DISKUSI PANEL

Meningkatkan Kualitas SDM di Pulau Nias 

0
52
Ilustrasi: Google

Moderator: Marinus Waruwu
Ko-Moderator: Elisati Hulu

Dalam rangka menemukan solusi terhadap permasalahan Sumber Daya Manusia di Pulau  Nias, pada hari Kamis, 28 September 2017, Pukul 19.00 – 22.00 WIB, WhatsApp Group Orahua Tötönafö (WAG OTT) menyelenggarakan diskusi perdana. Peserta diskusi adalah warga Nias yang berdomisili di Pulau Nias dan perantauan. Peserta diskusi berprofesi sebagai pejabat pemerintahan daerah, mantan pejabat, DPRD, pakar pendidikan, motivator/trainer, pensiunan, rohaniwan, dosen, karyawan swasta, wartawan, dan para mahasiswa asal Nias yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri seperti Belanda, Italia, dan lain-lain.

Diskusi ini sebagai bentuk kepedulian warga Nias terhadap semakin kompleksnya permasalahan yang dihadapi pulau Nias. Hasil diskusi dimuat di Kabarnias.com dan dikirimkan sebagai usulan rekomendasi kepada para pengambil kebijakan di Pulau Nias.

Bertindak sebagai Moderator dalam diskusi perdana tersebut adalah Marinus Waruwu dan Co-Moderator Elisati Hulu.

Sekadar informasi bahwa WAG OTT adalah wadah tempat berdiskusi warga Nias untuk membantu meningkatkan pemberdayaan Masyarakat Nias, sehingga pemerintahan dan masyarakat dapat diberi arahan/masukkan untuk perwujudan dalam hidup sehari-hari. Karena itu, rekomendasi pemikiran-pemikiran semakin memberi arah dan sumbangan konkrit demi terwujudnya impian masyarakat Nias. Maka WAG ini diberi nama Orahua Tötönafö (Group Idaman).

Mengingat persoalan sumber daya manusia merupakan elemen utama untuk meraih kemajuan sebuah bangsa, diskusi perdana mengangkat topik “Meningkatkan Kualitas SDM di Pulau Nias” (Kendala dan Solusi).

Sumber daya manusia merupakan investasi dan aset strategis menuju kemajuan suatu daerah atau bangsa. Kontribusi SDM tak terbantahkan. Negara-negara Asia seperti Jepang, Singapura, Korea Selatan mencapai kemajuan karena pembenahan SDM menjadi prioritas utama. Bangsa-bangsa tersebut memiliki kehendak kuat untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa barat. Dalam waktu singkat, berkat ketekutan dan pengorbanan, mereka dapat menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa barat karena memiliki SDM berkualitas.

Kita pun dapat belajar dari pengalaman bangsa-bangsa tersebut. Pulau Nias memiliki sumber daya alam melimpah seperti perikanan, peternakan, pertanian, garam, tempat wisata laut, patung megalitik, dan lain-lain. Namun, kita harus jujur bahwa tenaga SDM Nias tidak siap mengelola dan memanfaatkan kekayaan alam tersebut dan dukungan pemerintah daerah dan pemerintah pusat kurang maksimal.

Itulah sebabnya, kualitas SDM perlu ditingkatkan agar tenaga SDM ke depan bukan hanya fokus untuk mengejar pekerjaan sebagai tenaga pegawai negeri sipil (PNS), melainkan memiliki daya saing, keterampilan kompleks, kreatif dan inovatif untuk hidup mandiri dengan menciptakan alternatif pekerjaan, memiliki produktivitas dan investasi terhadap masa depan, sehingga dapat dimanfaatkan untuk meraih keberhasilan dalam mencapai tujuan Pulau Nias yang makmur dan sejahtera baik secara individu maupun kelompok seperti organisasi pemerintahan, gereja, masyarakat dan keluarga.

Indikator rendahnya kualitas SDM di Pulau Nias dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia yang dikeluarkan pemerintahan tahun 2013 lalu. Data ini “bisa saja” tidak menggambarkan kualitas SDM Nias secara keseluruhan, tetapi data IPM tersebut dapat menjadi masukkan bergharga untuk membangun SDM berkeunggulan di masa mendatang. Sebagai daerah otonomi baru, empat kabupaten di Nias menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. IPM Kabupaten Nias 69.93, IPM Kab. Nias Utara 69.39, IPM Kab.Nias Selatan 68.58, IPM Kab.Nias Barat 67.91. Berdasarkan hasil IPM tersebut dapat disimpulkan bahwa seluruh kabupaten di Pulau Nias masih berada dibawah standar pencapaian IPM. Sebab standar IPM adalah 70.00.

Kemudian berdasarkan rilis yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, rata-rata nilai UN di Pulau Nias berada di angka nilai 3.00 – 4.00. Tentu hal ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan rata-rata Ujian Nasional di daerah lain yang mampu mencapai angka 7.00-9.00.

Kendala Peningkatan SDM Berdasarkan fenomena tersebut, warga Nias berusaha mengidentifikasikan permasalahan yang menyebabkan kualitas SDM di Pulau Nias rendah. Selain berusaha mencari hambatan pengembangan SDM, peserta diskusi juga berusaha menyumbangkan solusi strategis untuk meningkatkan kualitas SDM di Pulau Nias.

Hambatan

Beberapa hambatan pengembangan sumber daya manusia di Pulau Nias yang berhasil diidentifikasikan oleh peserta diskusi sebagai berikut.

Pertama, Masalah budaya. Masalah budaya berkaitan dengan mindset/mentalitas/egois (orang Nias, meskipun tidak semua). Pendidikan dianggap tidak penting. Sebagian memiliki mental block tidak punya cukup nyali untuk memulai.

Kedua, Masalah teknologi dan informasi. Masalah ini berkaitan dengan akses teknologi informasi yang terbatas, tidak memiliki akses dan ruang terhadap informasi untuk berpikir kreatif.

Ketiga, Masalah pendidikan. Masalah ini berkaitan dengan mutu guru-guru yang rendah, pelatihan guru tidak berjalan, jumlah guru yang sedikit, penempatan guru yang tidak merata disejumlah lokasi, fasilitas dan infrastruktur sekolah yang tidak memadai, jumlah sekolah  yang tidak merata keseluruh wilayah, motivasi belajar rendah, sistem pendidikan yang tidak mendukung.

Keempat, Masalah politik. Masalah ini berkaitan dengan kebijakan pemerintahan daerah yang menarik tenaga profesional guru menjadi tenaga struktural di pemerintahan, pengambil kebijakan di pemerintah daerah belum optimal membangun kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan (stakeholder).Kelima, Masalah ekonomi. Masalah ini berkaitan dengan daya saing ekonomi warga Nias yang rendah, tak ada akses di perbankan,  ketidakmampuan orangtua dalam membiayai sekolah anak-anak.

Solusi Strategis Menuju SDM Berkeunggulan Hasil identifikasi permasalahan SDM menunjukkan bahwa persoalan SDM di Pulau Nias sangat kompleks dan menyangkut segala bidang kehidupan seperti budaya, teknologi, pendidikan, politik dan ekonomi. Mengingat permasalahannya kompleks, maka perlu solusi strategis yang komprehensif pula. Di bawah ini beberapa solusi strategis yang ingin ditawarkan kepada pengambil kebijakan di Pulau Nias sebagai berikut:

Pertama. Strategi kebudayaan: Mengubah mindset/mentalitas. Hal ini dapat dilakukan melalui proses edukasi secara terus menerus. Sehingga terjadi apa yang dinamakan dengan proses “Cuci Otak”. Perubahan mindset dapat dilakukan dalam keluarga, masyarakat, Gereja dan diri sendiri. Hal ini memerlukan kesabaran dan kerja keras. Mindset pekerja keras/tekun, bertanggung jawab, kreatif dan inovatif, berpikir positif dan visioner harus ditumbuhkan dalam diri anak-anak sejak kecil baik di sekolah, rumah dan masyarakat. Karena itu orang dewasa harus menjadi role model perubahan mindset tersebut dengan penuh komitmen dan totalitas.

Kedua, Stategi pendidikan: 1. Meningkatkan mutu guru melalui program penataran/pelatihan dengan mendatangkan tutor profesional, membangun balai-pelatihan guru dan pegawai, Tujuannya adalah mewujudkan guru-guru yang bermutu. Bila guru bermutu, pengajaran bermutu, maka murid-murid juga akan bermutu. 2. Kurikulum SD diisi dengan muatan Budaya lokal (bahasa dan budaya), pengenalan lokasi wisata. 3. Membuat terobosan untuk membuat jurusan pariwisata di SMK-SMK, 4. Membangun sekolah berbasis entrepreneurship di tingkat SMP dan SMA sesuai dengan konteks daerah Nias, seperti memasukkan dalam kurikulum keterampillan pengolahan perikanan, peternakan, atau perdagangan.5. Membangun balai diklat pada setiap jenjang sekolah (dapat disebar di setiap kab/kota: SD dimana, SMP dimana, SMA dimana)6. Studi lanjut bagi guru yang berprestasi (beasiswa pemerintah daerah/LPDP/BPDN)7. Memberikan beasiswa bagi mahasiswa mengambil pendidikan guru di luar daerah8. Menyediakan buku-buku yang bermutu, dengan membangun perpustakaan.

Ketiga, Strategi teknologi informasi: menyediakan fasilitas teknologi informasi berkualitas yang dapat mendukung penyelenggaraan pendidikan, ekonomi warga, penyelenggaraan pemerintahan, dan lain-lain.

Keempat, Strategi politik. Usulan strategi bidang politik terdiri dari:1. Perencanaan SDM perlu ditetapkan oleh pemda sebagai “cetak biru”, misalnya dalam bentuk peraturan daerah. Dengan demikian, siapa pun pemimpin daerahnya, siapa pun kepala dinasnya, kebijakan tetap berlanjut. Pembangunan berkesinambungan harus terjadi. Kemudiaan penggunaan anggaran harus dapat diukur ketercapaiannya, ada dampak untuk masyarakat. 2. Para pengambil kebijakan harus membangun kolaborasi dengan para pemangku kepentingan lain (universitas, LSM, media massa, masyarakat adat, dll) untuk meningkatkan kualitas SDM dengan meningkatkan kemampuan aparatur sipil melalui training maupun peningkatan pendidikan pula.3. Pemerintah harus memiliki komitmen untuk mencetak SDM yang profesional di segala bidang. 4. Pemimpin daerah harus memiliki jiwa kepemimpinan yang berintegritas, berkapasitas dan kompeten. 5. Menyediakan sebuah tempat yang diberi nama, misalnya “Pusat Kreatif dan Inovasi: yang dikhususkan sebagai ruang mengkaji dan meningkatkan sumber daya manusia. 6. Membangun balai pelatihan tenaga kerja bagi masyarakat. Mereka dilatih untuk bisa terampil dalam hal tertentu (terkait pariwisata, perikanan, pertanian, perkebunan, peternakan, kerajinan tangan, pemasaran, dan lain-lain).

Kelima, Strategi ekonomi. 1. Peningkatan daya saing masyarakat dengan training keahlian di bidang peternakan, perikanan, perkebunan, perdagangan, dan lain-lain.2. Membangun industri pariwisata dan menargetkan 10 tahun ke depan akan terwujud. 3. Memberdayakan ekonomi masyarakat dengan mempermudah akses perbankan.

Kelimat strategi tersebut dapat menjadi pedoman para pengambil kebijakan untuk mengatasi kompleksitas permasalahan SDM di Pulau Nias. Implementasi strategi tersebut perlu kerja keras, inovasi dan kreativitas pemerintah daerah. Pemerintah daerah juga perlu memiliki komitmen kuat, keberanian dan terobosan untuk mengeksekusi program-program pengembangan SDM, sehingga Pulau Nias dapat mengejar ketertinggalan di bidang pembangunan sumber daya manusia. Semoga!

Yaahowu-Salam Sejahtera

Moderator/Perangkum: Marinus Waruwu,

DiSKUSI INI ATAS KERJA SAMA