Membangun ”Ruang Orkestra” di Nias

1
350
Ilustrasi, salah satu penampilan kelompok orkestra di Turki. Sumber: http://www.oguzhanbalci.com/

Oleh Marinus Waruwu

Pada zaman globalisasi ini, pendidikan dasar dan menengah di Pulau Nias dituntut untuk terus melakukan inovasi. Inovasi sebagaimana pernah ditegaskan Peter F. Drucker (1985) bertujuan untuk menciptakan perubahan yang direncanakan, terfokus dalam sebuah organisasi dan layanan publik. Merunut pada pendapat ini, sekolah-sekolah dasar dan menengah di Nias sebagai sebuah layanan publik dan organisasi pendidikan tentu diharapkan tak pernah ragu melakukan inovasi terus-menerus demi menjawab tuntutan peradaban seperti perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat, perkembangan anak-anak yang begitu cepat baik segi emosional, fisik, cara berpikir, relasi sosial yang menjunjung tinggi privasi dan budaya individualisme yang menggerogoti perilaku manusia modern dewasa ini.

Pembentukan peserta didik di sekolah-sekolah dasar dan menengah di Nias pun diharapkan tidak lagi terjebak pada cara-cara pengajaran klasikal warisal kolonial, yang serba searah (peserta didik sebagai obyek) dan guru sebagai subyek pembelajaran (teacher centered). Sebaliknya, pembelajaran harus menempatkan peserta didik sebagai subyek pembelajar yang terlibat demi mendorong inovasi dan kreativitas mereka dalam mengembangkan diri (student centered learning), dengan memperhatikan segala macam aspek perkembangan kepribadian mereka secara holistik seperti perkembangan emosional, akademik, relasi sosial, spiritualitas dan kecenderungan pengembangan talenta. Hal ini pernah dikumandangkan oleh Gereja Katolik dalam dokumen Deklarasi Pendidikan Kristen yang menegaskan bahwa semua manusia mempunyai martabat pribadi. Oleh karena itu, mempunyai hak yang tak tergugat atas pendidikan, yang sesuai dengan tujuan dan bakat masing-masing (Gravissimum Educationis No.1).

Kelas Sebagai Ruang Orkestra

Salah satu terobosan inovasi dalam bidang pendidikan dewasa ini adalah internalisasi dan penerapan spirit ruang orkestra bersimfoni di ruang kelas. Ruang orkestra bersimfoni adalah ruang di mana kelompok musisi memainkan alat-alat musik secara bersama. Alat musik yang dimainkan anggota orkestra bermacam-macam. Sebut saja seperti strip, tiup, perkusi, biola, violin, cello,flute, clarine, dll.

Setiap anggota memainkan alat musik sesuai dengan bakat dan keterampilannya. Penampilan kelompok orkestra di atas panggung selalu ditunggu. Dengan bakat luar biasa, mereka mampu memengaruhi perasaan penonton, memercikkan kegembiraan hati, kesatuan, keindahan, kebersamaan dan penghiburan. Keindahan kehidupan dirasakan saat-saat menyaksikan kelompok orkestra simfoni tampil.

Konon pada abad 15 dan 16, para bangsawan Eropa tak jarang menyewa kelompok orkestra simfoni tampil di tempat-tempat peristirahatan kerajaan demi merasakan keindahan hidup dan ketenangan jiwa.

Menjadikan ruang kelas seolah-olah sebagai ruang orkestra bersimfoni mungkin berlebihan. Namun, spirit kelompok orkestra saat pertunjukan di atas panggung sangat bermakna dan bermanfaat apabila direfleksikan para pendidik di sekolah. Pendidik yang berfungsi sebagai konduktor bagi peserta didik (anggota orkestra) perlu menghidupkan nilai-nilai orkestra simfoni tersebut di ruang kelas.

Ilustrasi: Salah satu penampilan siswa di sebuah sekolah di Malaysia. Foto: http://www.majakir.net/
Ilustrasi: Salah satu penampilan siswa di sebuah sekolah di Malaysia. Foto: http://www.majakir.net/

Orkestra bersimfoni lahir ketika pendidik menjadikan proses pembelajaran sebagai sebuah perayaan bersama. Seperti pertunjukkan orkestra, proses pembelajaran perlu dirayakan dengan suasana penuh kedekatan, hangat, santai, diwarnai humor tetapi bertanggung jawab, tenang tetapi terfokus serta adanya komunikasi positif yang menyenangkan bagi peserta didik. Suasana ini perlu dibangun agar peserta didik merasa nyaman dan aman untuk belajar sesuai dengan keterampilan yang dimiliki.

Orkestra bersimfoni lahir juga di ruang kelas tak kala guru berhasil mengidentifikasikan setiap bakat dan kemampuan peserta didik seperti kemampuan di bidang olahraga, bidang seni, pelajaran eksata maupun pelajaran sosial humaniora. Sebagai seorang konduktor di ruang kelas, pendidik bukan hanya menemukan dan mengidentifikasikan keterampilan khusus tersebut. Lebih dari itu, pendidik berperan untuk melatih bakat/keterampilan dan memfasilitasi mereka menguasai teknik-teknik pengembangan bakat/keterampilan tersebut, serta memberikan pengharapan bahwa mengembangkan talenta memerlukan usaha dan kesabaran terus-menerus.

Beberapa tokoh teori pendidikan modern ternyata sudah mengembangkan penerapan desain pembelajaran berorkestra simfoni secara lebih detail. Bobbi Deporter, Mark Reardon dan Sarah Singer-Nourie, misalnya, mengembangkan teori pendidikan yang diberi nama Quantum Teaching.

Desain pembelajaran orkestra bersimfoni dalam teori Quntum Teaching (Bobbi Deporter Dkk, 2003: 38) lebih jelas dibagi dalam 2 (dua) bagian sebagai berikut: Bagian pertama adalah konteks. Bagian ini terdiri dari, pertama, menciptakan suasana belajar yang menggairahkan. Kedua, membangun landasan kokoh bagi peserta didik. Ketiga, menciptakan ruang kelas yang menyenangkan. Empat, mendorong pembelajaran yang dinamis.

Bagian kedua: Isi. Bagian ini berkaitan dengan strategi dan keterampilan guru mengajar dan mendidik. Pertama, membangun presentasi yang prima. Kedua, menyediakan fasilitasi yang luwes. Ketiga, memacu keterampilan belajar. Keempat, membangun keterampilan hidup.

Bagian konteks dan isi tersebut tentu sangat membantu pendidik apabila membangun sikap totalitas, konsistensi dan penuh komitmen untuk menerapkannya dalam proses pembelajaran. Jika kita merenungkan secara mendalam, di bawah ini beberapa keuntungan apabila secara konsisten menerapkan desain pembelajaran orkestra bersimfoni di ruang kelas.

Pertama, semua talenta peserta didik dapat dikembangkan. Dengan metode belajar yang sesuai dengan bakat/keterampilan masing-masing, guru sebagai konduktor akan dengan mudah memaksimalkan bakat/keterampilan peserta didik (anggota orkestra), dengan melatih dan memaksimalkan teknik-teknik pengembangan keterampilan.

Kedua, metode belajar menyenangkan, kreatif, dan inovatif dengan menekankan pada student centered dan pembelajaran bervariasi sesuai dengan tema pembelajaran.

Ketiga, peserta didik diberi keleluasaan untuk kreatif mengembangkan bakat/keterampilan yang dimiliki. Peserta didik belajar mandiri dan kreatif. Guru (konduktor) berfungsi sebagai fasilitator semata dalam pembelajaran.

Keempat, egoisme peserta didik diminimalkan. Bekerja dalam kelompok tentu melatih peserta didik untuk berbagi peran dan belajar mengekang egoisme pribadi.

Kelima, suasana kenyamanan dan keamanan tercipta. Peserta didik dibiasakan untuk nyaman dan aman dalam belajar. Sikap akrab, sikap senyum dan ramah, bahasa halus dan komunikatif serta belajar sesuai bakat yang dimiliki akan memberikan keamanan dan kenyamanan kepada peserta didik.

Mungkin kata-kata ini berlebihan, tetapi penulis berkeyakinan bahwa semangat pembelajaran orkestra bersimfoni ini mampu memberikan ketenangan jiwa dan keindahan hidup kepada peserta didik layaknya Raja-raja Eropa zaman dahulu yang merasakan ketenangan jiwa dan keindahan hidup saat menyaksikan penampilan kelompok orkestra tampil di atas panggung. Luar biasa.

Tulisan sederhana ini berusaha mengantar kita pada sebuah kesadaran bahwa pada hakikatnya setiap anak memiliki bakat/kekuatan tertentu. Bakat/kekuatan ini mampu dimaksimalkan apabila dilatih dan diarahkan dengan baik.

Kesimpulannya bahwa Pendidik sebagai konduktor pembelajaran di sekolah dasar menengah di Pulau Nias harus menyadari betapa uniknya setiap pribadi karena memiliki kekuatan/keterampilan berbeda-beda. Maka kecenderungan kebijakan sekolah di Nias tertentu yang masih terjebak pada klasifikasi-klasifikasi kemampuan peserta didik berdasarkan kepintaran, kebodohan, keunggulan dan kelemahan seperti menolak pendaftaran calon peserta didik karena nilai rapor/nilai tes masuk rendah, memaksa pindah kelas/pindah sekolah atau mengembalikan kepada orangtua dengan alasan kenakalan perlu direnungkan ulang demi membangun orkestra bersimfoni di ruang kelas di Nias.

Untuk mengakhiri tulisan ini, beberapa pertanyaan reflektif yang menjadi bahan renungan untuk kita: sudahkah kita berusaha menemukan kekuatan-kekuatan dalam diri setiap peserta didik? Sejauh mana peran kita mengoptimalkan setiap kekuatan yang dimiliki peserta didik? Apakah kita sudah menghargai keberadaan peserta didik karena memiliki keunikan tertentu?

DAFTAR PUSTAKA

  1. Bobbi DePorter, Mark Reardon & Sarah Singer- Nourie, Quantum Teaching, Penerbit KAIFA: 2003.
  2. Sptizer, John, and Neil Zaslwa, The birth of the orchestra: History of an institution 1650-1815, Oxford University Press: 2004.
  3. Umiarso dan Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan,Penerbit IRCISoD: 2010
  • Dermawan Hia

    Pemikiran yg bagus, memimpin kelas seperti dirigen, lembut tetapi tegas, berbeda tapi harmonis. Kepemimpinan seperti ini bahkan bisa diterapkan di lembaga mana saja, termasuk seorang ayah dalam memimpin keluarganya. Tetapi tentu tidak berlaku bagi pemadam kebakaran saat menjalankan tugasnya.
    Beberapa kata mungkin salah ketik, misalnya strip mungkin maksudnya string, clarine harusnya clarinet.
    Bravo Pak Waruwu