi barangkali. Sebab, jangankan membuat orang luar bermimpi menjadikan Nias berada di urutan teratas daftar tempat yang harus dikunjungi, malah  apa yang diimpikan Nias sendiri tentang dirinya masih seperti si pungguk yang merindukan bulan.

Orang luar pasti akan merasa kita sebagai PHP (pemberi harapan palsu) apabila “dipaksa”  melalui promo-promo yang gencar, slogan-slogan yang membuai untuk datang ke pulau Nias. Apabila hal demikian sampai terjadi, justru akan menambah poin negatif tentang Nias dan akan membuatnya semakin jatuh di mata para wisatawan luar.

Cukup panjang lebar juga, ya, tulisan saya he-he! Untuk mengakhirinya, saya ingin menyampaikan pendapat bahwa jika demikian keadaannya, barang kali it is too good to be true, mimpi tentang Nias pulau impian untuk saat ini. Perlu evaluasi di segala bidang oleh karena realitanya, meminjam kembali cerita dongeng Charles Perrault, jangankan kehadiran dan kecupannya, bahkan derap kuda dari sang pangeran pujaan itu pun masih belumlah kedengaran sampai saat ini, untuk datang membangunkan sang puteri tidur, yaitu Nias kita tercinta dari tidurnya yang panjang.

Dari pada sibuk dengan ingar-bingar promosi yang terlihat tidak lebih dari sekadar upaya agar kelihatan eksis, lebih baik fokus melakukan proyek-proyek kemasyarakatan yang walaupun sederhana, tetapi dapat menumbuhkan geliat pembangunan di Pulau Nias.